Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Kalimantan kembali menimbulkan dampak lintas batas setelah kabut asap bergerak menuju Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut memperburuk kualitas udara di sejumlah wilayah dan mendorong pemerintah Sarawak menutup ratusan sekolah untuk melindungi siswa dari paparan asap. Data pemantauan regional juga menunjukkan jumlah titik panas di Kalimantan jauh lebih banyak dibandingkan wilayah Sarawak. (Jatimnet, 2026).
Karhutla Kalimantan Mengirim Kabut Asap hingga Sarawak
Karhutla Kalimantan memberikan dampak langsung terhadap kualitas udara di Sarawak. Pergerakan angin membawa asap dari wilayah Kalimantan menuju bagian barat Sarawak sehingga sejumlah wilayah Malaysia mengalami penurunan kualitas udara. (Jatimnet, 2026).
Pemantauan Natural Resources and Environment Board Sarawak mencatat perbedaan jumlah titik panas antara Kalimantan dan Sarawak. Data berbasis pemantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre mencatat 7.286 titik panas di Kalimantan selama periode 1–19 Agustus 2026. Pada periode yang sama, Sarawak hanya mencatat 148 titik panas. (Jatimnet, 2026).
Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya aktivitas kebakaran di Kalimantan selama periode tersebut. Kondisi angin kemudian membawa sebagian asap menuju wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan.
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Menutup 591 Sekolah di Sarawak
Kabut asap karhutla Kalimantan mengganggu aktivitas pendidikan di Sarawak. Pemerintah Sarawak menutup 591 sekolah pada 20–21 Agustus 2026 karena kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah. Kebijakan tersebut berdampak terhadap 197.323 siswa yang mengikuti pendidikan di 10 distrik. (Jatimnet, 2026).
Departemen Pendidikan Sarawak membagi sekolah terdampak menjadi beberapa kelompok:
- 509 sekolah dasar terdampak penutupan.
- 82 sekolah menengah terdampak penutupan.
- 107.590 murid sekolah dasar terdampak kebijakan.
- 89.733 pelajar sekolah menengah terdampak kebijakan.
Pemerintah Sarawak menerapkan kebijakan tersebut sebagai langkah pencegahan. Pemerintah daerah menggunakan National Haze Action Plan sebagai dasar penanganan ketika indeks pencemaran udara atau API mencapai tingkat tertentu. (Jatimnet, 2026).
Kualitas Udara Sarawak Memburuk akibat Pergerakan Asap
Kualitas udara Sarawak mengalami penurunan ketika asap bergerak dari wilayah Kalimantan. Data pemantauan pada 20 Agustus 2026 menunjukkan API Serian kembali mencapai 204, sedangkan Kuching mencapai 195 dan Samarahan mencapai 182. Kondisi tersebut menunjukkan risiko kesehatan yang meningkat bagi masyarakat di wilayah terdampak. (Jatimnet, 2026).
Kondisi kualitas udara juga sempat mengalami perbaikan setelah hujan turun. Namun, peningkatan kabut asap kembali terjadi ketika kondisi cuaca panas dan kering berlangsung.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada wilayah yang mengalami kebakaran. Asap dapat berpindah mengikuti pola angin dan memengaruhi wilayah negara lain yang berada di sekitar sumber kebakaran.
Karhutla Kalimantan Memasuki Periode Risiko Tinggi
Pemerintah Indonesia menghadapi peningkatan risiko karhutla pada periode Agustus hingga September 2026. BNPB menyebut prakiraan BMKG menunjukkan peningkatan risiko kebakaran terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Enam provinsi menjadi wilayah prioritas penanganan, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. (Sewaktu.id, 2026).
Data BNPB hingga 9 Agustus 2026 menunjukkan luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar dengan sekitar 28.680,47 hektare, kemudian Riau mencatat 15.551,76 hektare dan Kalimantan Tengah mencatat sekitar 3.069,52 hektare. (Sewaktu.id, 2026).
Besarnya luasan tersebut membuat pemerintah perlu memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla. Upaya tersebut penting untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap masyarakat sekaligus mencegah penyebaran asap menuju negara tetangga.
DPR Soroti Peran Malaysia dan Singapura dalam Pencegahan Karhutla
Dampak kabut asap lintas batas juga mendapat perhatian DPR. Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang mengatakan Malaysia dan Singapura memiliki perkebunan di Indonesia sehingga kedua negara juga dapat berperan dalam upaya pencegahan kebakaran. (Kompas.com, 2026).
Marwan meminta negara tetangga tidak hanya menyampaikan protes ketika asap memasuki wilayah mereka. Ia juga mendorong negara yang memiliki aktivitas perkebunan di Indonesia untuk ikut melakukan pencegahan kebakaran.
Namun, pemerintah Indonesia tetap memiliki tanggung jawab utama untuk mengendalikan karhutla di dalam negeri. Penanganan tersebut mencakup pencegahan pembakaran terbuka, pemadaman titik api, pengawasan wilayah rawan, dan koordinasi dengan negara terdampak.
Karhutla Kalimantan Menjadi Masalah Lintas Negara
Karhutla Kalimantan kini tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan di Indonesia. Pergerakan asap menuju Sarawak menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat menciptakan dampak lintas batas yang mengganggu kesehatan, pendidikan, dan aktivitas masyarakat. (Jatimnet, 2026).
Penutupan 591 sekolah di Sarawak menjadi salah satu contoh nyata dampak tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan negara tetangga.
Karhutla Kalimantan kembali menunjukkan dampak serius ketika kabut asap bergerak menuju Sarawak, Malaysia. Penutupan 591 sekolah dan terganggunya aktivitas hampir 200 ribu siswa memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat memberikan konsekuensi jauh di luar wilayah sumber api. (Jatimnet, 2026).
Pencegahan karhutla membutuhkan pengawasan berkelanjutan karena periode panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Pembaca dapat mengikuti perkembangan lingkungan, bencana, dan isu regional melalui Garap Media. Pembaca juga dapat membaca artikel lainnya untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi Indonesia dan negara tetangga.
Referensi
