Kasus orang hilang Jeju menjadi sorotan setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam rentang 22–24 Agustus 2026. Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang polisi bermarga Bu yang diduga memalsukan penanganan dua laporan ketika bertugas menangani kasus orang hilang di Pulau Jeju.
Petugas tersebut diketahui menangani 298 laporan selama sekitar satu tahun lima bulan. Jumlah itu merupakan seluruh laporan yang pernah ditangani dan ditutup olehnya, bukan jumlah kasus yang telah terbukti mengalami pemalsuan. (Yonhap News Agency, 2026).
Kasus Orang Hilang Jeju Ungkap Empat Korban Meninggal
Empat jenazah ditemukan di sejumlah lokasi di Jeju selama tiga hari berturut-turut. Penemuan pertama terjadi pada 22 Agustus 2026 ketika seorang pria berusia 60-an ditemukan di kawasan Songdang-ri.
Sehari berselang, jenazah pria berusia sekitar 70-an ditemukan di perairan dekat Sinheung-ri. Lokasi penemuan berikutnya berada di sekitar lembah Aewol-eup pada 24 Agustus.
Pada tanggal yang sama, petugas menemukan Jang Mi-ran, 37, di kawasan perkebunan pohon palem di Hallim-eup. Identitas Jang kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan gigi, sedangkan pemeriksaan DNA masih dilakukan untuk memastikan hasil identifikasi. (Yonhap News Agency, 2026).
Kronologi penemuan empat korban tersebut meliputi:
- 22 Agustus 2026: pria berusia 60-an ditemukan di Songdang-ri.
- 23 Agustus 2026: pria berusia sekitar 70-an ditemukan di perairan Sinheung-ri.
- 24 Agustus 2026: satu jenazah ditemukan di sekitar lembah Aewol-eup.
- 24 Agustus 2026: Jang Mi-ran ditemukan di Hallim-eup.
Dari empat laporan tersebut, dua kasus diketahui berkaitan dengan polisi yang sama. Sementara itu, dua penemuan jenazah lainnya belum dikaitkan dengan dugaan pemalsuan penanganan yang sedang diselidiki. (Yonhap News Agency, 2026).
Polisi Jeju Diduga Memalsukan Penanganan Dua Laporan
Seorang petugas bermarga Bu menjadi fokus penyelidikan setelah diduga menutup dua laporan orang hilang tanpa memastikan kondisi orang yang dicari. Kedua laporan tersebut berkaitan dengan Jang Mi-ran dan seorang pria berusia 60-an yang kemudian ditemukan meninggal.
Kepada keluarga, Bu diduga mengaku telah menghubungi orang yang dilaporkan hilang. Keterangan tersebut juga menyebutkan bahwa kedua orang tersebut tidak mengizinkan polisi memberi tahu keluarga mengenai keberadaan mereka.
Hasil pemeriksaan internal justru tidak menemukan catatan komunikasi yang mendukung klaim tersebut. Dalam kasus Jang, penyidik juga menduga Bu menghapus informasi mengenai korban dari sistem pencarian orang hilang menggunakan kode yang berkaitan dengan korban kecelakaan lalu lintas. (Yonhap News Agency, 2026).
Tindakan tersebut diduga membuat proses pencarian Jang terhenti. Dugaan serupa kemudian ditemukan dalam penanganan laporan pria berusia 60-an yang juga berakhir dengan penemuan korban dalam keadaan meninggal.
Sebanyak 298 Laporan Orang Hilang Diperiksa Ulang
Penyelidikan kini diperluas dengan memeriksa kembali 298 laporan yang pernah ditangani Bu. Angka tersebut tidak berarti seluruh laporan bermasalah karena aparat masih harus menentukan apakah terdapat pelanggaran dalam masing-masing penanganan.
Selama sekitar satu tahun lima bulan, Bu bertugas di tim orang hilang. Dua kasus yang kini menjadi fokus penyidikan sama-sama dilaporkan ketika dirinya menjalankan tugas malam seorang diri. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang diperiksa dalam evaluasi internal. (Yonhap News Agency, 2026).
Pemeriksaan terhadap ratusan laporan tersebut mencakup beberapa langkah, antara lain:
- Menghubungi kembali pelapor dan keluarga orang yang pernah dilaporkan hilang.
- Memeriksa prosedur penanganan setiap laporan.
- Membandingkan catatan komunikasi dengan laporan yang dibuat petugas.
- Menelusuri kemungkinan adanya laporan lain yang ditutup tanpa pemeriksaan memadai.
Sistem pengawasan terhadap petugas yang bekerja sendirian pada malam hari turut menjadi perhatian. Catatan tugas malam selama ini digunakan sebagai salah satu mekanisme pengawasan, tetapi pola kerja seorang diri dinilai dapat membuka peluang terjadinya manipulasi pencatatan apabila kontrol internal tidak berjalan optimal. (Yonhap News Agency, 2026).
Pengadilan Distrik Jeju Tahan Polisi Bermarga Bu
Pengadilan Distrik Jeju menerbitkan surat perintah penahanan terhadap Bu pada 25 Agustus 2026. Penyidik mengajukan sejumlah dugaan pelanggaran, termasuk pelanggaran kewajiban, pemalsuan, pemalsuan catatan elektronik publik, serta penghambatan tugas melalui penipuan.
Dalam kasus Jang, aparat menduga Bu menutup laporan tanpa memastikan keselamatan korban. Informasi mengenai Jang juga diduga dihapus dari sistem pencarian orang hilang setelah laporan tersebut dibuat pada Mei 2026.
Penemuan jenazah Jang kemudian memperkuat perhatian terhadap proses penanganan laporan tersebut. Berdasarkan penyelidikan awal, korban kemungkinan meninggal tidak lama setelah menghilang, meskipun penyebab kematiannya masih dalam proses pemeriksaan. (Yonhap News Agency, 2026).
Empat Petinggi Polisi Jeju Dibebastugaskan
Kepolisian Korea Selatan turut mengambil langkah terhadap jajaran pimpinan di Kantor Polisi Jeju Seobu. Empat pejabat dibebastugaskan sementara untuk menjalani pemeriksaan terkait pengawasan terhadap penanganan laporan orang hilang.
Keempat pejabat tersebut terdiri atas kepala kantor saat ini, mantan kepala kantor ketika laporan Jang diterima, serta dua pejabat senior di bidang penyelidikan. Pemeriksaan tersebut diarahkan untuk mengetahui apakah terdapat kegagalan pengawasan yang memungkinkan laporan ditutup tanpa prosedur yang semestinya.
Tanggung jawab atasan menjadi perhatian karena dugaan pemalsuan tidak hanya menyangkut tindakan individu. Sistem pengawasan juga perlu diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat mekanisme yang seharusnya dapat mendeteksi ketidaksesuaian antara catatan petugas dan kondisi sebenarnya. (Yonhap News Agency, 2026).
Pemerintah Korea Selatan Dorong Evaluasi Penanganan Orang Hilang
Perkembangan kasus di Jeju turut mendorong pemerintah Korea Selatan mengevaluasi sistem penanganan laporan orang hilang. Perdana Menteri Han Seong-sook meminta pemeriksaan menyeluruh terhadap proses tersebut serta mendorong perbaikan mekanisme pengawasan. (Yonhap News Agency, 2026).
Evaluasi menjadi penting karena kasus ini tidak hanya berkaitan dengan dugaan pelanggaran yang dilakukan seorang petugas. Proses pemeriksaan terhadap 298 laporan juga akan menentukan apakah dugaan manipulasi hanya terjadi pada dua kasus atau terdapat persoalan lain dalam penanganan laporan orang hilang.
Kasus Orang Hilang Jeju Jadi Sorotan Sistem Kepolisian
Kasus orang hilang Jeju kini berkembang menjadi pemeriksaan terhadap prosedur kepolisian dalam menangani laporan orang hilang. Empat penemuan jenazah dalam tiga hari membuat perhatian publik meningkat, terlebih dua laporan diketahui berkaitan dengan petugas yang sama.
Pemeriksaan terhadap 298 laporan menjadi langkah penting untuk memastikan setiap kasus ditangani sesuai prosedur. Hasil penyelidikan juga akan menentukan sejauh mana tanggung jawab Bu dan jajaran atasannya dalam dugaan pemalsuan penanganan laporan tersebut.
Untuk saat ini, dugaan terhadap Bu masih menjadi bagian dari proses penyidikan. Sementara itu, kepolisian Korea Selatan terus menelusuri fakta di balik dua laporan yang menjadi fokus utama serta mengevaluasi sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Penemuan empat korban dalam tiga hari juga membuat publik menaruh perhatian besar terhadap proses pencarian orang hilang di Jeju. Pembaca dapat mengikuti perkembangan kasus ini dan berita internasional lainnya melalui artikel terbaru di Garap Media.
Perkembangan penyidikan terhadap Bu, hasil pemeriksaan 298 laporan, dan evaluasi terhadap pejabat kepolisian Jeju masih menjadi perhatian. Ikuti artikel lain di Garap Media untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kasus hukum, kriminalitas, dan peristiwa internasional.
Referensi
