Garap Media – Selama bertahun-tahun, Jepang dikenal sebagai negara kuat di bidang teknologi dan manufaktur. Namun, ketika perlombaan AI memasuki babak baru, perhatian dunia lebih banyak tertuju kepada Amerika Serikat dan China. Kini, Jepang mulai mengubah pendekatannya. Negara tersebut menggabungkan AI dengan robotika, manufaktur, dan kekuatan industri yang sudah dimiliki.
Perubahan itu terlihat dari kebijakan pemerintah yang semakin terarah. Jepang tidak hanya ingin menjadi pengguna AI. Sebaliknya, negara ini juga membangun kemampuan domestik. Fokusnya mencakup model AI, komputasi, data, robotika, dan semikonduktor. Lantas, apa strategi yang membuat Jepang bangkit di teknologi AI?
1. Jepang Menggabungkan AI dengan Kekuatan Robotika
Strategi pertama Jepang adalah menghubungkan AI dengan robotika. Ini bukan pilihan yang muncul secara kebetulan karena Jepang menghadapi persoalan struktural berupa populasi menua dan kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor. Pemerintah Jepang bahkan membentuk forum lintas kementerian untuk menyusun strategi AI Robotics dengan tujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menjadikan industri AI dan robotika sebagai salah satu industri inti baru. Pendekatan ini membuat AI tidak hanya diposisikan sebagai chatbot atau perangkat lunak, tetapi sebagai teknologi yang dapat mengendalikan mesin dan membantu pekerjaan fisik.
Pada Mei 2026, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang atau METI juga mengumumkan dukungan untuk pengembangan robotics foundation models. Teknologi tersebut diarahkan untuk mengembangkan kontrol otonom pada kendaraan, drone, kapal tanpa awak, hingga berbagai infrastruktur. Jepang memiliki keunggulan industri manufaktur dan pengalaman panjang dalam robotika, sehingga kombinasi tersebut dapat menjadi jalur berbeda dalam kompetisi AI global. Strateginya bukan sekadar menciptakan model AI yang besar, tetapi membuat AI bekerja di dunia nyata.
2. Jepang Mulai Membangun AI yang Dibuat di Dalam Negeri
Strategi kedua adalah memperkuat kemampuan AI domestik. Pemerintah Jepang melalui proyek GENIAC sejak 2024 telah memberikan dukungan terhadap pengembangan kemampuan generative AI di dalam negeri, termasuk sumber daya komputasi dan pengembangan foundation model. Pada 2026, program tersebut diperluas untuk membuat data manufaktur lebih siap digunakan AI serta mendukung pengembangan model dasar untuk robotika. Langkah ini menunjukkan bahwa Jepang melihat data industri sebagai aset strategis yang dapat meningkatkan kemampuan AI.
Pemerintah juga mulai menggunakan teknologi AI domestik di lingkungan administrasi. Digital Agency Jepang pada Agustus 2026 mulai menguji tiga model AI buatan perusahaan Jepang pada platform Government AI, yakni tsuzumi 2 dari NTT DATA, Takane 32B dari Fujitsu, dan PLaMo 2.0 Prime dari Preferred Networks. Pemerintah berharap penggunaan tersebut bukan hanya meningkatkan layanan publik, tetapi juga menciptakan permintaan yang stabil terhadap AI domestik. Dengan cara ini, pemerintah dapat menjadi pengguna sekaligus pendorong perkembangan industri AI lokal.
3. AI Dihubungkan dengan Semikonduktor dan Keamanan Teknologi
Strategi ketiga Jepang adalah membangun AI sebagai bagian dari kebijakan industri yang lebih luas. Pemerintah Jepang melihat AI dan semikonduktor sebagai teknologi yang berpengaruh terhadap berbagai sektor ekonomi, sehingga dukungan tidak hanya diarahkan kepada startup AI. Kebijakan pemerintah mencakup investasi strategis dalam AI dan semikonduktor serta upaya memperkuat kapasitas pasokan domestik. Pendekatan tersebut penting karena AI membutuhkan chip, pusat data, jaringan, energi, dan berbagai komponen teknologi lainnya.
Perubahan tersebut juga berkaitan dengan keamanan ekonomi Jepang. METI menyebut persaingan teknologi kini meluas dari generative AI dan komputasi kuantum hingga industri manufaktur tradisional, sementara ketergantungan terhadap energi dan teknologi semakin menjadi bagian penting dari ketahanan industri. Karena itu, strategi AI Jepang tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemampuan teknologi dan manufaktur di dalam negeri. Jika strategi ini berjalan konsisten, Jepang dapat membangun posisi yang berbeda dalam peta AI Asia dengan mengandalkan perpaduan antara perangkat lunak, robotika, chip, dan manufaktur.
Penutup
Kebangkitan Jepang dalam teknologi AI memiliki arah yang cukup jelas. Negara tersebut tidak hanya mengejar model AI berukuran besar. Sebaliknya, Jepang menggabungkan AI dengan robotika, manufaktur, semikonduktor, dan kebutuhan industri. Pemerintah juga meningkatkan dukungan terhadap model AI domestik dan infrastruktur komputasi.
Namun, perjalanan tersebut masih panjang. Persaingan AI global terus berkembang dengan cepat. Meski begitu, strategi Jepang menunjukkan pendekatan yang berbeda. AI dipandang bukan hanya sebagai teknologi digital, tetapi juga sebagai fondasi industri masa depan. Jika model AI, robotika, chip, dan manufaktur dapat berkembang bersama, Jepang dapat memperkuat perannya dalam ekosistem AI Asia.
Sumber Referensi
- Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) – GENIAC dan Robotics Foundation Models
https://www.meti.go.jp/english/press/2026/0514_001.html - Cabinet Secretariat of Japan – AI Robotics Strategy
https://www.cas.go.jp/jp/seisaku/ai_robo/index.html - Digital Agency Japan – Government AI “GENAI”
https://www.digital.go.jp/en/policies/genai - Digital Agency Japan – Domestic Foundation Models on Government AI
https://www.digital.go.jp/news/7eef939d-1c58-4229-b210-7b5adc9af590 - Ministry of Economy, Trade and Industry – AI and Semiconductor Support Measures
https://www.meti.go.jp/english/policy/economy/industrial_council/pdf/250603008_03.pdf - METI – Action Plan for Economic Security
https://www.meti.go.jp/english/press/2025/0530_003.html
