Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan masih menjadi prioritas penanganan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berdasarkan pemantauan per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas area terbakar mencapai 695 hektare, dengan sekitar 253 hektare masih belum padam. BNPB terus memperkuat pemadaman langsung, pemantauan udara, dan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah kebakaran meluas (BNPB, 2026; detikNews, 2026).
Data Karhutla Papua Selatan Menunjukkan Penurunan Titik Api
BNPB mencatat sebanyak 379 titik panas dan 171 titik api di wilayah Papua Selatan. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan pemantauan pada 31 Oktober 2026. Sebelumnya, wilayah tersebut mencatat 943 titik panas, 263 titik api, dan 1.742 hektare area terbakar (detikNews, 2026).
Luas area yang belum padam juga mengalami penurunan dari 577 hektare menjadi sekitar 253 hektare. Meskipun demikian, BNPB masih melanjutkan penanganan karena petugas perlu memastikan kondisi kebakaran melalui pemeriksaan langsung.
Angka luas kebakaran berasal dari pemantauan geospasial dan dapat berubah mengikuti pembaruan informasi serta proses pemetaan di lapangan. Selain itu, titik panas yang terdeteksi melalui satelit belum tentu menunjukkan kebakaran aktif sehingga petugas perlu melakukan verifikasi langsung (BNPB, 2026).
Pemantauan Udara Merauke Menemukan Kepulan Asap dan Titik Api
Pemantauan udara pada 31 Oktober 2026 menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Kabupaten Merauke masih mengalami kebakaran. Kepala BNPB Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani melakukan peninjauan menggunakan helikopter untuk melihat kondisi area terdampak.
Dalam peninjauan tersebut, petugas menemukan beberapa kepulan asap yang masih membumbung dari lokasi kebakaran. Sejumlah titik api juga terlihat dari udara sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan lanjutan.
Peta SiPongi Kementerian Kehutanan turut memperlihatkan sebaran titik panas yang lebih padat di bagian selatan Papua Selatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pemantauan karena petugas masih perlu memastikan lokasi kebakaran dan potensi perluasan api (BNPB, 2026; detikNews, 2026).
BNPB dan BMKG Perkuat Pemadaman melalui Operasi Modifikasi Cuaca
BNPB bersama BMKG mengoptimalkan sejumlah langkah untuk mempercepat penanganan karhutla di Papua Selatan. Upaya tersebut mencakup:
Pemantauan satelit dan drone: Petugas menggunakan teknologi pemantauan untuk mengidentifikasi lokasi titik api dan menentukan kebutuhan penanganan.
Pemadaman langsung: Tim gabungan mempercepat penanganan di lokasi kebakaran melalui koordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, dan Manggala Agni.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): BNPB dan BMKG melakukan penyemaian awan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan dan membantu pembasahan lahan.
Hingga 31 Oktober 2026, operasi modifikasi cuaca telah melaksanakan 13 sorti penerbangan dengan total 13 ton bahan semai garam berupa natrium klorida (NaCl). Operasi tersebut berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026 untuk mendukung penanganan karhutla di Papua Selatan (BNPB, 2026).
BNPB Imbau Masyarakat Tidak Membakar Lahan
BNPB mengingatkan masyarakat dan pemilik perkebunan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi lahan masih kering. Selain merusak lingkungan, asap kebakaran juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
Pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla. BNPB juga mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melaporkan kemunculan asap atau titik api agar petugas dapat melakukan pemeriksaan dan pemadaman lebih cepat (BNPB, 2026).
Penanganan karhutla Papua Selatan membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat. Penurunan luas area terbakar menjadi perkembangan yang perlu dipertahankan melalui pemadaman dan pencegahan kebakaran baru.
Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kebencanaan, lingkungan, dan penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia, pembaca dapat mengikuti artikel berita lainnya di Garap Media.
Referensi
