5 Pekerjaan Entry-Level Mulai Tertekan AI, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Last Updated: 2 September 2026, 20:16

Bagikan:

5 Pekerjaan Entry-Level Mulai Tertekan AI, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Table of Contents

Garap Media – Ada sesuatu yang berubah di pintu masuk dunia kerja. Pekerjaan yang dulu menjadi tempat lulusan baru mengumpulkan pengalaman kini mulai menghadapi tekanan dari AI, terutama ketika tugasnya bersifat rutin, digital, dan mudah distandardisasi.

Data Stanford Digital Economy Lab menunjukkan sinyal yang cukup jelas. Hingga Juni 2026, pekerja usia 22–25 tahun di pekerjaan yang sangat terpapar AI memiliki tingkat pekerjaan sekitar 19 persen lebih rendah dibandingkan kondisi yang diperkirakan jika mereka tumbuh sejalan dengan pekerja muda di pekerjaan yang lebih sedikit terpapar AI.

1. Administrasi dan Data Entry

Pekerjaan administrasi menjadi salah satu posisi yang paling mudah terkena otomatisasi karena banyak tugasnya berulang dan berbasis dokumen. Memasukkan data, menyusun informasi, membuat dokumen sederhana, dan mengelola jadwal kini dapat dibantu berbagai sistem digital dan AI. World Economic Forum memasukkan data entry clerks serta sejumlah pekerjaan administrasi dan sekretarial ke dalam kelompok pekerjaan yang diperkirakan mengalami penurunan besar. (World Economic Forum) Bagi lulusan baru, kondisi ini berarti kesempatan memperoleh pekerjaan pertama melalui tugas administratif sederhana bisa semakin terbatas. Perusahaan dapat memilih tim yang lebih kecil ketika sebagian pekerjaan rutin sudah ditangani perangkat lunak.

Perubahan tersebut bukan berarti seluruh pekerjaan administrasi akan hilang dalam waktu singkat. Justru, peran administrasi berpotensi bergeser menjadi pekerjaan yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, pengawasan, dan kemampuan menggunakan teknologi. Pekerja pemula yang hanya mengandalkan kemampuan mengerjakan tugas berulang akan menghadapi persaingan lebih berat. Sebaliknya, mereka yang mampu memahami proses bisnis dan menggunakan AI sebagai alat bantu dapat memiliki nilai lebih. Pintu masuk karier tetap ada, tetapi standar kemampuan yang diminta kemungkinan menjadi lebih tinggi.

2. Customer Service Dasar

Layanan pelanggan juga mulai berubah karena chatbot dan AI dapat menangani pertanyaan sederhana sepanjang waktu. Pertanyaan mengenai status pesanan, prosedur pembayaran, informasi produk, hingga permintaan yang memiliki pola sama dapat diproses secara otomatis. Bagi perusahaan, otomatisasi semacam ini menarik karena mampu menangani volume pertanyaan besar tanpa menambah jumlah staf secara proporsional. Namun, pelanggan tetap membutuhkan manusia ketika menghadapi masalah rumit atau situasi yang membutuhkan empati. Karena itu, tekanan terbesar kemungkinan terjadi pada posisi entry-level yang pekerjaannya hanya menangani pertanyaan standar.

Perubahan tersebut akan membuat kemampuan komunikasi manusia menjadi semakin penting. Pekerja customer service masa depan tidak cukup hanya mengetahui jawaban, tetapi juga harus mampu menangani pelanggan yang frustrasi dan menyelesaikan kasus yang tidak biasa. AI dapat menjadi lapisan pertama, sedangkan manusia menangani masalah yang membutuhkan penilaian. Model seperti ini berpotensi mengurangi jumlah posisi pemula sekaligus meningkatkan tuntutan keterampilan bagi mereka yang direkrut. Karier di bidang layanan pelanggan tetap mungkin berkembang, tetapi jalurnya akan semakin membutuhkan kemampuan di luar pekerjaan rutin.

3. Junior Software Developer

Industri teknologi menjadi salah satu contoh paling menarik karena AI justru berkembang dari industri yang paling cepat mengadopsinya. AI coding tools dapat membantu membuat kode, mencari kesalahan, menjelaskan program, dan mengerjakan tugas pengembangan sederhana. Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa pekerjaan software developer bagi kelompok usia 22–25 tahun mengalami penurunan hampir 20 persen sejak 2024. (Stanford HAI) Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa AI menyebabkan seluruh penurunan, tetapi menunjukkan adanya tekanan yang kuat pada pekerja muda di pekerjaan yang sangat terpapar AI. Perusahaan kini dapat meminta lebih banyak output dari tim yang relatif kecil.

Namun, software developer tidak otomatis menjadi profesi yang tidak dibutuhkan. Justru, kemampuan memahami arsitektur sistem, keamanan, kebutuhan pengguna, dan kualitas perangkat lunak tetap membutuhkan pengetahuan manusia. Tantangannya adalah lulusan baru mungkin tidak lagi bisa mengandalkan tugas sederhana sebagai satu-satunya cara masuk industri. Mereka harus menunjukkan kemampuan memecahkan masalah dan memahami teknologi secara lebih menyeluruh. AI dapat membuat pekerjaan coding lebih cepat, tetapi manusia tetap diperlukan untuk menentukan apa yang seharusnya dibangun dan bagaimana sistem tersebut digunakan.

4. Junior Marketing dan Content

Marketing juga menghadapi perubahan karena AI dapat menghasilkan draf artikel, ide kampanye, ringkasan data, hingga variasi materi pemasaran dalam waktu singkat. Pekerjaan junior yang sebelumnya banyak berisi tugas produksi dasar dapat menjadi lebih mudah diotomatisasi. World Economic Forum menyebut AI berpotensi memberikan dampak besar terhadap pekerjaan white-collar dan entry-level karena sejumlah tugas yang sebelumnya menjadi latihan bagi pekerja pemula dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. (World Economic Forum) Akibatnya, perusahaan mungkin lebih membutuhkan orang yang mampu menentukan strategi daripada sekadar menghasilkan konten dalam jumlah besar. Ini dapat mengubah cara pekerja muda membangun portofolio dan pengalaman.

Di sisi lain, kreativitas manusia tetap memiliki nilai karena pemasaran membutuhkan pemahaman terhadap budaya, audiens, emosi, dan konteks. AI dapat menghasilkan banyak pilihan, tetapi manusia tetap harus menentukan pesan yang paling tepat. Kemampuan membaca tren, memahami konsumen, menyusun strategi, dan mengevaluasi hasil kampanye dapat menjadi pembeda. Jadi, masa depan pekerja marketing bukan berarti melawan AI, melainkan menjadi orang yang mampu mengarahkan AI. Perubahan tersebut akan membuat kemampuan strategis semakin penting sejak awal karier.

5. Junior Analyst dan Riset Dasar

Pekerjaan analis pemula juga menghadapi tantangan karena AI semakin mampu mencari, merangkum, mengelompokkan, dan membandingkan informasi. Tugas yang dahulu diberikan kepada junior analyst sebagai latihan awal dapat diproses lebih cepat menggunakan AI. World Economic Forum mencatat bahwa AI dapat mengotomatisasi sebagian besar tugas dalam sejumlah pekerjaan white-collar, termasuk pekerjaan yang sebelumnya menjadi jalur awal menuju posisi lebih senior. (World Economic Forum) Jika tugas dasar semakin sedikit, perusahaan mungkin membutuhkan lebih sedikit pekerja untuk mengerjakan pekerjaan entry-level. Konsekuensinya, kompetisi untuk mendapatkan posisi pertama dapat menjadi semakin ketat.

Namun, kebutuhan terhadap analis tidak otomatis menghilang. Ketika AI menghasilkan semakin banyak informasi, perusahaan justru membutuhkan orang yang mampu memeriksa kualitas data dan memahami maknanya. Kemampuan berpikir analitis, membuat pertanyaan yang tepat, menguji hasil AI, dan menyusun rekomendasi akan menjadi semakin penting. Laporan WEF juga menunjukkan bahwa kemampuan analitis dan berbagai keterampilan manusia tetap menjadi kebutuhan utama perusahaan. Pekerja pemula yang mampu menggabungkan analisis dengan literasi AI akan memiliki posisi yang lebih kuat.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Tekanan terhadap pekerjaan entry-level tidak berarti generasi muda akan kehilangan seluruh kesempatan kerja. WEF memproyeksikan 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta secara global hingga 2030, meskipun sekitar 92 juta pekerjaan juga diperkirakan terdampak atau tergantikan, sehingga terdapat kenaikan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Masalahnya adalah pekerjaan baru tersebut tidak selalu berada di tempat yang sama atau membutuhkan keterampilan yang sama. Inilah yang membuat transisi menjadi lebih sulit bagi pekerja muda.

Perubahan paling besar kemungkinan terjadi pada tangga karier. Jika pekerjaan pemula yang selama ini menjadi tempat belajar semakin berkurang, perusahaan, kampus, dan pekerja perlu menemukan cara baru untuk membangun pengalaman. WEF mencatat bahwa lowongan entry-level global telah menurun sejak 2024, meskipun AI bukan satu-satunya penyebab karena kondisi ekonomi dan kehati-hatian perusahaan juga berperan. Stanford juga menemukan bahwa tekanan AI terhadap pekerja muda terutama muncul melalui berkurangnya perekrutan, bukan semata-mata gelombang PHK.

Penutup

AI belum membuat pekerjaan entry-level menghilang, tetapi teknologi ini mulai mengubah cara seseorang memulai karier. Administrasi, customer service dasar, software development junior, marketing, dan pekerjaan analis menjadi contoh bidang yang menghadapi perubahan karena sebagian tugasnya dapat dikerjakan AI.

Karena itu, tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar mencari pekerjaan yang bebas AI. Tantangannya adalah memiliki kemampuan yang membuat AI menjadi alat produktivitas, bukan pengganti nilai diri. Pekerja yang mampu menggabungkan literasi AI dengan kemampuan analitis, komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah akan lebih siap menghadapi pasar kerja yang semakin berubah.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /