Butet Kartaredjasa mendapat kesempatan langka untuk menyerahkan langsung lukisan bertema Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV di kompleks Basilika Santo Petrus, Vatikan. Pertemuan yang berlangsung pada 17 Juni 2026 itu menjadi momen bersejarah karena mempertemukan seni, spiritualitas, dan budaya Indonesia di panggung internasional. Lukisan yang memadukan kisah Jalan Salib dengan tokoh Punakawan Jawa tersebut mendapat apresiasi dari Paus Leo XIV sebagai bentuk tafsir religius yang unik dan sarat nilai kemanusiaan. (Kompas, 2026; detikJogja, 2026).
Butet Paus Leo Hadirkan Momen Bersejarah di Vatikan
Pertemuan antara Butet Kartaredjasa dan Paus Leo XIV berlangsung sekitar pukul 12.30 waktu setempat di halaman Basilika Santo Petrus. Butet hadir bersama istrinya, Rulyani Isfihana atau Bu Ageng, dengan mengenakan busana adat Jawa.
Keduanya telah menunggu sejak pagi bersama tamu lain yang ingin mengikuti audiensi umum dengan pemimpin Gereja Katolik tersebut. Setelah melalui proses yang panjang, Butet akhirnya mendapat kesempatan untuk bersalaman sekaligus menyerahkan karya seninya secara langsung.
Butet menyebut bahwa momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupnya. Pertemuan itu tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi simbol penghargaan terhadap kreativitas dan kebudayaan Indonesia. (detikJogja, 2026).
Beberapa fakta penting dari pertemuan tersebut meliputi:
- Pertemuan berlangsung di Basilika Santo Petrus, Vatikan.
- Butet hadir bersama sang istri.
- Keduanya mengenakan pakaian adat Jawa.
- Audiensi dilakukan bersama tamu dari berbagai negara.
- Lukisan diserahkan langsung kepada Paus Leo XIV.
Lukisan Jalan Salib Jawa Butet Kartaredjasa Tampilkan Tokoh Punakawan
Lukisan yang dibawa Butet mengangkat kisah Jalan Salib dalam visualisasi budaya Jawa. Karya tersebut menghadirkan tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai medium penyampaian nilai-nilai spiritual.
Butet menilai bahwa Punakawan merupakan simbol yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa. Tokoh-tokoh tersebut selama ini hadir sebagai representasi kebijaksanaan, kritik sosial, kerendahan hati, dan kemanusiaan.
Melalui pendekatan tersebut, Butet berupaya menerjemahkan perjalanan Yesus menuju penyaliban ke dalam bahasa budaya lokal yang lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Tafsir kultural itu menjadi jembatan antara nilai religius dan identitas budaya Nusantara. (detikJogja, 2026).
Makna yang terkandung dalam lukisan tersebut antara lain:
- Semar melambangkan kebijaksanaan.
- Gareng merepresentasikan kehati-hatian.
- Petruk menggambarkan kritik sosial.
- Bagong melambangkan kejujuran.
- Jalan Salib menjadi refleksi perjuangan kemanusiaan.
Proses Butet Paus Leo Dimulai dari Peninjauan Vatikan
Kesempatan bertemu Paus Leo XIV tidak diperoleh secara instan. Butet mengungkapkan bahwa lukisan tersebut lebih dahulu dikirim ke Sekretariat Vatikan untuk melalui proses peninjauan.
Setelah melewati berbagai tahapan administratif dan protokoler, Butet akhirnya menerima undangan resmi untuk hadir dalam audiensi umum. Proses tersebut membutuhkan waktu beberapa bulan serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk KBRI Takhta Suci Vatikan.
Butet menyebut perjuangan tersebut sebagai bentuk kesungguhan untuk memperkenalkan karya seni Indonesia kepada dunia internasional. Ia mengakui bahwa tanpa proses lobi yang panjang, kesempatan bertemu Paus hampir mustahil terwujud. (detikJogja, 2026).
Paus Leo XIV Apresiasi Tafsir Jalan Salib Versi Jawa
Paus Leo XIV dikabarkan menyambut hangat karya yang dibawa Butet. Pemimpin Gereja Katolik tersebut menunjukkan ketertarikan terhadap cara unik dalam menafsirkan Jalan Salib melalui tokoh lokal Jawa.
Menurut Butet, Paus merasa senang karena melihat adanya inisiatif dari masyarakat Asia, khususnya Indonesia, untuk menghidupkan nilai-nilai religius melalui pendekatan budaya setempat.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa seni mampu melampaui batas geografis, bahasa, dan latar belakang keyakinan. Dialog budaya yang terbangun melalui lukisan ini menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi sumber inspirasi bersama. (detikJogja, 2026).
Butet Paus Leo Jadi Simbol Dialog Lintas Iman
Butet menilai bahwa pertemuan tersebut membawa pesan pluralisme yang kuat. Ia menyebut bahwa latar belakang dirinya, keluarganya, serta tema yang diangkat dalam lukisan menunjukkan adanya ruang dialog yang luas di tengah keberagaman.
Lukisan Jalan Salib versi Jawa bukan sekadar karya seni. Karya tersebut menjadi simbol perjumpaan antara budaya Indonesia dengan tradisi Katolik dunia.
Momen itu juga menunjukkan bahwa identitas budaya lokal memiliki tempat terhormat di forum internasional. Nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya mampu diterima dan diapresiasi oleh berbagai kalangan tanpa memandang perbedaan keyakinan. (detikJogja, 2026).
Nilai yang tercermin dari peristiwa tersebut meliputi:
- Penghormatan terhadap keberagaman.
- Dialog lintas iman.
- Diplomasi budaya Indonesia.
- Pelestarian seni tradisional.
- Penguatan nilai kemanusiaan.
Butet Kartaredjasa Bawa Nama Indonesia ke Panggung Dunia
Penyerahan lukisan Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV menjadi salah satu contoh nyata bagaimana seni dapat menjadi jembatan antarbangsa. Butet membuktikan bahwa karya yang berakar pada budaya lokal mampu berbicara di tingkat global.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki daya tarik universal. Kreativitas yang berpijak pada tradisi dapat menghadirkan percakapan baru mengenai spiritualitas, kemanusiaan, dan toleransi.
Jangan lewatkan berbagai berita inspiratif seputar seni, budaya, dan tokoh Indonesia hanya di Garap Media. Kami akan terus menghadirkan kisah-kisah bermakna yang menunjukkan kontribusi Indonesia di panggung dunia.
Temukan juga artikel menarik lainnya di Garap Media agar Anda tidak ketinggalan informasi terbaru tentang budaya, sejarah, dan peristiwa penting yang menginspirasi masyarakat.
Referensi
