Garap Media – Teknologi seharusnya membuat hidup manusia lebih mudah, tetapi kemudahan tersebut ternyata memiliki sisi lain yang mulai mendapat perhatian. Smartphone, aplikasi otomatis, layanan pesan instan hingga kecerdasan buatan memungkinkan berbagai pekerjaan selesai dengan lebih sedikit tenaga. Masalahnya, semakin banyak aktivitas yang dapat dilakukan sambil duduk, semakin besar pula risiko manusia menjadi kurang aktif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar satu dari tiga orang dewasa di dunia belum melakukan aktivitas fisik yang cukup. WHO juga menyebut perubahan pola transportasi serta meningkatnya penggunaan teknologi untuk bekerja dan rekreasi ikut berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku sedentari. (World Health Organization)
Namun, menyebut teknologi sebagai penyebab tunggal manusia menjadi malas juga terlalu sederhana. Teknologi dapat membantu seseorang bekerja lebih cepat, belajar lebih mudah dan menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang. Persoalannya muncul ketika kemudahan digital membuat seseorang terlalu sering menghindari aktivitas fisik atau kehilangan kemampuan berkonsentrasi dalam waktu lama. Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa berpindah-pindah tugas akibat notifikasi dan perangkat digital dapat mengurangi efisiensi. (American Psychological Association) Jadi, persoalan sebenarnya bukan sekadar teknologi, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.
1. Teknologi Membuat Aktivitas Fisik Semakin Berkurang
Teknologi telah mengubah banyak aktivitas fisik menjadi aktivitas yang cukup dilakukan melalui layar. Belanja dapat dilakukan melalui aplikasi, rapat berlangsung secara daring dan transportasi dapat dipesan tanpa harus berjalan jauh. Bahkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan perpindahan tempat kini dapat dilakukan dari depan komputer. WHO menyebut peningkatan penggunaan teknologi untuk bekerja dan rekreasi sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya perilaku sedentari. (World Health Organization) Kondisi ini membuat kemudahan teknologi memiliki konsekuensi yang perlu diperhatikan.
Perilaku sedentari sendiri tidak selalu berarti seseorang benar-benar malas. Membaca, belajar atau bekerja sambil duduk merupakan aktivitas yang berbeda dari tidak melakukan aktivitas sama sekali. WHO merekomendasikan orang dewasa membatasi waktu sedentari dan menggantinya dengan aktivitas fisik, termasuk aktivitas dengan intensitas ringan. (NCBI) Karena itu, teknologi sebaiknya tidak dipandang sebagai musuh kesehatan. Yang lebih penting adalah memastikan kemudahan digital tidak membuat seluruh rutinitas sehari-hari berubah menjadi aktivitas pasif.
2. Smartphone Bisa Mengganggu Fokus Manusia
Masalah kedua bukan berkaitan dengan tubuh, melainkan kemampuan berkonsentrasi. Smartphone membuat informasi, pesan dan hiburan tersedia hampir setiap saat. Notifikasi yang terus muncul dapat membuat seseorang berpindah perhatian meskipun sedang mengerjakan tugas penting. American Psychological Association menjelaskan bahwa berpindah dari satu tugas ke tugas lain memiliki switching costs yang dapat menurunkan efisiensi. (American Psychological Association) Akibatnya, multitasking yang terlihat produktif belum tentu menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.
Penelitian yang dibahas APA juga menunjukkan bahwa gangguan dari perangkat digital dapat membuat seseorang lebih sering menghentikan pekerjaan untuk memeriksa pesan atau perangkat. Dalam satu penelitian terhadap pelajar, peserta rata-rata belajar kurang dari enam menit sebelum berpindah tugas, dengan teknologi menjadi salah satu sumber gangguan utama. (American Psychological Association) Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menciptakan kebiasaan mencari rangsangan baru. Jika berlangsung terus-menerus, manusia bisa semakin sulit mempertahankan fokus pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi panjang.
3. AI Membuat Pekerjaan Lebih Mudah, tetapi Ada Risikonya
Kemunculan AI membawa persoalan baru karena teknologi kini tidak hanya membantu pekerjaan fisik. AI dapat membuat rangkuman, menyusun ide, membantu mencari informasi dan mengerjakan berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu manusia. Kemudahan tersebut dapat meningkatkan produktivitas jika digunakan sebagai alat bantu. Namun, terlalu bergantung pada teknologi dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti seluruh proses berpikir manusia.
Perubahan tersebut sebenarnya memperlihatkan dua sisi teknologi secara bersamaan. Di satu sisi, otomatisasi dapat menghilangkan pekerjaan berulang sehingga manusia bisa berkonsentrasi pada tugas yang lebih bernilai. Di sisi lain, manusia perlu tetap memahami proses di balik hasil yang diberikan teknologi. Ketika seseorang menerima jawaban dari AI tanpa memeriksa atau memahami isinya, efisiensi dapat berubah menjadi ketergantungan. Tantangan terbesar pada era AI bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan mengetahui kapan teknologi harus digunakan dan kapan manusia harus berpikir sendiri.
4. Teknologi Tidak Selalu Membuat Manusia Malas
Ada fakta yang sering terlupakan dalam perdebatan mengenai teknologi dan kemalasan. Teknologi juga dapat membantu manusia menjadi lebih produktif karena pekerjaan administratif, komunikasi dan pencarian informasi dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat. American Psychological Association mencatat bahwa teknologi memang dapat memberdayakan manusia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, meskipun manfaat tersebut dapat berkurang ketika gangguan digital terlalu banyak. (American Psychological Association) Dengan kata lain, masalahnya bukan keberadaan teknologi, melainkan pola penggunaan.
Teknologi bahkan dapat digunakan untuk mendorong aktivitas yang lebih sehat. Aplikasi kebugaran, jam pintar dan perangkat pelacak aktivitas dapat membantu pengguna mengetahui pola gerak sehari-hari. WHO sendiri menekankan bahwa aktivitas fisik dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk berjalan, bersepeda, pekerjaan rumah dan aktivitas rekreasi. (World Health Organization) Artinya, teknologi dapat menjadi bagian dari solusi jika dirancang dan digunakan secara tepat. Manusia tetap memegang kendali atas bagaimana teknologi memengaruhi kebiasaan mereka.
5. Masalah Sebenarnya Ada pada Cara Manusia Menggunakannya
Pada akhirnya, teknologi tidak bisa sepenuhnya disalahkan ketika manusia menjadi kurang aktif atau sulit berkonsentrasi. Perangkat digital memang dirancang untuk memberikan kemudahan dan akses cepat terhadap berbagai layanan. Namun, kebiasaan memeriksa notifikasi secara terus-menerus atau menghabiskan terlalu banyak waktu dalam aktivitas sedentari merupakan pola penggunaan yang dapat dikendalikan. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik secara teratur dan mengurangi waktu sedentari. (NCBI) Sementara itu, penelitian psikologi menunjukkan pentingnya mengurangi gangguan ketika membutuhkan konsentrasi.
Karena itu, masa depan bukan tentang memilih antara teknologi atau kehidupan tanpa teknologi. Tantangannya adalah menciptakan keseimbangan sehingga manusia mendapatkan manfaat otomatisasi tanpa kehilangan kemampuan bergerak, berpikir dan berkonsentrasi. Teknologi seharusnya menghemat waktu manusia, bukan menghabiskan seluruh perhatian manusia. AI seharusnya membantu pekerjaan, bukan membuat manusia berhenti belajar. Pada titik inilah literasi digital menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Penutup
Teknologi memang dapat membuat sebagian aktivitas manusia menjadi lebih pasif, terutama ketika pekerjaan, hiburan dan komunikasi semakin banyak dilakukan melalui layar. WHO telah mengaitkan meningkatnya penggunaan teknologi dengan perubahan menuju perilaku yang lebih sedentari, sementara penelitian psikologi menunjukkan gangguan digital dapat mengurangi efisiensi ketika seseorang sering berpindah tugas. (World Health Organization)
Namun, mengatakan teknologi membuat manusia malas secara mutlak juga tidak tepat. Teknologi dapat menjadi alat yang meningkatkan produktivitas sekaligus sumber gangguan, tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Tantangan terbesar di era digital bukan menghindari teknologi, melainkan memastikan teknologi tetap menjadi alat yang dikendalikan manusia. Jika digunakan dengan bijak, teknologi seharusnya membuat manusia lebih efektif, bukan semakin pasif.
Sumber Referensi
- World Health Organization (WHO) – Physical Activity
https://www.who.int/health-topics/physical-activity/physical-activity - American Psychological Association – Multitasking: Switching Costs
https://www.apa.org/topics/research/multitasking - American Psychological Association – Boosting Productivity
https://www.apa.org/monitor/2017/09/boosting-productivity
