Garap Media – Mark Zuckerberg pernah membayangkan perubahan besar di Meta dengan menjadikan kecerdasan buatan sebagai bagian utama dari cara perusahaan bekerja. Rencana bernama Project OT (Organization Transformation) tersebut dirancang untuk membuat Meta menjadi perusahaan yang lebih “AI native”, dengan AI mengambil alih sebagian pekerjaan rutin dan tim manusia dibuat jauh lebih kecil. Dalam skenario internal, ukuran sejumlah tim bahkan dipertimbangkan untuk dipangkas hingga 60 persen. Namun, rencana itu justru menghadapi penolakan karyawan, persoalan produktivitas, serta masalah keandalan teknologi. Reuters melaporkan Zuckerberg akhirnya membatalkan gelombang restrukturisasi kedua hanya beberapa jam sebelum PHK tahap pertama dilakukan pada Mei 2026.
Zuckerberg Ingin Meta Menjadi Perusahaan AI Native
Project OT lahir dari ambisi Meta untuk mengubah struktur organisasi agar lebih sesuai dengan era kecerdasan buatan. Dalam konsep tersebut, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh tim besar akan dibantu atau dikerjakan oleh agen AI, sementara manusia ditempatkan dalam kelompok kecil yang disebut “pods”. Reuters melaporkan, sejumlah skenario internal bahkan mempertimbangkan pengurangan ukuran beberapa tim hingga 60 persen. Model tersebut bertujuan membuat perusahaan bergerak lebih cepat dengan lebih sedikit lapisan manajemen. Meta juga ingin mengarahkan sebagian tenaga kerja ke bidang yang dianggap lebih strategis, termasuk pengembangan AI dan pembuatan data pelatihan.
Konsep AI native sebenarnya sudah mulai diuji Meta sebelum Project OT dibuat secara resmi. Sejumlah tim bereksperimen dengan kelompok kecil yang terdiri dari beberapa engineer dan desainer untuk membuat produk melalui siklus kerja yang lebih cepat. Dalam pendekatan tersebut, batas antara pekerjaan engineer, desainer, dan spesialis lain menjadi semakin fleksibel. Meta bahkan memperkenalkan gagasan bahwa anggota tim dapat berperan sebagai “builder” dengan bantuan berbagai alat AI. Struktur organisasi juga diarahkan menjadi lebih datar dengan mengurangi lapisan manajemen. Eksperimen itu kemudian berkembang menjadi gagasan yang lebih besar mengenai bagaimana AI dapat mengubah seluruh cara perusahaan bekerja.
Rencana PHK Besar Mulai Memicu Perlawanan
Masalah muncul ketika rencana transformasi AI mulai dikaitkan dengan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pada tahap awal, Meta berencana menjalankan restrukturisasi dalam dua gelombang, yakni pada Mei dan November 2026. Reuters melaporkan perusahaan akhirnya melakukan pengurangan sekitar 10 persen tenaga kerja pada Mei, tetapi rencana gelombang kedua dibatalkan sebelum dilaksanakan. Keputusan tersebut muncul setelah karyawan menunjukkan penolakan terhadap arah transformasi perusahaan. Banyak pekerja khawatir mereka justru sedang membantu membangun teknologi yang nantinya akan menggantikan pekerjaan mereka sendiri.
Kekhawatiran itu semakin besar setelah muncul berbagai perubahan internal yang berkaitan dengan AI. Sejumlah pekerja dipindahkan ke unit yang bertugas membuat materi pelatihan untuk meningkatkan kemampuan AI dalam pekerjaan pemrograman. Sebagian karyawan menilai tugas tersebut monoton dan tidak sesuai dengan pekerjaan yang sebelumnya mereka lakukan. Meta juga sempat menggunakan sistem pemantauan aktivitas komputer dalam upaya mengumpulkan informasi untuk melatih agen AI meniru cara manusia menggunakan komputer. Kebijakan tersebut memicu kemarahan karena karyawan merasa aktivitas mereka digunakan untuk membangun sistem yang berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap tenaga manusia.
AI Ternyata Belum Seproduktif yang Dibayangkan
Masalah lain datang dari performa teknologi itu sendiri. Meta memang melihat peningkatan besar dalam jumlah kode yang dibuat menggunakan bantuan AI, tetapi kenaikan tersebut tidak otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas yang sama besar. Reuters melaporkan perubahan kode pada sejumlah platform internal meningkat 220 persen secara tahunan, sementara perubahan yang menghasilkan fitur baru atau peningkatan fitur bagi pengguna hanya meningkat 36 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak kode tidak selalu berarti lebih banyak hasil yang bermanfaat. Perusahaan justru dapat menghadapi pekerjaan tambahan untuk memeriksa, memperbaiki, dan mengelola hasil yang dibuat AI.
Agen AI juga disebut menimbulkan persoalan keandalan dan keamanan di lingkungan internal Meta. Beberapa catatan internal menunjukkan aktivitas otomatis yang tidak terkendali dapat menghasilkan tindakan berskala besar yang tidak biasa dilakukan manusia. Reuters melaporkan insiden teknis dan keamanan meningkat 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara waktu yang digunakan karyawan untuk menangani masalah atau “firefighting” meningkat 70 persen. Kondisi tersebut menjadi masalah serius bagi perusahaan yang ingin menjadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi. Alih-alih mengurangi pekerjaan, sistem yang belum matang justru dapat menciptakan pekerjaan baru untuk memperbaiki kesalahan.
Zuckerberg Akhirnya Mengubah Arah
Tekanan dari karyawan dan hasil teknologi yang belum sesuai harapan membuat Zuckerberg mengambil langkah mundur. Hanya beberapa jam sebelum PHK pertama pada Mei, CEO Meta tersebut membatalkan rencana restrukturisasi gelombang kedua yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada November. Meta tetap menjalankan pengurangan sekitar 10 persen tenaga kerja, tetapi Zuckerberg kemudian memberi pesan kepada karyawan bahwa ia tidak mengharapkan PHK perusahaan secara besar-besaran lainnya pada tahun tersebut. Langkah itu menunjukkan bahwa transformasi AI ternyata tidak dapat dijalankan hanya dengan memangkas jumlah pekerja. Perusahaan harus mempertimbangkan kesiapan teknologi, organisasi, dan manusia secara bersamaan.
Pada Juli, Zuckerberg juga mengakui bahwa teknologi agen AI belum berkembang secepat yang sebelumnya ia perkirakan. Dalam pertemuan internal, ia mengatakan teknologi tersebut belum memberikan percepatan seperti yang diharapkan, meskipun ia masih memperkirakan kemampuannya akan meningkat dalam beberapa bulan berikutnya. Meta kemudian mengubah narasi publiknya dengan menekankan bahwa AI seharusnya membantu manusia, bukan sekadar menggantikan pekerja. Zuckerberg bahkan menyebut masa depan dapat menghasilkan lebih banyak perusahaan dengan jumlah karyawan yang lebih kecil. Perubahan pesan tersebut memperlihatkan bahwa Meta masih percaya pada AI, tetapi pendekatannya terhadap tenaga kerja menjadi lebih berhati-hati.
AI Tetap Jadi Investasi Besar Meta
Meski Project OT tidak berjalan sesuai rencana, Meta sama sekali tidak meninggalkan ambisi AI. Perusahaan masih menggelontorkan investasi sangat besar untuk membangun pusat data, membeli chip, dan mengembangkan infrastruktur yang dibutuhkan model AI. Reuters melaporkan Meta berencana menginvestasikan sedikitnya US$130 miliar untuk infrastruktur dan chip AI pada 2026. Besarnya investasi tersebut menciptakan tekanan tambahan bagi perusahaan untuk memastikan teknologi yang dibangun benar-benar menghasilkan keuntungan dan produktivitas. Dengan kata lain, Meta kini menghadapi tantangan ganda antara mempertahankan keunggulan AI dan memastikan investasi tersebut memiliki hasil ekonomi yang masuk akal.
Kasus Meta juga memperlihatkan bahwa AI tidak otomatis membuat organisasi menjadi lebih efisien hanya karena lebih banyak pekerjaan dapat diotomatisasi. Perusahaan harus mendesain ulang proses kerja, menentukan tanggung jawab manusia dan mesin, serta memastikan sistem AI dapat bekerja secara aman. Jika penerapan dilakukan terlalu cepat, biaya pengawasan dan perbaikan dapat menghapus sebagian keuntungan dari otomatisasi. Pengalaman Meta menjadi contoh bahwa transformasi AI membutuhkan lebih dari sekadar membeli teknologi dan mengurangi jumlah pekerja. Keberhasilan akhirnya bergantung pada bagaimana manusia dan AI ditempatkan dalam struktur kerja yang baru.
Penutup
Rencana Mark Zuckerberg untuk menjadikan Meta sebagai perusahaan AI native menunjukkan betapa besar keyakinan Silicon Valley terhadap masa depan kecerdasan buatan. Namun, perjalanan Project OT juga membuktikan bahwa mengganti sebagian pekerjaan manusia dengan AI jauh lebih rumit daripada sekadar memangkas jumlah karyawan. Penolakan internal, masalah produktivitas, gangguan teknis, serta kesiapan agen AI yang belum sesuai harapan membuat Meta harus mengubah strategi. Bagi perusahaan lain, kasus Meta menjadi pelajaran penting: AI mungkin dapat mengubah dunia kerja, tetapi perusahaan yang terlalu cepat mengganti manusia sebelum teknologinya matang justru berisiko menciptakan masalah baru.
Sumber Referensi
- Mark Zuckerberg had a bold plan to replace Meta staff with AI. Here’s how it imploded.
https://www.reuters.com/investigations/mark-zuckerberg-had-bold-plan-replace-meta-staff-with-ai-heres-how-it-imploded-2026-08-26/ - How Meta’s AI workforce transformation plans went kaput
https://www.reuters.com/technology/artificial-intelligence/how-metas-ai-workforce-transformation-plans-went-kaput-2026-08-26/ - Meta’s AI dream reels on more than lab-rat revolt
https://www.reuters.com/commentary/breakingviews/metas-ai-dream-reels-more-than-lab-rat-revolt-2026-08-26/
