Oarfish Pantai Pink Lombok Timur Terdampar, Video Penemuannya Viral

Last Updated: 27 August 2026, 16:55

Bagikan:

Oarfish Pantai Pink
Oarfish sepanjang sekitar empat meter ditemukan mati terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur, NTB, pada 25 Agustus 2026. Penemuan ikan laut dalam yang kerap dijuluki “ikan kiamat” itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sumber gambar: detikBali.
Table of Contents

Oarfish Pantai Pink Lombok Timur menjadi sorotan setelah seekor ikan laut dalam sepanjang sekitar empat meter ditemukan mati dan terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (25/8/2026). Video penemuan ikan yang kerap disebut “ikan kiamat” tersebut kemudian ramai beredar di media sosial. (detikBali, 2026).

Oarfish Pantai Pink Ditemukan Mati pada 25 Agustus

Seorang wisatawan asal Lombok Tengah menemukan oarfish tersebut di kawasan Pantai Pink pada pagi hari. Kepala Wilayah Dusun Telone, Desa Sekaroh, Sahlan, membenarkan informasi tersebut kepada detikBali. (detikBali, 2026).

Penemuan berlangsung sekitar pukul 07.30 WITA. Kondisi ikan menunjukkan bahwa oarfish tersebut sudah mati ketika ditemukan di tepi pantai. Ukuran tubuhnya mencapai sekitar empat meter sehingga beberapa orang membutuhkan tenaga bersama untuk mengangkat ikan tersebut. (detikBali, 2026).

Video yang diunggah melalui akun Facebook Baiq Kolby memperlihatkan sejumlah anak bersama seorang pria dewasa membawa tubuh ikan tersebut. Rekaman itu kemudian menarik perhatian pengguna media sosial karena bentuk oarfish terlihat panjang, pipih, dan berbeda dari ikan yang biasa ditemukan di kawasan pantai. (detikBali, 2026).

Sahlan mengaku baru pertama kali melihat langsung ikan tersebut di wilayahnya. Ia kemudian mencari informasi mengenai bentuk ikan melalui internet dan menemukan bahwa ikan tersebut merupakan oarfish. (detikBali, 2026).

Fakta Penemuan Oarfish di Pantai Pink

Beberapa fakta utama mengenai penemuan tersebut meliputi:

  • Lokasi: Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.
  • Waktu: Selasa, 25 Agustus 2026 sekitar pukul 07.30 WITA.
  • Kondisi: oarfish ditemukan dalam keadaan mati.
  • Ukuran: ikan memiliki panjang sekitar empat meter.
  • Penemu: wisatawan yang berasal dari Lombok Tengah.
  • Sumber video: unggahan akun Facebook Baiq Kolby. (detikBali, 2026).

Oarfish Disebut Ikan Kiamat karena Cerita Rakyat

Oarfish merupakan ikan laut dalam yang jarang terlihat manusia. Bentuk tubuhnya yang panjang dan kemunculannya yang tidak biasa di kawasan pantai membuat ikan tersebut memiliki berbagai sebutan dalam budaya populer, termasuk “ikan kiamat” atau “ikan bencana”.

Julukan tersebut berasal dari kepercayaan yang menghubungkan kemunculan ikan laut dalam dengan gempa bumi. Cerita tersebut berkembang kuat dalam folklor Jepang dan kemudian menyebar melalui pemberitaan serta media sosial.

Namun, penelitian ilmiah tidak mendukung anggapan bahwa oarfish dapat digunakan sebagai penanda gempa. Penelitian yang diterbitkan dalam Bulletin of the Seismological Society of America membandingkan ratusan laporan kemunculan ikan laut dalam dengan catatan gempa di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan hubungan spasial dan temporal antara kedua peristiwa tersebut sangat lemah. (Orihara et al., 2019).

Kemunculan Oarfish Tidak Terbukti Menjadi Pertanda Gempa

Spekulasi mengenai pertanda bencana kembali muncul setelah video oarfish Pantai Pink menyebar di internet. Sebagian pengguna media sosial menghubungkan kemunculan ikan tersebut dengan kemungkinan gempa atau bencana alam.

Kajian ilmiah justru memberikan kesimpulan berbeda. Peneliti menganalisis 336 laporan kemunculan ikan laut dalam dan 221 kejadian gempa di Jepang. Hasil analisis hanya menemukan satu peristiwa yang memiliki kemungkinan hubungan, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa bukti tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi hubungan antara kemunculan ikan dan gempa. (Seismological Society of America, 2019).

Temuan tersebut membuat kemunculan oarfish tidak dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini gempa. Masyarakat tetap perlu mengandalkan informasi resmi dari lembaga kebencanaan dan pemantauan seismik untuk mengetahui potensi gempa atau tsunami.

Perubahan Lingkungan Laut Dapat Memengaruhi Kemunculan Oarfish

Kemunculan oarfish di perairan dangkal juga dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim mengatakan kemunculan oarfish di wilayah NTB tergolong sangat langka dan dapat berkaitan dengan perubahan suhu, cuaca, serta kondisi Samudra Hindia. (ANTARA, 2026).

Perubahan kondisi laut dapat memengaruhi kehidupan organisme laut dalam. Peneliti juga telah menemukan hubungan antara beberapa kemunculan ikan laut dalam dan perubahan kondisi oseanografi, meskipun penyebab pasti setiap kasus terdampar tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa faktor yang dapat menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kemunculan oarfish antara lain:

  • Perubahan suhu perairan.
  • Perubahan arus laut.
  • Kondisi ekosistem laut dalam.
  • Ketersediaan makanan.
  • Kondisi fisik ikan sebelum terdampar.

Karena itu, kemunculan satu ekor oarfish tidak cukup untuk menentukan adanya perubahan besar atau ancaman bencana di suatu wilayah.

Warga Pantai Pink Tetap Kondusif Setelah Oarfish Terdampar

Penemuan ikan tersebut tidak menyebabkan kepanikan di kawasan Pantai Pink. Sahlan memastikan masyarakat di sekitar pesisir tetap tenang meskipun video penemuan oarfish telah menjadi bahan pembicaraan di media sosial. (detikBali, 2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat setempat tidak menjadikan kemunculan ikan sebagai dasar untuk menyimpulkan akan terjadi bencana. Informasi mengenai kondisi gempa dan tsunami tetap perlu mengacu pada lembaga resmi, bukan pada spekulasi yang beredar melalui media sosial.

Oarfish Pantai Pink Jadi Fenomena Laut yang Menarik Perhatian

Penemuan oarfish sepanjang sekitar empat meter di Pantai Pink Lombok Timur menjadi fenomena langka yang menarik perhatian masyarakat. Video yang memperlihatkan warga mengangkat ikan tersebut membuat penemuan lokal itu menyebar luas di internet.

Di sisi lain, julukan “ikan kiamat” tidak seharusnya membuat masyarakat menganggap kemunculan oarfish sebagai tanda pasti terjadinya gempa. Bukti ilmiah yang tersedia belum menunjukkan hubungan yang dapat digunakan untuk memprediksi bencana. (Orihara et al., 2019).

Bagi pembaca yang ingin mengetahui informasi lain mengenai fenomena alam, kelautan, dan peristiwa terbaru di Indonesia, ikuti terus artikel terbaru di Garap Media. Beragam informasi faktual dapat membantu pembaca memahami fenomena yang ramai diperbincangkan tanpa terjebak spekulasi.

Jangan lewatkan artikel lain di Garap Media untuk mendapatkan pembahasan mengenai fenomena alam dan berita terkini dari berbagai daerah. Pembaca juga dapat mengikuti informasi terbaru melalui kanal Garap Media agar tidak tertinggal perkembangan peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /