Garap Media – Dunia startup Indonesia sedang memasuki babak baru. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan pengguna dan pendanaan besar menjadi ukuran penting. Ekspansi agresif juga dianggap sebagai cara untuk menguasai pasar. Namun, kini investor mulai mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana. Kapan perusahaan bisa menghasilkan uang? Perubahan ini terlihat dari turunnya pendanaan startup Indonesia sepanjang 2025.
Kementerian Perindustrian menyebut pendanaan startup nasional pada 2025 mencapai sekitar US$355 juta. Angka itu turun 49 persen dari sekitar US$695 juta pada 2024. Nilainya juga jauh di bawah puncak pendanaan sekitar US$7 miliar pada 2021. Karena itu, isu startup Indonesia cari untung menjadi semakin penting bagi founder. Era mengejar pertumbuhan dengan modal besar kini menghadapi tekanan yang lebih kuat.
1. Investor Tidak Lagi Mudah Membuka Dompet
Fakta pertama adalah modal venture capital semakin selektif. DealStreetAsia mencatat hanya 229 transaksi ekuitas di Asia Tenggara pada paruh pertama 2025 dengan nilai US$1,85 miliar, salah satu level aktivitas terlemah dalam lebih dari enam tahun. Investor juga mulai menggeser perhatian dari pertumbuhan agresif menuju efisiensi modal dan fundamental bisnis. Perubahan tersebut membuat startup tidak bisa lagi hanya menjual cerita mengenai besarnya pasar masa depan.
Situasi memang sedikit membaik pada paruh kedua 2025, ketika nilai pendanaan Asia Tenggara mencapai US$3,51 miliar. Namun, DealStreetAsia mencatat kenaikan tersebut terutama didorong sejumlah transaksi besar dan belum menunjukkan pemulihan yang merata. Artinya, uang tetap tersedia, tetapi standar untuk mendapatkannya semakin tinggi. Startup yang ingin memperoleh pendanaan baru harus menunjukkan bahwa modal sebelumnya benar-benar menghasilkan kemajuan bisnis.
2. Pertumbuhan Pengguna Tidak Lagi Cukup
Fakta kedua adalah jumlah pengguna bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Startup bisa memiliki jutaan pengguna, tetapi tetap menghadapi masalah apabila biaya memperoleh pelanggan terlalu tinggi atau pendapatan dari pelanggan tidak mampu menutup biaya operasional. Model subsidi dan promosi besar juga dapat menciptakan pertumbuhan yang terlihat spektakuler selama modal masih tersedia. Ketika investor meminta efisiensi, founder harus membuktikan apakah pengguna tersebut benar-benar menghasilkan nilai ekonomi.
Laporan mengenai tren venture capital Indonesia menunjukkan investor kini lebih memperhatikan unit economics dan jalur menuju profitabilitas. Ini berarti founder harus memahami hubungan antara biaya akuisisi pelanggan, tingkat retensi, pendapatan, margin, dan biaya operasional. Pertumbuhan tetap penting, tetapi pertumbuhan yang tidak menghasilkan ekonomi bisnis yang sehat akan semakin sulit dipertahankan. Startup akhirnya harus menjawab pertanyaan yang lebih konkret: bagaimana setiap pelanggan membantu perusahaan menghasilkan uang?
3. Burn Rate Menjadi Angka yang Semakin Menentukan
Fakta ketiga berkaitan dengan burn rate atau kecepatan perusahaan menghabiskan kas. Pada era pendanaan mudah, startup dapat memiliki ruang lebih besar untuk membiayai ekspansi, merekrut karyawan, membuka pasar baru, dan memberikan promosi. Kini, setiap bulan tambahan pengeluaran berarti berkurangnya runway yang dapat digunakan untuk bertahan. Jika pendanaan berikutnya belum pasti, burn rate yang terlalu tinggi dapat menjadi ancaman langsung bagi kelangsungan perusahaan.
Perubahan iklim investasi membuat disiplin kas semakin penting. DealStreetAsia mencatat investor semakin menyukai perusahaan dengan capital efficiency dan fundamental yang kuat dibandingkan strategi pertumbuhan tanpa batas. Founder karena itu perlu mengetahui berapa bulan perusahaan dapat bertahan dengan kas yang tersedia dan target apa yang harus dicapai sebelum mencari pendanaan berikutnya. Dengan begitu, penghematan bukan sekadar memangkas biaya, tetapi memastikan modal digunakan untuk aktivitas yang benar-benar menghasilkan dampak.
4. Profitabilitas Mulai Menjadi Bagian dari Cerita Startup
Fakta keempat adalah profitabilitas semakin masuk ke dalam pembicaraan investor. Kontan melaporkan pada 2025 bahwa industri modal ventura Indonesia mengalami pergeseran strategi menuju startup dengan pertumbuhan yang lebih jelas dan keberlanjutan yang lebih kuat. Dalam laporan tersebut, Amvesindo juga menyebut investor semakin mencari perusahaan pada tahap tech growth, bukan hanya bisnis teknologi yang masih sangat bergantung pada modal berisiko tinggi. Perubahan ini membuat kemampuan menghasilkan pendapatan menjadi semakin penting.
Namun, mencari untung tidak berarti startup harus berhenti berkembang. Justru tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara investasi untuk pertumbuhan dan kemampuan menghasilkan kas. Perusahaan masih perlu mengembangkan teknologi, merekrut talenta, memperbaiki produk, dan memperluas pasar, tetapi semua keputusan tersebut harus memiliki alasan ekonomi yang lebih jelas. Startup yang mampu tumbuh sekaligus memperbaiki margin akan memiliki cerita bisnis yang berbeda dari perusahaan yang hanya mengejar angka pengguna.
5. Tata Kelola Tidak Bisa Lagi Dianggap Urusan Belakangan
Fakta kelima adalah tata kelola semakin menentukan kepercayaan investor. Ketika jumlah uang yang dikelola perusahaan semakin besar, kebutuhan terhadap laporan keuangan yang akurat, kontrol internal, transparansi, dan manajemen risiko juga meningkat. Investor tidak hanya ingin mengetahui berapa banyak uang yang masuk, tetapi juga bagaimana uang tersebut digunakan. Masalah tata kelola dapat membuat perusahaan kehilangan kepercayaan bahkan ketika produknya memiliki potensi pasar.
Laporan Chambers mengenai tren venture capital di Indonesia menyebut investor kini meningkatkan perhatian terhadap financial reporting, transparansi, dan akuntabilitas, terutama setelah sejumlah kasus yang memengaruhi kepercayaan terhadap startup. Karena itu, founder perlu membangun sistem pengawasan sejak perusahaan masih berkembang, bukan menunggu sampai masalah muncul. Startup yang ingin bertahan dalam era pendanaan selektif membutuhkan kombinasi antara produk yang kuat, keuangan yang sehat, dan tata kelola yang dapat dipercaya.
Penutup
Era bakar uang mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi cara investor menilai startup jelas berubah. Data pendanaan Indonesia dan Asia Tenggara menunjukkan modal menjadi lebih selektif, sementara investor semakin memperhatikan efisiensi, fundamental, dan jalur menuju pertumbuhan berkelanjutan.
Bagi startup Indonesia, perubahan ini berarti satu hal penting: pendanaan bukan lagi tujuan utama. Founder harus mampu mengubah modal menjadi produk yang dibutuhkan pasar, pelanggan yang bertahan, pendapatan yang nyata, dan bisnis yang semakin sehat. Di tengah persaingan mendapatkan modal, kemampuan mencari untung dapat menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan masa depan perusahaan.
Sumber Referensi
- Kementerian Perindustrian – Data Pendanaan Startup Nasional 2025
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8607095/menperin-ungkap-pembiayaan-buat-startup-turun-hingga-609-triliun/ - DealStreetAsia – Southeast Asia Startup Funding Report: H1 2025
https://www.dealstreetasia.com/reports/southeast-asia-startup-funding-report-h1-2025 - DealStreetAsia – Southeast Asia Startup Funding Report: Full Year 2025
https://www.dealstreetasia.com/reports/southeast-asia-startup-funding-report-2025 - KONTAN – Perubahan Iklim Bisnis Modal Ventura: Investor Beralih ke Startup Berorientasi Profit
https://keuangan.kontan.co.id/news/perubahan-iklim-bisnis-modal-ventura-investor-beralih-ke-startup-berorientasi-profit - Chambers – Venture Capital 2025: Indonesia Trends and Developments
https://chambers.com/downloads/gpg/1201/venture-capital-2025.pdf
