Kebakaran Kalimantan Meluas, Hujan Buatan Jadi Harapan Atasi Karhutla

Last Updated: 19 August 2026, 23:18

Bagikan:

Kebakaran Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan melanda Palangka Raya, Kalimantan Tengah, di tengah musim kemarau dan pengaruh El Nino. Sumber gambar: Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana.
Table of Contents

Kebakaran Kalimantan kembali menjadi perhatian ketika musim kemarau dan El Nino memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Indonesia mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan, tetapi para ahli menilai metode tersebut hanya dapat bekerja ketika awan yang sesuai tersedia. (BMKG, 2026).

Kebakaran Kalimantan Meluas di Tengah El Nino 2026

Kalimantan menghadapi peningkatan risiko karhutla ketika kondisi cuaca menjadi semakin kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan risiko karhutla meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. BMKG juga menetapkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai wilayah prioritas pengawasan bersama Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi. (BMKG, 2026).

Data pemerintah menunjukkan besarnya tekanan kebakaran di Kalimantan. Pemerintah Indonesia mencatat lebih dari 100.000 hektare lahan terbakar di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, pada paruh pertama 2026. Sementara itu, pemantauan independen Nusantara Atlas mencatat luasan area terbakar nasional yang lebih besar hingga Juli.

Kondisi di sejumlah wilayah Kalimantan juga menunjukkan ancaman yang masih berlangsung. Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 8 September 2026 karena kejadian kebakaran masih tinggi dan sejumlah titik api mulai mendekati permukiman. (ANTARA, 2026).

Beberapa kondisi yang memperbesar risiko kebakaran meliputi:

  • El Nino kuat: Fenomena tersebut memperkuat kondisi panas dan kering.
  • Curah hujan rendah: Kondisi tersebut membuat vegetasi lebih mudah terbakar.
  • Lahan gambut kering: Kondisi tersebut membuat api dapat menjalar hingga lapisan bawah tanah.
  • Aktivitas manusia: Pembukaan lahan dan penggunaan api dapat memicu kebakaran baru.
  • Musim kemarau: Periode tersebut meningkatkan kemungkinan penyebaran api.

Hujan Buatan Mengandalkan Awan Potensial untuk Menghasilkan Hujan

Pemerintah menggunakan OMC sebagai salah satu strategi untuk mengurangi risiko karhutla. Metode tersebut memanfaatkan bahan semai seperti natrium klorida untuk membantu proses pembentukan hujan dari awan yang memiliki potensi menghasilkan presipitasi. (ANTARA, 2026).

BMKG menegaskan bahwa OMC bukan metode yang menciptakan awan dari kondisi langit yang benar-benar cerah. Operasi tersebut justru mengoptimalkan awan yang sudah memiliki potensi menghasilkan hujan agar presipitasi dapat terjadi pada wilayah yang membutuhkan.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika awan potensial tidak tersedia, pesawat penyemai tidak dapat bekerja secara optimal.

BMKG mencatat pelaksanaan OMC untuk mitigasi karhutla telah dilakukan di berbagai wilayah selama 2026. Operasi tersebut mencakup sejumlah wilayah rawan seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. (BMKG, 2026).

Operasi Modifikasi Cuaca Kalimantan Memiliki Keterbatasan

OMC memberikan dukungan terhadap penanganan karhutla, tetapi metode tersebut tidak dapat menggantikan pemadaman langsung. BMKG menyatakan pemadaman titik api di darat tetap menjadi tumpuan utama ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan penyemaian awan. (BMKG, 2026).

Kalimantan Selatan menjadi salah satu contoh keterbatasan tersebut. Pemerintah daerah mempertimbangkan OMC tahap kedua, tetapi pelaksanaannya masih menunggu kondisi awan yang memenuhi syarat untuk disemai. OMC tahap pertama di wilayah tersebut berlangsung pada 15–21 Juli 2026. (ANTARA, 2026).

Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu menggunakan beberapa metode secara bersamaan, seperti:

  • Pemadaman darat: Petugas menangani api yang dapat dijangkau dari permukaan.
  • Water bombing: Helikopter menjatuhkan air pada titik api yang sulit dijangkau.
  • OMC: Pesawat menyemai awan potensial untuk meningkatkan peluang hujan.
  • Patroli hotspot: Petugas memantau titik panas untuk mendeteksi kebakaran lebih awal.
  • Pembasahan gambut: Petugas menjaga kelembapan gambut untuk mencegah api kembali muncul.

Lahan Gambut dan Alih Fungsi Hutan Tetap Menjadi Persoalan

Kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca. Aktivitas manusia juga dapat meningkatkan risiko ketika masyarakat membuka lahan dengan pembakaran atau melakukan kegiatan lain yang memicu api.

Lahan gambut memberikan tantangan tambahan karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Petugas karena itu membutuhkan penyiraman berulang untuk memastikan bara tidak kembali menyala. BPBD Kalimantan Barat menjelaskan bahwa pemadaman lahan gambut membutuhkan penanganan khusus karena api dapat menjalar hingga beberapa meter di bawah permukaan. (ANTARA, 2026).

Aktivis lingkungan juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, seperti perubahan fungsi hutan hujan dan pengelolaan lahan gambut. Perspektif tersebut menunjukkan bahwa hujan buatan hanya dapat membantu menghadapi kondisi darurat, sedangkan pencegahan kebakaran membutuhkan pengelolaan lahan dalam jangka panjang.

Pencegahan Kebakaran Kalimantan Membutuhkan Pengawasan Berkelanjutan

Pemerintah perlu mempertahankan pengawasan selama musim kemarau belum berakhir. BMKG memperkirakan risiko karhutla masih tinggi hingga periode Agustus–September sehingga patroli, deteksi dini, dan kesiapan pemadaman perlu terus berjalan. (BMKG, 2026).

Pemerintah Kalimantan Barat juga memperkuat kesiapsiagaan melalui patroli, deteksi dini, dan operasi pemadaman terpadu. Pemerintah daerah mencatat peningkatan titik panas di sejumlah wilayah sehingga petugas perlu mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (ANTARA, 2026).

Kebakaran Kalimantan menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem dapat memperbesar ancaman terhadap hutan dan lahan. OMC dapat membantu ketika awan potensial tersedia, tetapi pemadaman darat, patroli, pengelolaan gambut, dan pencegahan sumber api tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla.

Perkembangan karhutla dan kondisi lingkungan Kalimantan masih perlu dipantau karena musim kemarau 2026 belum berakhir. Pembaca dapat mengikuti informasi lingkungan dan fenomena alam terbaru melalui Garap Media untuk mengetahui perkembangan kebakaran, cuaca, dan upaya mitigasi pemerintah.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /