Kirab Ancak Agung di Jember kembali mencatat prestasi setelah meraih dua rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Kegiatan tersebut mencatat rekor jumlah ancak terbanyak serta ancak tertinggi dari rangkaian suwar-suwir. Masyarakat Jember menggelar tradisi ini sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus momentum untuk memperkuat kebersamaan.
Kirab Ancak Agung Jember Catat Rekor MURI
Pemerintah Kabupaten Jember menggelar Kirab Ancak Agung pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Peserta membawa berbagai ancak dari sejumlah titik menuju Alun-Alun Jember.
Beragam hasil bumi, makanan, dan produk lokal digunakan untuk menghias ancak. Selanjutnya, para peserta mengarak hasil hiasan tersebut secara bersama-sama dalam suasana yang meriah.
Jumlah ancak pada pelaksanaan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan pencapaian sebelumnya. Sebanyak 867 ancak dilaporkan mengikuti kegiatan tersebut, melampaui 449 ancak yang tercatat pada pelaksanaan 2025 (ANTARA, 2026).
Tim MURI kemudian melakukan verifikasi terhadap ancak yang mengikuti kirab. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sebanyak 527 ancak memenuhi ketentuan untuk pencatatan rekor (detikJatim, 2026).
Perbedaan angka tersebut terjadi karena jumlah ancak dalam pelaksanaan kegiatan dan jumlah yang lolos verifikasi MURI menggunakan dasar penghitungan berbeda. Hasil verifikasi menjadi acuan resmi dalam penetapan rekor.
Gunungan Suwar-Suwir Jember Raih Rekor Tertinggi
Rekor kedua berasal dari gunungan suwar-suwir yang menjadi bagian dari rangkaian Kirab Ancak Agung. Panitia menyusun sebanyak 1.600 bungkus suwar-suwir menjadi sebuah gunungan berukuran besar.
Ketinggian gunungan tersebut mencapai sekitar 3,7 meter. Ukuran itu membuat gunungan suwar-suwir masuk dalam kategori ancak tertinggi dari rangkaian suwar-suwir (ANTARA, 2026).
Suwar-suwir sendiri memiliki hubungan kuat dengan identitas kuliner Jember. Makanan tersebut dikenal sebagai salah satu produk khas daerah yang berbahan dasar tape.
Penggabungan kuliner khas dengan tradisi ancak memperkuat unsur budaya lokal dalam kegiatan tersebut. Produk daerah pun mendapatkan ruang untuk tampil dalam kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Beberapa unsur yang terlihat dalam pelaksanaan kirab meliputi:
- Hasil bumi dari masyarakat Jember menjadi bagian dari isi ancak.
- Makanan tradisional dan produk lokal turut menghiasi berbagai ancak.
- Gunungan suwar-suwir menjadi salah satu bagian utama pencatatan rekor.
- Kelompok masyarakat dari berbagai wilayah mengikuti prosesi.
- Lembaga pemerintahan dan organisasi masyarakat turut berpartisipasi.
Tradisi Kirab Ancak Agung Jember Perkuat Gotong Royong
Selain mencatat rekor, Kirab Ancak Agung memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan tradisi daerah. Berbagai kelompok membawa ancak dan mengikuti prosesi menuju pusat kegiatan.
Pemerintah Kabupaten Jember menjadikan agenda tersebut sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan. Tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember” menjadi bagian dari penyelenggaraan tahun ini (ANTARA, 2026).
Bupati Jember Muhammad Fawait juga mengajak masyarakat menjaga persatuan melalui kegiatan budaya dan keagamaan. Pesan tersebut menghubungkan peringatan Maulid Nabi dengan semangat kebangsaan serta kepedulian terhadap sesama.
Keterlibatan warga menjadi salah satu unsur penting dalam keberlangsungan tradisi. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi ikut membuat, mengangkut, dan membagikan isi ancak selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Masyarakat Jember Ikuti Pembagian Hasil Bumi
Setelah prosesi kirab dan pencatatan rekor selesai, masyarakat mendapatkan kesempatan mengambil hasil bumi yang terdapat dalam ancak. Warga berkumpul di sekitar Alun-Alun Jember untuk mengikuti pembagian tersebut.
Pembagian hasil ancak memperlihatkan nilai kebersamaan yang terdapat dalam Kirab Ancak Agung. Hasil bumi dan makanan yang sebelumnya dibawa dalam prosesi kemudian dapat dinikmati bersama oleh masyarakat (ANTARA, 2026).
Sejumlah kelompok dari berbagai sektor turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Unsur pemerintah, sekolah, fasilitas kesehatan, desa, kelurahan, dan kelompok masyarakat menjadi bagian dari peserta.
Kehadiran berbagai elemen tersebut memperluas fungsi Kirab Ancak Agung sebagai kegiatan budaya bersama. Ruang pertemuan berbagai kelompok pun tercipta melalui satu prosesi yang menggabungkan unsur keagamaan, budaya, dan sosial.
Rekor MURI Kirab Ancak Agung Jember Perkuat Budaya Lokal
Pencapaian dua rekor MURI memberikan perhatian lebih besar terhadap Kirab Ancak Agung. Prestasi tersebut memperlihatkan kemampuan masyarakat Jember mempertahankan tradisi sekaligus mengemasnya dalam kegiatan berskala besar.
Pada 2025, MURI sebelumnya mencatat Kirab Ancakan Agung Terbanyak. Saat itu, sebanyak 449 gunungan berisi buah-buahan, sayuran, dan makanan khas masyarakat tercatat dalam kegiatan tersebut (MURI, 2025).
Skala kegiatan tahun ini menunjukkan peningkatan dibandingkan pencapaian sebelumnya. Unsur berbagi juga tetap dipertahankan melalui pembagian hasil ancak kepada masyarakat setelah prosesi selesai.
Potensi wisata budaya Jember turut dapat diperkuat melalui kegiatan tersebut. Perpaduan unsur keagamaan, kuliner, hasil bumi, dan gotong royong memberikan karakter tersendiri bagi tradisi lokal.
Kirab Ancak Agung Jadi Ruang Promosi Budaya Jember
Kegiatan Kirab Ancak Agung memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai produk lokal. Suwar-suwir menjadi salah satu contoh kuliner khas yang memperoleh perhatian melalui pencatatan rekor tersebut.
Hasil bumi yang digunakan dalam ancak juga menunjukkan keterkaitan tradisi dengan kehidupan masyarakat di sektor pertanian. Produk pertanian kemudian diolah menjadi bagian dari ekspresi budaya yang dinikmati secara bersama-sama.
Penyelenggaraan secara rutin dapat membantu generasi muda mengenal dan memahami tradisi daerah. Keterlibatan anak muda dalam proses persiapan maupun pelaksanaan kirab juga dapat mendukung keberlanjutan budaya Jember pada masa mendatang.
Kirab Ancak Agung Jember berhasil mencatat dua rekor MURI melalui jumlah ancak dan gunungan suwar-suwir. Pencapaian tersebut memperlihatkan perpaduan tradisi, budaya, kuliner, keagamaan, dan gotong royong yang masih berkembang di tengah masyarakat.
Pembaca dapat mengikuti berita budaya daerah dan berbagai tradisi Indonesia lainnya melalui artikel terbaru di Garap Media. Informasi tersebut dapat membantu pembaca mengenal kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia.
Referensi
