Bahlil Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang Indonesia dengan Mencontoh China

Last Updated: 3 November 2026, 23:14

Bagikan:

Hilirisasi Logam Tanah Jarang
Indonesia mendorong pengembangan hilirisasi logam tanah jarang dengan mencontoh strategi China untuk meningkatkan nilai tambah dan penguasaan teknologi pengolahan mineral. Sumber gambar: CNN Indonesia/Lidya Julita Sembiring
Table of Contents

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong Indonesia mencontoh China dalam mengembangkan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ). Bahlil menilai pengolahan mineral di dalam negeri tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam, tetapi juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan dan diplomasi global. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Minerba Convex 2026 di JIExpo Convention Center, Jakarta, Senin (2/11/2026) (CNN Indonesia, 2026).

Bahlil Soroti Peran China dalam Hilirisasi Logam Tanah Jarang

Bahlil menilai China berhasil menjadikan industri pengolahan logam tanah jarang sebagai bagian penting dari kekuatan ekonominya. Negara tersebut tidak hanya menjual bahan mineral, tetapi juga mengembangkan produk hasil pengolahan yang dibutuhkan berbagai industri teknologi.

Dalam acara Minerba Convex 2026, Bahlil menjelaskan bahwa produk hilirisasi LTJ turut menjadi faktor dalam hubungan ekonomi dan geopolitik antara China dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan industri mineral dapat memberikan nilai strategis di luar keuntungan perdagangan.

Bahlil juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terus mengandalkan ekspor bahan mentah. Pemerintah perlu mengembangkan industri pengolahan agar sumber daya mineral menghasilkan nilai tambah di dalam negeri (CNN Indonesia, 2026).

Hilirisasi Nikel Menjadi Acuan Pengembangan Industri Mineral

Bahlil menggunakan perkembangan industri nikel sebagai contoh keberhasilan kebijakan hilirisasi Indonesia. Ia menyebut nilai ekspor produk nikel Indonesia meningkat dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017-2019 menjadi US$33 miliar hingga US$34 miliar pada 2023-2024.

Menurut Bahlil, peningkatan tersebut terjadi setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah untuk mengembangkan hilirisasi komoditas mineral lainnya, termasuk LTJ.

Beberapa sektor yang berkaitan dengan pengembangan industri mineral meliputi:

  • Pertambangan: penyediaan bahan baku mineral dari sumber daya domestik.

  • Pengolahan: pemisahan dan pemurnian mineral untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

  • Industri teknologi: pemanfaatan mineral untuk kebutuhan elektronik, energi, dan kendaraan listrik.

  • Perdagangan global: pengembangan produk olahan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok internasional.

Indonesia juga telah mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang mencakup pertambangan, smelter, teknologi high pressure acid leaching (HPAL), produksi prekursor, katoda, hingga sel baterai (CNN Indonesia, 2026).

Perminas Eksplorasi Logam Tanah Jarang di Mamuju, Sulawesi Barat

Rencana pengembangan industri LTJ mulai berjalan melalui kegiatan eksplorasi yang dilakukan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Perusahaan tersebut telah memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi dari Kementerian ESDM pada Juli 2026.

Perminas menjalankan pengeboran di dua blok eksplorasi dengan luas total 200 hektare. Hingga 3 November 2026, perusahaan telah melakukan pengeboran di 72 titik dari target 200 titik. Wilayah konsesi LTJ yang dikelola Perminas di Mamuju mencapai 7.300 hektare.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas, La Ode Tarfin Jaya, menjelaskan bahwa endapan LTJ di Mamuju memiliki karakteristik ion-adsorption clay. Jenis endapan tersebut juga ditemukan di sejumlah wilayah China, Myanmar, dan Brasil. Perminas menargetkan penyelesaian eksplorasi pada 2027 untuk menghitung potensi sumber daya dan cadangan secara lebih terperinci (CNBC Indonesia, 2026).

Tantangan Teknologi Pengolahan Logam Tanah Jarang di Indonesia

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan industri hilirisasi LTJ. Tantangan tersebut mencakup keterbatasan teknologi ekstraksi, pemisahan, dan pemurnian mineral. Proses pengolahan LTJ juga membutuhkan investasi serta penelitian yang mendukung karakteristik mineral di setiap wilayah.

Badan Industri Mineral (BIM) sebelumnya merencanakan pembangunan proyek percontohan hilirisasi LTJ di Mamuju. Proyek tersebut bertujuan mengembangkan teknologi pengolahan sekaligus menarik mitra investasi untuk membangun industri dalam negeri (Bisnis.com, 2026).

Melalui pengembangan teknologi dan eksplorasi sumber daya, pemerintah berupaya membangun rantai industri LTJ dari pertambangan hingga produk olahan. Keberhasilan rencana tersebut masih bergantung pada kepastian cadangan, kesiapan teknologi, investasi, dan pengelolaan lingkungan.

Pembaca dapat mengikuti perkembangan kebijakan energi, pertambangan, dan industri mineral melalui artikel terbaru lainnya di Garap Media.

Selain itu, pembaca dapat membaca berbagai artikel di Garap Media untuk memperoleh informasi mengenai ekonomi nasional, investasi, dan perkembangan industri global.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /