Bandara Soekarno-Hatta atau Bandara Soetta sempat menghentikan seluruh operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada September 2026. Penutupan selama dua hari tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar Rp40 miliar bagi PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. (detikFinance, 2026)
Bandara Soetta Ditutup Total akibat Sebaran Abu Vulkanik
Penutupan Bandara Soetta terjadi karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke wilayah ruang udara dan kawasan bandara. Otoritas penerbangan menerbitkan NOTAM sebagai dasar penghentian sementara aktivitas penerbangan demi menjaga keselamatan operasional.
Bandara Soetta awalnya ditutup pada Minggu, 6 September 2026. Pemerintah kemudian memperpanjang penutupan setelah pemantauan menunjukkan dampak abu vulkanik masih memengaruhi kondisi penerbangan. (Kementerian Perhubungan, 2026)
Penutupan tersebut menjadi kejadian yang cukup signifikan bagi Bandara Soetta. Direktur Operasi InJourney Airports Agus Haryadi menyebut operasional bandara belum pernah mengalami penutupan total selama masa kerjanya sejak 1992, termasuk ketika pandemi COVID-19. (detikFinance, 2026)
Kerugian Bandara Soetta Mencapai Rp40 Miliar Selama Dua Hari
InJourney Airports memperkirakan penutupan Bandara Soetta menimbulkan kerugian sekitar Rp40 miliar. Nilai tersebut merupakan estimasi dampak operasional selama dua hari ketika aktivitas penerbangan berhenti akibat kondisi abu vulkanik.
Agus Haryadi menyebut nilai kerugian tersebut sebagai konsekuensi dari penghentian operasional. Namun, perusahaan tetap menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama dibandingkan potensi kerugian finansial. (detikFinance, 2026)
Dampak penutupan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan pengelola bandara. Gangguan tersebut juga memengaruhi maskapai, penumpang, layanan darat, serta aktivitas bisnis yang bergantung pada kelancaran penerbangan.
Erupsi Anak Krakatau Berdampak pada 764 Penerbangan di Soetta
Sebaran abu vulkanik juga mengganggu ratusan penerbangan yang terjadwal di Bandara Soetta. Data InJourney Airports mencatat sebanyak 764 pergerakan pesawat terdampak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dampak tersebut mencakup pembatalan penerbangan, keterlambatan, pengalihan pendaratan, serta penyesuaian jadwal penerbangan. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya efek gangguan operasional terhadap jaringan penerbangan di Bandara Soetta. (ANTARA, 2026)
Dampak pada penerbangan mencakup beberapa bentuk, yaitu:
- Pembatalan penerbangan.
- Penundaan jadwal penerbangan.
- Pengalihan pesawat ke bandara lain.
- Penjadwalan ulang keberangkatan.
- Penyesuaian operasional akibat kondisi ruang udara.
Pada tahap awal penutupan, InJourney Airports mencatat 33 penerbangan terdampak di Soetta. Data tersebut kemudian meningkat setelah durasi penutupan dan dampak erupsi meluas terhadap operasional penerbangan. (ANTARA, 2026)
Bandara Soetta Dibuka Kembali setelah Kondisi Ruang Udara Membaik
Otoritas penerbangan kembali membuka Bandara Soetta setelah kondisi dinilai aman untuk operasional. Mulai 8 September 2026 pukul 00.01 WIB, Bandara Soetta kembali melayani penerbangan bersama Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Husein Sastranegara. (detikFinance, 2026)
Pembukaan kembali dilakukan setelah pemerintah dan otoritas penerbangan melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau serta sebaran abu vulkanik. Keputusan tersebut memungkinkan maskapai kembali menjalankan penerbangan dengan tetap memperhatikan kondisi ruang udara.
Keselamatan menjadi dasar utama dalam menentukan penghentian dan pembukaan kembali operasional. Pemerintah menggunakan informasi aeronautika dan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik untuk menentukan status operasional setiap bandara. (Kementerian Perhubungan, 2026)
Erupsi Anak Krakatau Menunjukkan Risiko Abu Vulkanik bagi Penerbangan
Abu vulkanik memiliki risiko terhadap keselamatan penerbangan karena dapat mengganggu kinerja mesin dan sistem pesawat. Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan harus mengambil langkah pencegahan ketika sebaran abu mencapai ruang udara yang digunakan pesawat.
Penutupan Bandara Soetta menjadi bagian dari langkah mitigasi tersebut. Pemerintah juga menutup sejumlah bandara lain yang terdampak sebaran abu vulkanik, termasuk Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan beberapa bandara di Lampung. (Kementerian Perhubungan, 2026)
Gangguan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik dapat memberikan dampak ekonomi yang luas. Penutupan bandara tidak hanya menghentikan penerbangan, tetapi juga memengaruhi mobilitas penumpang dan aktivitas berbagai sektor yang bergantung pada transportasi udara.
Bandara Soetta Memprioritaskan Keselamatan di Tengah Kerugian
Penutupan Bandara Soetta akibat erupsi Anak Krakatau memberikan dampak finansial yang diperkirakan mencapai Rp40 miliar. Angka tersebut menunjukkan besarnya konsekuensi ekonomi dari gangguan penerbangan, tetapi keputusan penghentian operasional tetap diambil untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan penerbangan.
Pemulihan operasional kemudian dilakukan setelah kondisi ruang udara dinilai lebih aman. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya pemantauan aktivitas vulkanik dan koordinasi antarlembaga dalam menjaga konektivitas penerbangan Indonesia.
Pembaca dapat mengikuti perkembangan transportasi, penerbangan, dan kebijakan ekonomi terbaru melalui Garap Media. Berbagai informasi tersebut dapat membantu pembaca memahami dampak peristiwa nasional terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Garap Media juga menghadirkan artikel lain mengenai perkembangan infrastruktur, transportasi, dan ekonomi Indonesia. Pembaca dapat mengikuti artikel terkait untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kebijakan pemerintah dan peristiwa yang memengaruhi aktivitas masyarakat.
Referensi
