Garap Media – Gelombang kecerdasan buatan mulai mengubah cara perusahaan besar mengelola tenaga kerja. Sejumlah perusahaan memangkas posisi karyawan ketika investasi AI, otomatisasi dan efisiensi semakin meningkat. Reuters melaporkan beberapa perusahaan di China bahkan melakukan pengurangan tenaga kerja secara bertahap agar adopsi AI tidak terlihat seperti gelombang PHK besar-besaran. (Reuters) Namun, apakah semua pengurangan pekerja benar-benar disebabkan AI?
Pertanyaan tersebut semakin relevan setelah sejumlah perusahaan global mengumumkan restrukturisasi yang dikaitkan dengan teknologi. Microsoft memangkas sekitar 4.800 posisi pada Juli 2026, sementara Standard Chartered berencana menghilangkan lebih dari 7.000 pekerjaan hingga 2030 sambil meningkatkan penggunaan teknologi. (Reuters) Fenomena ini menunjukkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari keputusan strategis perusahaan, meskipun tidak semua PHK dapat disebut sebagai akibat langsung AI.
1. AI Mulai Mengubah Cara Perusahaan Menghitung Tenaga Kerja
Perusahaan besar kini tidak hanya melihat jumlah karyawan sebagai ukuran kapasitas produksi. Mereka mulai menghitung berapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dengan bantuan software, otomatisasi dan AI. Teknologi dapat menangani sebagian pekerjaan administratif, analisis data, layanan pelanggan dan tugas digital yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia. Kondisi tersebut membuat perusahaan memiliki peluang untuk menghasilkan output lebih besar dengan tim yang lebih kecil. Perubahan ini pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan perekrutan maupun kebutuhan terhadap posisi tertentu.
Reuters melaporkan bahwa perusahaan di China mulai melakukan pengurangan tenaga kerja secara “diam-diam” ketika penggunaan AI meningkat. (Reuters) Pengurangan tersebut dilakukan secara bertahap melalui tidak mengganti karyawan yang keluar, pengurangan tim dan perubahan struktur pekerjaan. Pola seperti ini membuat dampak AI terhadap tenaga kerja tidak selalu terlihat melalui pengumuman PHK besar. Perusahaan dapat mengurangi jumlah pekerja secara perlahan sambil meningkatkan otomatisasi. Karena itu, perubahan terbesar mungkin justru terjadi pada jumlah perekrutan baru.
2. Beberapa Perusahaan Memangkas Pekerja Sambil Meningkatkan AI
Contoh lain datang dari sektor teknologi dan keuangan. Microsoft mengumumkan pemangkasan sekitar 4.800 pekerjaan pada Juli 2026, termasuk restrukturisasi besar di unit gaming. (Reuters) Sementara itu, Standard Chartered berencana menghilangkan lebih dari 7.000 posisi dalam empat tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan mengganti sebagian pekerjaan bernilai lebih rendah dengan teknologi. (Reuters) Angka tersebut memperlihatkan bahwa otomatisasi sudah menjadi salah satu faktor dalam perencanaan tenaga kerja.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap PHK merupakan akibat AI. Restrukturisasi perusahaan juga dapat terjadi karena perubahan strategi, tekanan biaya, kondisi ekonomi atau keputusan untuk mengalihkan investasi ke bisnis baru. Financial Times mencatat bahwa para ekonom dan pakar tenaga kerja memperingatkan agar pengurangan pekerja tidak otomatis dikaitkan seluruhnya dengan AI. (Financial Times) Dengan demikian, AI lebih tepat disebut sebagai salah satu faktor yang mempercepat perubahan organisasi.
3. Pekerjaan yang Bersifat Rutin Lebih Mudah Diotomatisasi
Salah satu kelompok pekerjaan yang menghadapi perubahan besar adalah pekerjaan dengan tugas rutin dan terdigitalisasi. AI generatif mampu membantu menghasilkan teks, memproses informasi, membuat ringkasan dan melakukan berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu manusia. International Labour Organization atau ILO menyebut pekerjaan administratif sebagai kelompok dengan tingkat paparan tertinggi terhadap AI generatif. (International Labour Organization) Namun, paparan tersebut tidak otomatis berarti pekerjaan tersebut akan hilang.
ILO memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI. Meski demikian, organisasi tersebut menilai transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi daripada penghapusan pekerjaan secara keseluruhan. (International Labour Organization) Seorang pekerja administrasi, misalnya, dapat menggunakan AI untuk mengerjakan sebagian tugas sambil tetap menangani keputusan dan koordinasi yang membutuhkan manusia. Inilah alasan mengapa kemampuan menggunakan teknologi semakin penting dalam dunia kerja.
4. Perusahaan Justru Mencari Pekerja dengan Keterampilan Baru
Perubahan akibat AI tidak hanya menghasilkan pengurangan tenaga kerja. World Economic Forum memperkirakan 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi terdampak atau tergeser akibat perubahan struktural pasar tenaga kerja. Secara bersih, proyeksi tersebut menghasilkan tambahan sekitar 78 juta pekerjaan. (World Economic Forum) Artinya, pasar kerja tidak sekadar bergerak menuju lebih sedikit pekerjaan. Struktur kebutuhan perusahaan juga sedang berubah.
WEF mencatat keterampilan AI, big data dan cybersecurity diperkirakan mengalami pertumbuhan permintaan yang cepat. Pada saat yang sama, kemampuan manusia seperti kreativitas, ketahanan, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi tetap dianggap penting. (World Economic Forum) Kombinasi keterampilan teknologi dan kemampuan manusia tersebut kemungkinan menjadi semakin berharga. Perusahaan tidak hanya mencari orang yang mampu menggunakan AI, tetapi juga pekerja yang dapat memahami masalah dan mengambil keputusan dengan tepat.
5. Ancaman Terbesar Mungkin Bukan PHK, Melainkan Berkurangnya Perekrutan
Dampak AI terhadap pekerjaan bisa muncul sebelum perusahaan benar-benar melakukan PHK. Salah satu perubahan yang mulai menjadi perhatian adalah perusahaan mengurangi perekrutan untuk posisi tingkat awal karena sebagian tugas dapat dilakukan menggunakan AI. Fenomena tersebut berpotensi membuat lulusan baru lebih sulit mendapatkan pengalaman kerja pertama. Reuters juga melaporkan bahwa perkembangan AI mulai mengubah model bisnis industri jasa teknologi, termasuk mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan entry-level tertentu. (Reuters) Perubahan ini dapat menjadi persoalan besar jika sistem pendidikan dan pelatihan tidak bergerak secepat teknologi.
Namun, berkurangnya kebutuhan terhadap pekerjaan tertentu tidak berarti peluang kerja akan berhenti. Industri baru dapat muncul ketika perusahaan menemukan cara menggunakan AI untuk menghasilkan produk dan layanan yang sebelumnya tidak mungkin dibuat. WEF memperkirakan pekerjaan di bidang teknologi, perawatan, pendidikan dan sejumlah pekerjaan lapangan masih memiliki prospek pertumbuhan hingga 2030. (World Economic Forum) Tantangannya adalah memastikan pekerja dapat berpindah dari pekerjaan yang menyusut menuju pekerjaan yang sedang berkembang. Proses tersebut membutuhkan pelatihan, pendidikan dan adaptasi yang tidak bisa dilakukan secara instan.
Penutup
Perusahaan besar memang mulai menggunakan AI sebagai bagian dari strategi efisiensi dan restrukturisasi tenaga kerja. Microsoft, Standard Chartered dan sejumlah perusahaan lainnya menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu faktor dalam perubahan jumlah pekerja. (Reuters) Tetapi, menyebut semua PHK sebagai akibat AI juga tidak tepat karena keputusan perusahaan biasanya dipengaruhi banyak faktor.
Data ILO justru menunjukkan bahwa transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi daripada penghapusan pekerjaan secara massal. (International Labour Organization) Dunia kerja sedang bergerak menuju pola baru ketika manusia dan AI bekerja berdampingan. Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang akan hilang, tetapi berapa banyak pekerjaan baru yang dapat diciptakan dan apakah pekerja siap mengisi posisi tersebut.
Sumber Referensi
- Reuters – Companies cutting jobs as investments shift toward AI
https://www.reuters.com/business/world-at-work/companies-cutting-jobs-investments-shift-toward-ai-2026-07-06/ (Reuters) - Reuters – StanChart to cut over 7,000 jobs, boost AI
https://www.reuters.com/business/world-at-work/stanchart-cut-more-than-7000-jobs-bank-steps-up-ai-adoption-2026-05-19/ (Reuters) - Reuters – StanChart CEO seeks to reassure staff over AI-linked job cuts
https://www.reuters.com/legal/legalindustry/stanchart-ceo-seeks-reassure-staff-over-ai-linked-job-cuts-2026-05-20/ (Reuters)
