Polresta Bandara Soekarno-Hatta membongkar jaringan peredaran narkotika jenis etomidate dan menangkap 14 orang dalam rangkaian pengungkapan kasus tersebut. Penyidik mengembangkan perkara dari peredaran vape mengandung etomidate hingga menelusuri pihak yang berperan dalam distribusi barang terlarang tersebut. (Tribrata News, 2026)
Jaringan Narkotika Soetta Terungkap dari Peredaran Vape Etomidate
Pengungkapan jaringan bermula dari penyelidikan Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta terhadap peredaran vape yang mengandung etomidate. Polisi kemudian melakukan pembuntutan terhadap sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam distribusi barang tersebut.
Penyidik menangkap dua perempuan berinisial RR dan RN pada 14 September 2026. Polisi menemukan 27 cartridge vape yang diduga mengandung etomidate dari penangkapan tersebut.
Pengembangan pemeriksaan kemudian mengarah kepada seorang warga negara China berinisial XC. Polisi menangkap XC dan menyita 71 cartridge vape yang diduga mengandung zat serupa. Total barang bukti dari rangkaian pengungkapan awal mencapai 99 cartridge. (Tribrata News, 2026)
Polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Sementara itu, seorang pengguna berinisial JP atau dikenal sebagai Jule menjalani program rehabilitasi setelah hasil pemeriksaan menunjukkan penggunaan etomidate. (Tribrata News, 2026)
Polresta Soetta Menelusuri Peran Setiap Anggota Jaringan
Penyidik tidak menghentikan pemeriksaan setelah menangkap pelaku tingkat pengedar. Polisi memperluas penyelidikan untuk mengetahui sumber pasokan, jalur distribusi, dan pihak lain yang mengendalikan peredaran etomidate.
Jaringan tersebut diduga menggunakan pola distribusi tertutup. Pelaku memasarkan produk melalui jaringan pertemanan dan komunikasi dari mulut ke mulut sehingga transaksi tidak berlangsung secara terbuka. (Tribrata News, 2026)
Polisi menyebut jaringan tersebut telah beroperasi sejak Juli 2026. Pelaku memperoleh keuntungan sekitar Rp700.000 untuk setiap cartridge yang berhasil diedarkan. (Tribrata News, 2026)
Pengembangan kasus juga memperlihatkan bahwa peredaran etomidate tidak berdiri sebagai satu perkara tunggal. Kepolisian menemukan beberapa jaringan lain yang menggunakan cartridge vape sebagai media penyebaran zat tersebut di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Laboratorium Etomidate PIK 2 Memproduksi Ribuan Cartridge
Pengungkapan jaringan etomidate kemudian berkembang pada kasus berbeda di kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang. Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat menemukan laboratorium rahasia atau clandestine lab yang diduga memproduksi cairan etomidate untuk cartridge vape.
Polisi menangkap seorang warga negara China berinisial CF setelah melakukan penyelidikan dari informasi masyarakat. Penyidik menemukan bahan baku, cairan yang diduga etomidate, peralatan produksi, cartridge kosong, serta pod yang telah terisi. (Tribrata News, 2026)
Barang bukti yang ditemukan mencakup 1.300 gram bahan yang diduga sebagai bahan baku etomidate dan sekitar 11.000 mililiter cairan yang diduga mengandung zat tersebut. Penyidik memperkirakan seluruh bahan dapat menghasilkan sekitar 20.514 cartridge atau pod. (Tribrata News, 2026)
Polisi menduga CF menjalankan aktivitas produksi berdasarkan instruksi seseorang berinisial AC. Penyidik kemudian memasukkan AC dalam daftar pencarian orang dan melanjutkan pengembangan untuk mengungkap jaringan yang lebih luas. (Tribrata News, 2026)
Polisi Mengembangkan Kasus Etomidate hingga Jaringan Internasional
Bareskrim Polri juga mengungkap jaringan etomidate yang memiliki kaitan dengan Malaysia. Polisi bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggagalkan peredaran sekitar 5 kilogram etomidate asal Malaysia pada akhir September 2026.
Pengungkapan tersebut mengarah kepada sebuah apartemen di Jakarta Utara yang diduga digunakan sebagai laboratorium rahasia. Polisi mengamankan tujuh orang yang terdiri dari lima warga negara Malaysia, satu warga negara Indonesia, dan satu warga negara China. (Tribrata News, 2026)
Penyidik menemukan sekitar 85.000 mililiter bahan baku cair di lokasi tersebut. Berdasarkan perhitungan awal, bahan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 42.500 pod dengan asumsi setiap pod memiliki kapasitas 2 mililiter. (Tribrata News, 2026)
Rangkaian pengungkapan tersebut menunjukkan bahwa aparat tidak hanya mengejar pengguna atau pengedar tingkat bawah. Penyidik juga menelusuri sumber bahan, lokasi produksi, pengendali jaringan, serta jalur distribusi lintas wilayah dan negara.
Etomidate Menjadi Fokus Pengawasan Narkotika Baru
Etomidate merupakan obat anestesi yang memiliki penggunaan medis. Penggunaan zat tersebut di luar prosedur medis menjadi perhatian aparat karena produk ilegal dapat memiliki komposisi dan kadar yang tidak terkontrol. Etomidate juga telah masuk dalam daftar Narkotika Golongan II berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025. (Tribrata News, 2026)
Penggunaan etomidate melalui vape menambah tantangan penegakan hukum. Modus tersebut mengubah zat menjadi produk yang menyerupai cairan rokok elektronik sehingga dapat menyamarkan bentuk peredarannya.
Kepolisian karena itu terus mengembangkan penyidikan terhadap jaringan yang memproduksi dan mengedarkan etomidate. Pengembangan tersebut bertujuan menemukan pihak yang memasok bahan, mengendalikan produksi, dan mendistribusikan produk kepada pengguna.
Pengungkapan Jaringan Soetta Berlanjut ke Pengembangan Kasus
Pengungkapan Polresta Bandara Soekarno-Hatta menjadi bagian dari rangkaian penindakan terhadap peredaran etomidate di Jakarta dan sekitarnya. Penangkapan 14 orang dalam perkara yang diberitakan menunjukkan luasnya pengembangan penyidikan terhadap jaringan tersebut.
Polisi masih menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan peredaran narkotika. Pengembangan perkara juga diperlukan untuk mengetahui hubungan antara pemasok, produsen, pengedar, dan pengguna berdasarkan bukti penyidikan yang tersedia.
Pembaca dapat mengikuti perkembangan kasus hukum, keamanan, dan kebijakan publik melalui Garap Media. Berbagai artikel terbaru dapat membantu pembaca memahami perkembangan penegakan hukum terhadap jaringan narkotika di Indonesia.
Garap Media juga menghadirkan artikel lain mengenai isu sosial, hukum, dan keamanan yang berdampak terhadap masyarakat. Pembaca dapat mengikuti artikel terkait untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai pengungkapan kasus dan perkembangan penegakan hukum nasional.
Referensi
