Garap Media – Ada sesuatu yang berubah di ekosistem teknologi Indonesia. Kecerdasan buatan atau AI tidak lagi hanya menjadi teknologi yang dibicarakan perusahaan besar, tetapi mulai masuk ke aplikasi, layanan bisnis, pendidikan, keuangan, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat. Di tengah perubahan tersebut, semakin banyak startup Indonesia mencoba membangun produk yang menggunakan AI sebagai mesin pertumbuhan baru.
Namun, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah masyarakat Indonesia tertarik terhadap AI. Pertanyaannya adalah apakah pasar sudah cukup siap untuk membayar, menggunakan, dan mempercayai produk AI buatan startup lokal. Data terbaru menunjukkan jawabannya cukup menarik: permintaan sudah tumbuh cepat, tetapi ekosistem pengembang dan infrastrukturnya masih menghadapi sejumlah tantangan.
1. Pasarnya Sudah Ada, Bahkan Tumbuh Sangat Cepat
Rahasia pertama adalah Indonesia sebenarnya sudah memiliki basis pengguna AI yang besar. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain mencatat 80 persen pengguna di Indonesia berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap hari, sementara pendapatan aplikasi dengan fitur AI tumbuh 127 persen pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen teknologi bagi konsumen. Masyarakat mulai menggunakannya untuk mencari informasi, membuat konten, bekerja, belajar, dan memperoleh rekomendasi.
Pertumbuhan ekonomi digital juga memberikan fondasi bagi pasar tersebut. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati US$100 miliar GMV pada 2025, tumbuh 14 persen secara tahunan, dengan e-commerce, pembayaran digital, dan media online menjadi penggerak utama. Bagi startup, kondisi ini menciptakan banyak titik masuk untuk AI, mulai dari otomatisasi layanan pelanggan hingga analisis data dan personalisasi. Tantangannya adalah mengubah penggunaan AI yang tinggi menjadi produk yang benar-benar menghasilkan pendapatan. Di sinilah persaingan startup lokal akan semakin menarik.
2. Startup Lokal Punya Keunggulan yang Tidak Mudah Ditiru
Rahasia kedua berada pada bahasa dan pemahaman terhadap pasar lokal. Google mencatat 84 persen prompt Gemini di Indonesia menggunakan bahasa asli pada periode Januari hingga Maret 2026, menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan AI sangat dipengaruhi konteks bahasa dan budaya. Bagi startup Indonesia, kondisi ini membuka peluang untuk membuat produk yang memahami Bahasa Indonesia serta bahasa daerah dengan lebih baik. Produk AI yang memahami kebiasaan pengguna lokal dapat menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan layanan global yang dibuat untuk pasar secara umum.
Namun, membangun AI lokal bukan pekerjaan sederhana. Google dan Temasek mencatat jumlah startup AI Indonesia masih lebih dari 45 perusahaan, sementara porsi pendanaan AI Indonesia hanya sekitar 4 persen dari total investasi AI ASEAN-10 pada periode yang mereka ukur. Artinya, permintaan pasar berkembang lebih cepat dibandingkan kedalaman ekosistem startup AI domestik. Celah tersebut justru bisa menjadi peluang bagi founder yang mampu menemukan masalah spesifik Indonesia dan menyelesaikannya dengan teknologi yang benar-benar berguna.
3. Pasarnya Siap Menggunakan AI, Tetapi Belum Sepenuhnya Siap Menanggung Risikonya
Rahasia ketiga adalah adanya jarak antara antusiasme pengguna dan kesiapan ekosistem. UOB mencatat tiga dari empat bisnis di Indonesia dalam surveinya telah menerapkan solusi AI, tetapi tingkat kematangannya berbeda-beda, dengan sebagian besar masih berada pada tahap awal. Hambatan yang masih muncul mencakup kesiapan data dan sistem, keterbatasan finansial, serta kekurangan talenta dan kemampuan AI, terutama di perusahaan kecil. Ini berarti pasar memang terbuka, tetapi banyak perusahaan masih membutuhkan waktu untuk mengubah eksperimen AI menjadi sistem yang benar-benar terintegrasi.
Pemerintah juga sedang membangun kerangka yang lebih jelas untuk perkembangan AI. Pada 2026, pemerintah menyelesaikan pembahasan lintas kementerian untuk Rancangan Perpres tentang Peta Jalan AI Nasional 2026–2029 dan Etika AI, sementara pada Juli 2026 pemerintah menyebut Perpres AI akan menjadi tahap awal sebelum penyusunan Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Regulasi ini penting karena startup harus berhadapan dengan isu data, keamanan, transparansi, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Jadi, pasar Indonesia bisa sangat siap menggunakan AI, tetapi perusahaan tetap harus membangun kepercayaan agar teknologi tersebut bisa berkembang dalam jangka panjang.
Penutup
Indonesia memiliki alasan kuat untuk menjadi salah satu pasar AI paling menarik di Asia Tenggara. Penggunaan AI sudah tinggi, aplikasi berbasis AI mengalami pertumbuhan pendapatan yang cepat, dan ekonomi digital nasional memiliki skala besar. Kondisi tersebut memberi ruang bagi startup untuk membangun produk yang bukan hanya mengikuti tren, tetapi menyelesaikan masalah nyata masyarakat.
Tetapi perjalanan startup Indonesia mengejar AI tidak akan otomatis mudah. Kekurangan talenta, kesiapan data, kebutuhan infrastruktur, pendanaan, serta persoalan kepercayaan masih menjadi pekerjaan besar. Pada akhirnya, startup yang mampu menghubungkan teknologi AI dengan kebutuhan lokal dan model bisnis yang jelas akan memiliki peluang lebih besar untuk mengubah antusiasme pasar menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Sumber Referensi
- Google, Temasek & Bain – e-Conomy SEA 2025: Indonesia
https://blog.google/intl/id-id/company-news/outreach-initiatives/e-conomy-sea-2025-ekonomi-digital-indonesia-mendekati-gmv-us100-miliar/ - Google – Indonesia e-Conomy SEA 2025 Report
https://services.google.com/fh/files/misc/indonesia_e_conomy_sea_2025_report.pdf - UOB – Business Outlook Study 2026: Indonesia
https://www.uobgroup.com/asean-insights/articles/uob-business-outlook-study-2026-indonesia-h1.page - Kementerian Komunikasi dan Digital RI – Peta Jalan AI Nasional 2026–2029
https://jdih.komdigi.go.id/berita/view/113 - Kementerian Komunikasi dan Digital RI – Tata Kelola AI dan Perpres AI
https://jdih.komdigi.go.id/berita/view/116 - Google – Gemini AI Adoption in Southeast Asia 2026
https://business.google.com/en-all/think/ai-excellence/gemini-ai-adoption-southeast-asia/
