Karhutla Kalimantan Barat Ancam Orang Utan, 18 Satwa Berhasil Dievakuasi

Last Updated: 18 September 2026, 01:09

Bagikan:

Karhutla Kalimantan Orang Utan
Tim YIARI Kalbar mengevakuasi orang utan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Sumber gambar: ANTARA/HO-YIARI Kalbar/aa.
Table of Contents

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus mengancam satwa liar yang kehilangan habitat dan sumber makanan. Di Kalimantan Barat, sebanyak 18 individu orang utan berhasil dievakuasi sejak 3 Agustus hingga 14 September 2026, sedangkan BKSDA Kalimantan Selatan mengonfirmasi 12 bekantan mati akibat kebakaran di Hulu Sungai Selatan. (YIARI, 2026; ANTARA, 2026)

Karhutla Kalimantan Barat Mendorong Evakuasi 18 Orang Utan

Yayasan IAR Indonesia (YIARI) mencatat 18 individu orang utan telah diselamatkan di Kalimantan Barat hingga 14 September 2026. Data tersebut menunjukkan kebakaran tidak hanya menghancurkan tutupan habitat, tetapi juga mendorong orang utan keluar dari kawasan hutan menuju kebun dan area yang lebih dekat dengan permukiman. (YIARI, 2026)

Sebagian besar satwa yang dievakuasi terdiri atas induk dan anak. Kondisi tersebut membuat tim penyelamat harus melakukan pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis sebelum menentukan perawatan lanjutan bagi setiap individu.

Beberapa kondisi yang ditemukan tim penyelamat antara lain:

  • Satwa mengalami dehidrasi akibat terbatasnya akses air.
  • Satwa mengalami kekurangan makanan setelah habitat terbakar.
  • Satwa mengalami luka bakar pada bagian tubuh tertentu.
  • Satwa mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
  • Satwa berpindah ke kebun warga setelah habitat alaminya terganggu.

Data YIARI pada 16 September kemudian mencatat jumlah orang utan yang telah dievakuasi di Kalimantan Barat mencapai 21 individu. Pembaruan tersebut menunjukkan operasi penyelamatan masih berlangsung setelah periode pencatatan 3 Agustus-14 September yang mencatat 18 individu. (YIARI, 2026)

Mama Penja dan Penja Ditemukan Kurus serta Terluka

Tim gabungan Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, Yayasan Palung, LPHD, dan masyarakat mengevakuasi Mama Penja dan Penja di Desa Penjalaan, Kayong Utara, pada 12 September 2026. Tim menemukan induk dan anak orang utan tersebut dalam kondisi kurus dan lemas setelah kebakaran mengganggu habitat di sekitar lokasi. (ANTARA, 2026)

Pemeriksaan medis menemukan kondisi Mama Penja lebih serius. Tim medis menemukan dehidrasi berat, anemia, kerusakan gigi, serta luka bakar pada kedua kaki yang menyebabkan kulit terkelupas. Dokter menduga luka bakar tersebut muncul ketika Mama Penja berjalan di atas tanah gambut yang terbakar. (detikKalimantan, 2026)

Kondisi gigi Mama Penja juga menunjukkan dampak hilangnya sumber pakan. Dokter menduga keterbatasan makanan membuat satwa tersebut mengonsumsi makanan yang tidak sesuai secara berulang sehingga menyebabkan pengikisan gigi. (detikKalimantan, 2026)

Kumbang Kembali Dievakuasi Setelah Habitatnya Terbakar

Kumbang menjadi contoh lain dari satwa yang kembali membutuhkan pertolongan setelah habitatnya berubah akibat karhutla. Tim menemukan orang utan jantan tersebut di Desa Padu Banjar setelah satwa itu masuk ke kebun warga dan mendekati permukiman. (detikKalimantan, 2026)

Hasil pemindaian microchip mengidentifikasi Kumbang sebagai orang utan yang pernah dievakuasi pada 2022. Tim sebelumnya menilai habitat Kumbang aman untuk ditempati setelah proses pelepasliaran. Namun, kebakaran yang meluas kemudian mengubah kondisi habitat tersebut dan mendorong Kumbang kembali mendekati wilayah manusia. (detikKalimantan, 2026)

Tim medis juga menemukan tanda gangguan pernapasan pada Kumbang. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap karena lokasi evakuasi mengalami kabut asap yang cukup tebal. (detikKalimantan, 2026)

Karhutla Kalimantan Selatan Tewaskan 12 Bekantan

Dampak karhutla juga terjadi di Kalimantan Selatan. BKSDA Kalimantan Selatan mengonfirmasi 12 bekantan ditemukan mati terbakar di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, setelah kebakaran melanda habitat mereka pada Minggu (13/9). (ANTARA, 2026)

Tim BKSDA melakukan pemeriksaan lokasi pada Senin (14/9). Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan 12 bekantan, satu ular piton, dan satu king kobra dalam kondisi mati akibat kebakaran. (KSDAE, 2026)

Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Agus Ngurah Krisna mengatakan kawasan tersebut diperkirakan menjadi habitat sekitar 60 bekantan berdasarkan informasi kepala desa. BKSDA masih perlu memverifikasi jumlah populasi tersebut melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran. (ANTARA, 2026)

BKSDA juga masih memantau keberadaan satwa lain di kawasan tersebut. Petugas mencatat beberapa jenis satwa lain, seperti lutung dan monyet ekor panjang, masih berada dalam pemantauan setelah kebakaran. (KSDAE, 2026)

Kementerian Kehutanan Siagakan 53 Armada Udara

Kementerian Kehutanan terus menjalankan operasi pengendalian karhutla melalui pemadaman darat dan udara. Pemerintah menyiagakan 53 armada udara di enam provinsi prioritas untuk mempercepat penanganan titik kebakaran. (Kementerian Kehutanan, 2026)

Armada tersebut memiliki pembagian tugas sebagai berikut:

  • 34 armada menjalankan operasi water bombing.
  • 19 armada menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca.
  • Tim darat menjalankan patroli dan pengecekan lapangan.
  • Petugas melakukan pendinginan setelah api berhasil dipadamkan.
  • Tim gabungan melakukan pemantauan untuk mencegah munculnya titik api baru.

Kementerian Kehutanan melaporkan penurunan hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan dalam pembaruan berikutnya. Namun, operasi pengendalian tetap berlangsung karena kebakaran masih mengancam kawasan hutan dan habitat satwa. (Kementerian Kehutanan, 2026)

Dampak Karhutla terhadap Satwa Berlanjut Setelah Api Padam

Api yang mereda tidak langsung mengembalikan kondisi habitat satwa. Kebakaran dapat menghilangkan sumber makanan, merusak tempat berlindung, dan memaksa satwa bergerak menuju area perkebunan atau permukiman. Kasus Mama Penja, Penja, dan Kumbang menunjukkan bahwa dampak kebakaran dapat berlanjut setelah satwa meninggalkan kawasan yang terbakar. (YIARI, 2026; detikKalimantan, 2026)

Karena itu, tim penyelamat masih melakukan pemantauan terhadap satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak. YIARI bersama BKSDA Kalimantan Barat juga menyiagakan tim medis untuk menangani satwa yang ditemukan dalam kondisi membutuhkan pertolongan. (YIARI, 2026)

Garap Media akan terus menghadirkan perkembangan mengenai karhutla, konservasi, dan kondisi satwa liar di Indonesia. Pembaca dapat mengikuti artikel Garap Media lainnya untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai lingkungan dan peristiwa nasional.

Garap Media juga menyajikan berbagai berita tentang alam, budaya, teknologi, hiburan, dan gaya hidup. Baca artikel lainnya di Garap Media untuk mengikuti perkembangan isu yang sedang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /