Sungai Barito mengering di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah akibat penurunan debit air selama puncak musim kemarau 2026. Kondisi tersebut membuat hamparan pasir dan daratan muncul di tengah aliran, terutama di sekitar Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan. Penyusutan air juga membuat kapal pengangkut barang dan tongkang kesulitan melintas sehingga aktivitas transportasi sungai ikut terganggu. (detikNews, 2026).
Sungai Barito Mengering di Tengah Puncak Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa puncak musim kemarau menjadi faktor utama penyusutan debit Sungai Barito. Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menyebut curah hujan di Kalimantan Tengah berada dalam kategori rendah pada dasarian pertama Agustus 2026. (detikNews, 2026).
Kondisi tersebut membuat pasokan air ke sungai berkurang secara signifikan. BMKG juga mencatat sejumlah wilayah Kalimantan Tengah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi yang cukup panjang.
Fenomena kekeringan tersebut memberikan beberapa dampak langsung terhadap Sungai Barito:
- debit air sungai mengalami penurunan;
- dasar sungai mulai terlihat di sejumlah lokasi;
- hamparan pasir muncul di tengah aliran;
- jalur pelayaran menjadi semakin dangkal; dan
- transportasi sungai mengalami gangguan.
BMKG juga mengaitkan kondisi tersebut dengan pola cuaca yang lebih kering di Kalimantan Tengah. Penurunan curah hujan membuat aliran air dari wilayah hulu ikut berkurang sehingga debit Sungai Barito semakin menyusut. (detikNews, 2026).
Hamparan Pasir Muncul di Jembatan Kalahien Barito Selatan
Penyusutan Sungai Barito terlihat jelas di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Gosong pasir muncul di tengah sungai dan membuat aliran air terlihat terpecah. Pemandangan tersebut membuat sebagian area sungai terlihat menyerupai hamparan pantai atau gurun pasir. (detikNews, 2026).
Warga setempat menyebut kondisi tersebut mulai terlihat semakin parah sejak awal Agustus 2026. Kemunculan daratan di tengah aliran menjadi salah satu tanda bahwa debit Sungai Barito terus mengalami penyusutan. (detikNews, 2026).
Fenomena tersebut tidak hanya mengubah kondisi fisik sungai. Pendangkalan juga mengurangi ruang pelayaran bagi kapal yang membutuhkan kedalaman air lebih besar.
Transportasi Sungai Barito Terganggu akibat Pendangkalan
Penurunan debit air memberikan dampak langsung terhadap aktivitas transportasi di Sungai Barito. Kapal pengangkut barang dan tongkang mengalami kesulitan ketika melewati bagian sungai yang dangkal. Operator kapal juga harus mencari alur yang masih memiliki kedalaman cukup untuk menjaga perjalanan tetap aman. (detikNews, 2026).
Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi Sungai Barito sebagai jalur mobilitas dan distribusi barang. Sungai Barito memiliki peran penting bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang alirannya, terutama wilayah yang masih mengandalkan transportasi air.
Sejumlah aktivitas yang terdampak meliputi:
- perjalanan kapal pengangkut barang;
- distribusi kebutuhan masyarakat;
- pengangkutan komoditas melalui jalur sungai;
- mobilitas masyarakat antarkawasan; dan
- aktivitas ekonomi yang bergantung pada transportasi air.
DetikNews melaporkan bahwa kapal berukuran besar mengalami kesulitan melintas di sejumlah bagian sungai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyusutan debit air tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi regional. (detikNews, 2026).
Curah Hujan Rendah Memperparah Penyusutan Sungai Barito
BMKG mencatat curah hujan Kalimantan Tengah berada pada kategori rendah pada awal Agustus 2026. Kondisi tersebut memperkecil tambahan pasokan air yang masuk ke badan Sungai Barito. (detikNews, 2026).
Data BMKG juga menunjukkan wilayah Kalimantan Tengah didominasi curah hujan rendah pada analisis Juli 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa periode kering telah memberikan tekanan terhadap ketersediaan air di wilayah tersebut. (BMKG, 2026).
Penyusutan debit sungai dapat semakin besar apabila periode tanpa hujan berlangsung lebih lama. Pendangkalan juga berpotensi semakin meluas apabila hujan dengan intensitas yang mampu meningkatkan debit sungai belum terjadi.
Dampak Sungai Barito Mengering terhadap Ekonomi Regional
Sungai Barito mengering tidak hanya menghasilkan perubahan pemandangan. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat yang menggunakan jalur sungai. (detikNews, 2026).
Gangguan transportasi dapat meningkatkan waktu perjalanan dan membatasi kapasitas angkutan. Pelaku usaha juga dapat menghadapi tantangan ketika kapal berukuran besar tidak mampu melewati jalur tertentu.
Kondisi tersebut membuat pemantauan debit air menjadi penting selama musim kemarau. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca serta kondisi jalur sungai untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.
Sungai Barito mengering setelah debit air mengalami penurunan selama puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah. Hamparan pasir yang muncul di sekitar Jembatan Kalahien menjadi tanda nyata penyusutan badan sungai. Kondisi tersebut juga menghambat transportasi air dan berpotensi memengaruhi distribusi barang di wilayah sekitar. (detikNews, 2026).
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi cuaca dapat memberikan dampak langsung terhadap lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Pembaca dapat mengikuti perkembangan berita lingkungan, cuaca, dan kondisi wilayah Indonesia melalui Garap Media serta membaca artikel lain untuk memperoleh informasi terbaru.
Referensi
