Garap Media – Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau AI akan mengambil pekerjaan manusia semakin sulit diabaikan. Perusahaan di berbagai sektor mulai menggunakan AI untuk menulis, menganalisis data, membuat kode, melayani pelanggan hingga mengotomatisasi tugas administratif. Namun, para ahli menilai gambaran masa depan tidak sesederhana manusia digantikan mesin. International Labour Organization (ILO) memperkirakan satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap AI generatif. (ILO)
Data terbaru juga menunjukkan bahwa dampak AI mulai terasa pada kelompok tertentu, terutama pekerja muda. ILO pada Agustus 2026 memperingatkan bahwa 6,1 persen pekerjaan yang saat ini dilakukan kelompok usia 15–29 tahun berada dalam kategori paling terekspos perubahan akibat AI. Jika hanya 10 persen dari pekerjaan tersebut benar-benar hilang, sekitar 5,6 juta pekerja muda dapat terdampak. (Reuters) Lantas, apakah AI benar-benar akan mengambil pekerjaan jutaan orang?
1. Satu dari Empat Pekerja Dunia Terpapar AI
Fakta pertama datang dari penelitian ILO dan NASK yang menunjukkan besarnya jangkauan AI terhadap pasar tenaga kerja. Studi tersebut menemukan sekitar satu dari empat pekerja global berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap AI generatif. Namun, paparan tidak sama dengan kehilangan pekerjaan karena sebagian besar pekerjaan masih membutuhkan keterlibatan manusia. (ILO) Penelitian itu justru memperkirakan transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan penghapusan pekerjaan secara menyeluruh. Artinya, AI berpotensi mengubah cara seseorang bekerja sebelum benar-benar menghilangkan profesinya. Perbedaan tersebut penting karena sering kali angka paparan AI disalahartikan sebagai jumlah pekerjaan yang pasti hilang.
Dampaknya juga berbeda berdasarkan jenis pekerjaan dan tingkat ekonomi suatu negara. Pekerjaan administratif atau clerical termasuk kelompok yang memiliki tingkat paparan paling tinggi terhadap AI generatif. (ILO) Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan interaksi fisik, keputusan kompleks dan keterampilan sosial menghadapi pola perubahan yang berbeda. Karena itu, tidak semua profesi menghadapi risiko dengan tingkat yang sama. Perubahan terbesar kemungkinan terjadi pada tugas tertentu yang dapat dilakukan lebih cepat menggunakan perangkat AI.
2. Pekerjaan Mungkin Berubah, Bukan Hilang
Fakta kedua adalah AI lebih sering menggantikan tugas tertentu daripada seluruh pekerjaan. Sebuah pekerjaan biasanya terdiri dari banyak aktivitas yang membutuhkan kemampuan berbeda. AI dapat membantu membuat laporan, mencari informasi atau merangkum dokumen, tetapi pekerjaan tersebut masih dapat membutuhkan manusia untuk memeriksa hasil dan mengambil keputusan. ILO juga menyimpulkan bahwa AI lebih mungkin meningkatkan kemampuan manusia daripada menyebabkan otomatisasi besar-besaran di banyak pekerjaan. (ILO) Dengan demikian, pekerja yang mampu menggunakan AI dapat memiliki peran yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Perubahan tersebut sudah mulai terlihat dalam pekerjaan berbasis pengetahuan. Penelitian terbaru terhadap penggunaan ChatGPT Enterprise menemukan bahwa AI digunakan dalam berbagai fungsi pekerjaan, mulai dari penulisan dan komunikasi hingga pekerjaan teknis serta sintesis informasi. (arXiv) Temuan itu menunjukkan perusahaan masih berada dalam tahap mempelajari cara terbaik memasukkan AI ke dalam alur kerja. Dalam banyak kasus, AI menjadi alat bantu produktivitas daripada pengganti karyawan sepenuhnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan pekerja mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
3. Pekerja Muda Menghadapi Risiko yang Berbeda
Fakta ketiga berkaitan dengan generasi muda yang baru memasuki pasar kerja. ILO melaporkan tingkat pengangguran global kelompok usia 15–24 tahun meningkat menjadi 12,4 persen pada 2025, atau sekitar 67 juta orang. (Reuters) Kelompok ini juga banyak bergantung pada pekerjaan tingkat awal yang dapat menjadi pintu masuk menuju karier. Jika perusahaan mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan administratif dasar karena AI, kesempatan mendapatkan pengalaman pertama dapat ikut terpengaruh. Hal tersebut membuat dampak AI terhadap pekerja muda perlu mendapat perhatian khusus.
Namun, situasinya tidak hanya berisi risiko. Pekerjaan di bidang teknologi, sains, teknik dan kesehatan masih menunjukkan pertumbuhan di banyak negara. (Reuters) AI juga menciptakan kebutuhan baru terhadap pengembangan teknologi, pengelolaan data, keamanan digital dan penerapan AI di berbagai industri. Artinya, perubahan pasar kerja dapat menciptakan jalur karier baru sekaligus mengurangi beberapa jenis pekerjaan lama. Kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi semakin penting dalam menghadapi perubahan tersebut.
4. Negara Maju Justru Lebih Terpapar AI
Fakta keempat cukup menarik karena negara dengan ekonomi lebih maju justru memiliki proporsi pekerjaan yang lebih tinggi terpapar AI. ILO memperkirakan sekitar 34 persen pekerjaan di negara berpendapatan tinggi berada dalam pekerjaan yang memiliki paparan terhadap GenAI, dibandingkan sekitar 11 persen di negara berpendapatan rendah. (ILO) Hal tersebut terjadi karena ekonomi maju memiliki lebih banyak pekerjaan digital dan pekerjaan berbasis pengetahuan. Namun, tingkat paparan tersebut tidak berarti seluruh pekerjaan akan otomatis hilang. Banyak pekerjaan tetap membutuhkan kemampuan manusia yang belum mudah digantikan teknologi.
World Bank juga menemukan bahwa pekerjaan di negara berpendapatan tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap AI dibandingkan negara berkembang. Dalam laporan terbaru yang dikutip Reuters, sekitar 14,2 persen pekerjaan di negara maju berada dalam kategori berisiko, dibandingkan 4,5 persen di negara berkembang. (Reuters) Namun, negara berkembang menghadapi tantangan lain berupa keterbatasan internet, listrik, perangkat dan keterampilan digital. Karena itu, dampak AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kesiapan setiap negara.
5. AI Bisa Menciptakan Pekerjaan Baru
Fakta kelima adalah AI tidak hanya berpotensi menghilangkan sebagian pekerjaan, tetapi juga menciptakan permintaan baru. Perusahaan membutuhkan orang yang mampu mengembangkan, mengimplementasikan, mengawasi dan mengevaluasi sistem AI. Kebutuhan terhadap keterampilan digital juga meningkat seiring semakin banyak organisasi memasukkan AI ke dalam aktivitas bisnis. ILO menekankan bahwa transisi AI perlu dikelola melalui dialog sosial, peningkatan keterampilan dan kebijakan yang mendukung pekerja. (ILO) Dengan kata lain, masa depan pekerjaan sangat bergantung pada bagaimana manusia dan perusahaan mengelola perubahan tersebut.
Bagi pekerja, kemampuan menggunakan AI dapat menjadi salah satu keterampilan tambahan yang semakin bernilai. Namun, kemampuan manusia seperti komunikasi, penalaran, kreativitas, kerja sama dan pengambilan keputusan tetap memiliki peran penting. Penelitian terbaru tentang produktivitas pekerja pengetahuan menunjukkan AI dapat meningkatkan efisiensi pada berbagai jenis tugas, meski dampaknya terhadap kualitas berbeda tergantung jenis pekerjaan. (arXiv) Hal ini memperlihatkan bahwa AI lebih tepat dipandang sebagai teknologi yang mengubah komposisi pekerjaan. Mereka yang mampu menggabungkan keahlian manusia dengan teknologi berpotensi memiliki posisi lebih kuat di pasar kerja.
Penutup
Pertanyaan apakah AI bisa mengambil pekerjaan jutaan orang tidak memiliki jawaban sederhana. Data ILO menunjukkan satu dari empat pekerja dunia berada dalam pekerjaan yang terpapar AI generatif, tetapi sebagian besar pekerjaan diperkirakan akan mengalami transformasi, bukan langsung hilang. (ILO) Risiko tetap nyata, terutama bagi pekerjaan administratif dan sebagian pekerja muda yang baru memasuki pasar kerja.
Di sisi lain, AI juga membuka peluang bagi pekerjaan dan keterampilan baru. Dunia kerja kemungkinan tidak berubah menjadi manusia melawan mesin, tetapi menjadi persaingan antara pekerja yang mampu beradaptasi dan mereka yang tertinggal dalam perubahan teknologi. Bagi perusahaan, tantangannya adalah menggunakan AI tanpa mengabaikan kualitas pekerjaan dan pengembangan manusia. AI mungkin tidak mengambil semua pekerjaan manusia, tetapi cara manusia bekerja hampir pasti akan berubah.
Sumber Referensi
- International Labour Organization (ILO) – Generative AI and Jobs: A 2025 Update
https://www.ilo.org/publications/generative-ai-and-jobs-2025-update - Reuters – Global Youth Unemployment and AI Risk, 2026
https://www.reuters.com/world/global-youth-unemployment-rises-amid-sluggish-job-creation-and-looming-ai-risk-un-2026-08-11/ - Reuters – AI and Emerging Economies, World Bank Report
https://www.reuters.com/business/ai-offers-lifeline-emerging-economies-world-bank-says-2026-08-04/
