Garap Media – Dunia startup sedang memasuki fase yang berbeda. Jika beberapa tahun lalu pertumbuhan pengguna dan ekspansi agresif bisa menjadi alasan untuk mengejar pendanaan berikutnya, investor kini semakin banyak menanyakan satu hal sederhana: kapan bisnis ini bisa menghasilkan uang? Perubahan tersebut terasa kuat di Indonesia setelah pendanaan startup mengalami tekanan dan investor menjadi jauh lebih selektif.
Data Indonesia.vc menunjukkan pendanaan ekuitas startup Indonesia pada kuartal III 2025 hanya sekitar US$140–150 juta, sementara laporan tersebut menyebut preferensi investor mulai bergeser ke profitabilitas, tata kelola, dan pertumbuhan yang lebih sehat. (ImageKit) Era “bakar uang dulu, untung belakangan” belum sepenuhnya hilang, tetapi jelas tidak lagi semudah sebelumnya.
1. Investor Kini Lebih Peduli pada Uang yang Tersisa
Model startup yang terus menghabiskan modal untuk mengejar pengguna menghadapi pertanyaan lebih berat dibandingkan sebelumnya. Investor ingin mengetahui berapa lama uang perusahaan dapat bertahan sebelum membutuhkan pendanaan baru. Semakin cepat kas habis, semakin besar pula risiko startup terpaksa mencari investor ketika kondisi pasar sedang buruk.
Perubahan ini membuat istilah cash burn semakin penting dalam ruang rapat perusahaan. Startup tidak cukup mengatakan jumlah penggunanya meningkat jika biaya mendapatkan pengguna jauh lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan. Investor kini melihat hubungan antara biaya, pendapatan, retensi pelanggan, dan kemampuan bisnis bertahan tanpa terus bergantung pada suntikan modal.
2. Pendanaan Startup Indonesia Makin Selektif
Pasar modal ventura Indonesia mengalami penurunan yang cukup tajam setelah periode pendanaan besar pada 2021-2022. Data Tracxn yang dikutip The Business Times menunjukkan perusahaan teknologi Indonesia mengumpulkan sekitar US$213 juta sepanjang 2025, turun 38 persen dari US$345 juta pada 2024. Nilai tersebut bahkan sekitar 85 persen lebih rendah dibandingkan puncak US$1,4 miliar pada 2023. (The Business Times)
Angka tersebut memperlihatkan bahwa startup tidak bisa lagi mengandalkan pasar pendanaan yang selalu menyediakan modal baru. Investor cenderung menyimpan uang untuk perusahaan dengan model bisnis lebih jelas dan unit economics yang masuk akal. Akibatnya, startup yang mampu membuktikan efisiensi memiliki peluang lebih besar dibandingkan perusahaan yang hanya menawarkan cerita pertumbuhan tanpa fondasi keuangan kuat.
3. Pertumbuhan Cepat Tidak Lagi Cukup
Dulu, pertumbuhan pengguna sering menjadi angka paling menarik dalam presentasi startup. Perusahaan bisa mengejar jutaan pengguna dengan subsidi, diskon, promosi, atau biaya pemasaran besar. Strategi tersebut masuk akal jika investor percaya perusahaan nantinya mampu mengubah skala pengguna menjadi keuntungan.
Masalahnya muncul ketika subsidi dihentikan dan pelanggan tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan. Investor sekarang semakin memperhatikan unit economics, yaitu apakah setiap pelanggan benar-benar menghasilkan nilai yang lebih besar daripada biaya untuk mendapatkannya. Startup yang mampu menunjukkan pelanggan loyal, margin sehat, dan pendapatan berulang memiliki cerita yang jauh lebih menarik di hadapan investor.
4. Tata Kelola Menjadi Senjata Penting Startup
Perubahan investor bukan hanya mengenai profitabilitas. Tata kelola perusahaan juga semakin diperhatikan setelah sejumlah kasus startup besar menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas laporan keuangan dan pengawasan internal. Indonesia.vc menyebut gejolak tata kelola di sektor startup Indonesia ikut mendorong perubahan standar investor dalam melakukan pemeriksaan sebelum transaksi. (Indonesia VC)
Artinya, pendiri startup tidak lagi cukup memiliki ide bagus dan kemampuan presentasi. Investor ingin melihat laporan keuangan yang dapat diperiksa, struktur perusahaan yang jelas, penggunaan dana yang masuk akal, serta pengawasan terhadap manajemen. Kepercayaan menjadi aset yang semakin mahal karena satu masalah tata kelola dapat menghancurkan valuasi dan membuat pendanaan berikutnya jauh lebih sulit.
5. AI Justru Membuat Investor Semakin Menuntut Efisiensi
Kehadiran AI membawa paradoks baru bagi startup. Di satu sisi, teknologi tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi biaya operasional, mempercepat pengembangan produk, dan meningkatkan produktivitas tim. Di sisi lain, investor dapat bertanya mengapa startup membutuhkan ratusan pekerja jika teknologi mampu menyelesaikan sebagian pekerjaan dengan jumlah tenaga yang lebih kecil.
Perubahan ini membuat startup berbasis AI mendapatkan perhatian besar, tetapi bukan berarti semua perusahaan yang menggunakan label AI otomatis menarik. Di Amerika Serikat, misalnya, pendanaan startup melonjak pada paruh pertama 2025 terutama karena investasi AI, sementara penghimpunan dana oleh perusahaan modal ventura justru mengalami tekanan. (Reuters) Investor tetap mencari pertumbuhan, tetapi semakin ingin melihat alasan ekonomi yang kuat di balik teknologi tersebut.
6. Startup Harus Memiliki Jalan Keluar yang Jelas
Investor juga mulai memikirkan bagaimana modal mereka bisa kembali. IPO, akuisisi, atau penjualan saham kepada investor berikutnya menjadi bagian penting dalam perhitungan investasi. Tanpa kemungkinan exit yang realistis, valuasi tinggi hanya menjadi angka di atas kertas.
Perubahan strategi investor besar menunjukkan kecenderungan tersebut. Financial Times melaporkan Temasek mengurangi investasi langsung pada perusahaan tahap awal dan menjadi lebih berhati-hati setelah menghadapi kerugian pada sejumlah investasi startup. (Financial Times) Investor besar akhirnya tidak hanya bertanya apakah sebuah perusahaan bisa tumbuh, tetapi juga apakah pertumbuhan tersebut dapat menghasilkan keuntungan investasi.
7. Era Baru Startup: Tumbuh, Tetapi Harus Sehat
Perubahan ini bukan berarti investor berhenti menyukai startup yang tumbuh cepat. Perusahaan dengan potensi pasar besar tetap dapat memperoleh pendanaan dalam jumlah besar, terutama pada sektor yang dianggap strategis seperti AI, teknologi energi, kesehatan, dan infrastruktur digital.
Bedanya, pertumbuhan kini harus lebih dapat dipertanggungjawabkan. Laporan DealStreetAsia menunjukkan pendanaan ekuitas Asia Tenggara pada paruh kedua 2025 memang meningkat menjadi US$3,51 miliar, tetapi kenaikan tersebut banyak didorong sejumlah transaksi besar, sementara jumlah transaksi tahunan tetap berada di salah satu level terendah dalam lebih dari enam tahun. (DealStreetAsia) Modal masih tersedia, tetapi tidak lagi dibagikan secara merata.
Penutup
Investor tidak benar-benar meninggalkan startup. Mereka hanya mengubah standar permainan.
Perusahaan yang dahulu bisa menarik perhatian hanya dengan pertumbuhan pengguna kini harus membuktikan pendapatan, efisiensi, retensi pelanggan, tata kelola, dan jalur menuju profitabilitas. Startup yang masih menghabiskan uang tanpa mengetahui kapan model bisnisnya akan sehat akan menghadapi tekanan jauh lebih besar.
Pada akhirnya, era baru startup bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan pendanaan. Pemenangnya adalah perusahaan yang mampu mengubah setiap rupiah modal menjadi pertumbuhan yang benar-benar bernilai.
Sumber Referensi
- Indonesia.vc – Indonesia Startup Funding Report Q3 2025
https://indonesia.vc/insights/the-great-compression-indonesia-venture-report-q3-2025 - DealStreetAsia- Southeast Asia Startup Funding Report 2025
https://www.dealstreetasia.com/reports/southeast-asia-startup-funding-report-2025 - The Business Times – Indonesia Tech Funding Down 38% in 2025 as Investors Turn Selective
https://www.businesstimes.com.sg/international/asean/indonesia-tech-funding-down-38-2025-investors-turn-selective-report - Reuters – US AI Startups See Funding Surge While More VC Funds Struggle to Raise
https://www.reuters.com/business/us-ai-startups-see-funding-surge-while-more-vc-funds-struggle-raise-data-shows-2025-07-15/ - Financial Times – Singapore’s Temasek Cuts Back on Start-up Investments
https://www.ft.com/content/54594076-eea5-4c0d-946c-e05ba7038d3e
