Garap Media – Dunia startup Indonesia sedang memasuki fase yang berbeda dari era ketika modal mudah diperoleh dan pertumbuhan pengguna menjadi ukuran utama. Investor kini semakin memperhatikan efisiensi modal, fundamental bisnis, dan kemampuan perusahaan membangun pertumbuhan yang berkelanjutan. Pada paruh pertama 2025, pendanaan startup Asia Tenggara hanya mencatat 229 transaksi dengan nilai US$1,85 miliar, menjadi salah satu periode terlemah dalam lebih dari enam tahun.
Situasi tersebut membuat founder tidak bisa lagi hanya mengandalkan cerita besar tentang potensi pasar. Produk memang penting, tetapi pengelolaan uang, tim, pelanggan, dan tata kelola ikut menentukan apakah sebuah startup mampu bertahan. Berikut lima kesalahan startup Indonesia yang sering terjadi tanpa disadari founder.
1. Terlalu Cepat Mengejar Pertumbuhan
Kesalahan pertama adalah menganggap pertumbuhan harus selalu terjadi secepat mungkin. Founder dapat tergoda memperbesar tim, membuka pasar baru, meningkatkan belanja pemasaran, atau meluncurkan banyak fitur setelah memperoleh modal. Masalahnya, pertumbuhan biaya belum tentu diikuti pertumbuhan pendapatan yang sebanding. Ketika modal mulai menipis, perusahaan dapat menghadapi tekanan untuk melakukan efisiensi secara mendadak. Strategi agresif akhirnya berubah menjadi beban jika model bisnis belum benar-benar terbukti.
Perubahan kondisi pendanaan membuat pola tersebut semakin berisiko. DealStreetAsia mencatat investor Asia Tenggara semakin menekankan capital efficiency dan fundamental bisnis dibanding pertumbuhan agresif. Founder karena itu perlu memahami berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelanggan dan berapa nilai yang dapat dihasilkan pelanggan tersebut. Pertumbuhan yang sehat bukan sekadar jumlah pengguna bertambah. Pertumbuhan harus menciptakan ekonomi bisnis yang semakin masuk akal.
2. Mengira Pendanaan Berarti Masalah Bisnis Sudah Selesai
Pendanaan sering dianggap sebagai validasi bahwa startup telah menemukan formula yang tepat. Padahal, uang investor sebenarnya hanya memberi perusahaan waktu dan sumber daya untuk membuktikan model bisnisnya. Ketika modal masuk dalam jumlah besar, founder justru memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memastikan setiap rupiah digunakan secara produktif. Tanpa prioritas yang jelas, dana dapat tersebar ke terlalu banyak proyek. Akhirnya startup memiliki banyak aktivitas tetapi sedikit kemajuan fundamental.
East Ventures pada 2025 menekankan pentingnya disiplin dalam menilai risiko dan imbal hasil investasi startup. Dalam kondisi pendanaan yang lebih ketat, perusahaan juga perlu memperbaiki unit economics dan menyesuaikan cara menggunakan modal. Founder perlu membedakan antara pengeluaran yang benar-benar membangun aset bisnis dengan pengeluaran yang hanya membuat perusahaan terlihat semakin besar. Kesalahan pada tahap ini sering tidak terasa ketika kas masih tebal.
3. Terlalu Fokus pada Pengguna, Lupa Monetisasi
Jumlah pengguna yang besar memang menarik, tetapi tidak otomatis berarti bisnis sehat. Startup dapat mempunyai jutaan pengguna namun tetap kesulitan apabila biaya memperoleh pelanggan terlalu tinggi atau pelanggan tidak menghasilkan pendapatan yang memadai. Promo besar-besaran juga dapat membuat angka transaksi terlihat mengesankan selama subsidi masih tersedia. Ketika promosi dikurangi, founder baru dapat mengetahui apakah pelanggan benar-benar membutuhkan produk tersebut. Di sinilah perbedaan antara popularitas dan bisnis yang berkelanjutan terlihat.
Dalam lingkungan investasi yang lebih selektif, investor semakin memperhatikan fundamental dan efisiensi modal. Karena itu, founder perlu memahami metrik seperti customer acquisition cost, lifetime value, gross margin, retention, dan burn rate. Metrik tersebut membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar “berapa banyak pengguna yang kita punya?”. Pertanyaannya adalah apakah setiap pengguna membantu perusahaan mendekati bisnis yang semakin sehat.
4. Membangun Tim Besar Sebelum Sistem Siap
Kesalahan berikutnya adalah memperbesar organisasi terlalu cepat. Startup yang memperoleh pendanaan sering merasa harus segera merekrut banyak orang agar dapat mengejar target ekspansi. Namun, jumlah karyawan yang meningkat membawa konsekuensi berupa gaji, fasilitas, manajemen, perekrutan, dan biaya operasional lainnya. Jika struktur organisasi belum jelas, perusahaan dapat menjadi semakin lambat justru ketika seharusnya bergerak cepat. Founder akhirnya menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengelola internal dibanding memperbaiki produk.
Kasus eFishery memberikan gambaran mengenai risiko biaya operasional yang membesar. Berdasarkan laporan DealStreetAsia mengenai draf audit forensik, perusahaan tersebut pernah memiliki 2.599 karyawan pada Januari 2024 dan menghadapi biaya personel serta operasional yang besar, sementara laporan tersebut juga menyoroti keterbatasan adopsi teknologi dalam operasionalnya. Kasus tersebut tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh startup Indonesia. Namun, pelajarannya jelas: perekrutan harus mengikuti kebutuhan bisnis dan produktivitas, bukan sekadar mengikuti besarnya pendanaan.
5. Menganggap Tata Kelola Bisa Menunggu
Kesalahan terakhir adalah menunda tata kelola sampai perusahaan menjadi besar. Founder dapat terlalu fokus pada produk dan pertumbuhan sehingga pelaporan keuangan, kontrol internal, pembagian kewenangan, dan manajemen risiko tidak mendapat perhatian yang sama. Padahal, semakin besar perusahaan, semakin besar pula konsekuensi dari sistem yang lemah. Masalah tata kelola juga dapat merusak kepercayaan investor, mitra, karyawan, dan pelanggan. Dalam ekosistem startup, kehilangan kepercayaan dapat menjadi persoalan yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada kekurangan modal.
Perhatian investor terhadap governance juga semakin meningkat. Dalam diskusi Indonesia PE-VC Summit 2026, DealStreetAsia melaporkan bahwa isu transparansi, struktur kepemilikan, kontrol internal, dan tata kelola menjadi perhatian penting investor di kawasan. Karena itu, governance seharusnya dibangun sejak perusahaan masih kecil, bukan setelah muncul masalah. Founder yang ingin tumbuh besar membutuhkan sistem yang dapat mengikuti pertumbuhan tersebut.
Penutup
Kesalahan startup Indonesia sering kali bukan muncul karena founder tidak memiliki ide bagus. Masalah dapat muncul ketika pertumbuhan berjalan lebih cepat daripada kemampuan perusahaan mengelola uang, manusia, teknologi, dan risiko. Dalam kondisi pendanaan yang semakin selektif, founder dituntut membuktikan bahwa setiap ekspansi memiliki alasan bisnis yang jelas.
Ekosistem startup memang masih memiliki peluang besar, tetapi era “tumbuh dulu, untung kemudian” semakin menghadapi tekanan. Data pendanaan Asia Tenggara menunjukkan investor kini lebih memperhatikan efisiensi modal dan fundamental bisnis. Pada akhirnya, startup yang mampu bertahan bukan hanya yang berhasil mendapatkan pendanaan, melainkan yang mampu mengubah modal tersebut menjadi produk, pelanggan, pendapatan, dan sistem bisnis yang berkelanjutan.
Sumber Referensi
- DealStreetAsia – Southeast Asia Startup Funding Report: H1 2025
https://www.dealstreetasia.com/reports/southeast-asia-startup-funding-report-h1-2025 - East Ventures – EV-DCI 2025: Indonesia’s Digital Economy Doubles Amid Global Uncertainty
https://east.vc/news/insights/indonesia-digital-economy-doubles-amid-global-uncertainty - East Ventures – Minimizing the Risk-Reward of Startup Funding
https://east.vc/news/insights/minimizing-the-risk-reward-of-startup-funding - DealStreetAsia – Investors Urged to ‘Embrace Messiness’ and Aid Governance in Southeast Asia
https://www.dealstreetasia.com/partner-content/investors-urged-to-embrace-messiness-and-aid-governance-in-southeast-asia - DealStreetAsia – Draft Audit Exposes eFishery’s Struggles with Kabayan Financing
https://www.dealstreetasia.com/stories/efishery-kabayan-financing-432525
