Garap Media – Langit malam di berbagai belahan dunia baru-baru ini dihiasi pemandangan yang sukses mencuri perhatian jutaan orang. Bulan purnama raksasa tampak menggantung rendah di cakrawala dengan semburat warna keemasan hingga kemerahan.
Akibatnya, panorama tersebut ramai dibagikan di media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai Strawberry Moon, salah satu bulan purnama yang paling dinantikan setiap tahun.
Meski namanya mengandung kata stroberi, banyak orang masih mengira Bulan benar-benar berubah menjadi merah muda. Padahal, anggapan itu tidak benar.
Sebaliknya, nama Strawberry Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang menandai musim panen stroberi liar. Karena keindahannya, ribuan fotografer dan pengamat langit berlomba mengabadikan momen tersebut dari berbagai negara.
Mengapa Disebut Strawberry Moon?
Nama Strawberry Moon telah digunakan selama ratusan tahun oleh suku asli di Amerika Utara untuk menandai datangnya musim panen stroberi liar pada bulan Juni. Tradisi ini kemudian dikenal luas melalui publikasi astronomi modern dan hingga kini masih digunakan untuk menyebut bulan purnama yang muncul pada periode tersebut. Meski demikian, Bulan sebenarnya tidak berubah menjadi merah muda. Warna kekuningan, jingga, bahkan kemerahan yang sering terlihat saat terbit lebih dipengaruhi oleh posisi Bulan yang rendah di dekat cakrawala serta hamburan cahaya di atmosfer bumi. Semakin rendah posisi Bulan, semakin panjang jalur cahaya yang harus ditempuh sebelum mencapai mata manusia. Itulah sebabnya Strawberry Moon sering tampak lebih hangat dibandingkan bulan purnama ketika berada tinggi di langit.
Fenomena ini juga menarik perhatian karena pada beberapa tahun tertentu posisi Bulan berada cukup rendah di langit malam sehingga tampak lebih besar saat terbit. Efek tersebut dikenal sebagai Moon Illusion, yaitu ilusi optik yang membuat Bulan terlihat jauh lebih besar ketika berada di dekat horizon. Padahal ukuran fisik Bulan tidak berubah sama sekali. Kombinasi ilusi optik, kondisi atmosfer, dan langit yang cerah menghasilkan pemandangan spektakuler yang menjadi favorit para fotografer. Tidak mengherankan jika setiap kemunculan Strawberry Moon selalu menjadi salah satu fenomena astronomi yang paling banyak dibicarakan di media sosial dan komunitas pecinta langit malam. Meski terlihat dramatis, fenomena ini sepenuhnya merupakan peristiwa alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Penampakan Strawberry Moon dari Berbagai Belahan Dunia
Di berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Yunani, Jepang hingga Australia, fotografer berhasil mengabadikan Strawberry Moon yang muncul di balik gedung pencakar langit, pegunungan, mercusuar, hingga bangunan bersejarah. Perbedaan lokasi membuat warna dan bentuk Bulan tampak sedikit berbeda karena dipengaruhi kondisi atmosfer masing-masing wilayah. Di beberapa tempat, Bulan terlihat berwarna oranye pekat, sementara di lokasi lain tampak kuning keemasan. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa kondisi udara, kelembapan, debu, dan polusi dapat memengaruhi tampilan Bulan yang dilihat dari permukaan bumi. Meskipun demikian, fase Bulan yang diamati tetap sama di seluruh dunia. Keindahan visual inilah yang menjadikan Strawberry Moon selalu dinanti setiap tahunnya.
Bagi para astronom, Strawberry Moon bukan hanya peristiwa indah untuk dinikmati, tetapi juga kesempatan mengedukasi masyarakat mengenai fase Bulan dan dinamika tata surya. NASA menjelaskan bahwa bulan purnama terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris sehingga seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi mendapat cahaya Matahari. Fenomena ini berlangsung setiap bulan, tetapi masing-masing memiliki nama tradisional yang berbeda sesuai musim atau budaya tertentu. Strawberry Moon hanyalah salah satu dari deretan nama bulan purnama seperti Wolf Moon, Harvest Moon, dan Hunter’s Moon. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana manusia sejak dahulu menggunakan langit sebagai penanda musim dan aktivitas sehari-hari. Hingga kini, perpaduan antara ilmu pengetahuan dan budaya membuat fenomena ini tetap menarik untuk dipelajari.
Penutup
Strawberry Moon kembali membuktikan bahwa fenomena astronomi mampu menghadirkan keindahan yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Di balik tampilannya yang memukau, terdapat penjelasan ilmiah mengenai fase Bulan, ilusi optik, dan pengaruh atmosfer terhadap cahaya yang kita lihat. Nama uniknya pun menyimpan sejarah panjang yang berasal dari tradisi masyarakat adat, bukan karena warna Bulan berubah menjadi merah muda. Dengan memahami fakta di balik fenomena ini, masyarakat dapat menikmati keindahan langit malam sekaligus memperoleh pengetahuan baru tentang alam semesta.
Sumber Referensi:
- NASA: https://science.nasa.gov/moon
- NASA Skywatching: https://science.nasa.gov/skywatching
- Royal Museums Greenwich: https://www.rmg.co.uk
- EarthSky: https://earthsky.org
- The Old Farmer’s Almanac: https://www.almanac.com



