Keraton Kartasura, Jejak Ibu Kota Mataram yang Mengawali Lahirnya Surakarta

Last Updated: 4 October 2026, 21:37

Bagikan:

Tembok Keraton Kartasura
Keraton Kartasura menjadi jejak sejarah Mataram Islam yang menghubungkan masa lalu Kartasura dengan lahirnya Surakarta. Sumber gambar: Tribunnews.
Table of Contents

Keraton Kartasura pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam sebelum pusat kerajaan berpindah ke Surakarta. Amangkurat II membangun keraton tersebut pada 1680 setelah konflik Trunajaya mengguncang Mataram, sedangkan kehancuran Kartasura dalam Geger Pecinan kemudian mendorong perpindahan pusat pemerintahan ke Surakarta. (ANRI, 2026)

Keraton Kartasura Menjadi Ibu Kota Mataram Islam pada 1680

Amangkurat II membangun keraton baru di wilayah Wanakerta pada 1680 setelah ia tidak memilih kembali ke Plered. Pembangunan tersebut menghasilkan pusat pemerintahan baru yang kemudian bernama Kartasura Hadiningrat. (ANRI, 2026)

Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura pada 11 September 1680. Perpindahan tersebut menjadikan Kartasura sebagai pusat pemerintahan Mataram Islam setelah Keraton Plered mengalami kehancuran akibat pemberontakan Trunajaya. (RRI, 2025)

Pemilihan Kartasura juga berlangsung dalam situasi politik yang belum stabil. Pangeran Puger masih menguasai Plered dan menolak mengakui kekuasaan Amangkurat II sehingga konflik antara kedua pihak kembali terjadi. Pasukan Kartasura dan VOC kemudian mengalahkan Pangeran Puger pada 1681. (ANRI, 2026)

Keberadaan Keraton Kartasura mencatat sejumlah fase penting dalam sejarah Mataram Islam, antara lain:

  • 1680: Amangkurat II membangun dan menempati keraton baru.
  • 1681: Pangeran Puger mengakui kekuasaan Amangkurat II setelah mengalami kekalahan.
  • 1703: Amangkurat II wafat dan pergantian kekuasaan kembali memicu konflik.
  • 1742: Pemberontakan Geger Pecinan mengguncang Keraton Kartasura.
  • 1745: Pusat pemerintahan Mataram berpindah dari Kartasura ke Surakarta. (RRI, 2025)

Keraton Kartasura Mengalami Kehancuran dalam Geger Pecinan

Keraton Kartasura menghadapi kerusakan besar ketika pemberontakan Geger Pecinan mencapai pusat pemerintahan Mataram. Mas Garendi atau Sunan Kuning bersama pasukannya menyerbu Kartasura pada 1742 dan berhasil menguasai keraton. (RRI, 2025)

Peristiwa tersebut membuat Pakubuwono II kehilangan kendali atas pusat pemerintahannya. Situasi tersebut mendorong raja mencari lokasi baru untuk membangun pusat pemerintahan yang lebih aman.

Keraton Kartasura kemudian ditinggalkan setelah konflik tersebut. Pemerintah Mataram selanjutnya memindahkan pusat kerajaan ke Surakarta pada 1745, sehingga wilayah Kartasura berubah dari pusat kekuasaan menjadi kawasan yang menyimpan jejak sejarah. (RRI, 2025)

Tembok Keraton Kartasura Menjadi Sisa Fisik Pusat Kekuasaan Mataram

Kompleks Keraton Kartasura kini tidak lagi menampilkan kemegahan seperti ketika menjadi pusat pemerintahan Mataram. Struktur tembok dan sejumlah bagian situs menjadi peninggalan yang mengingatkan masyarakat terhadap keberadaan keraton tersebut.

Situs Keraton Kartasura berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di kawasan Kecamatan Kartasura. Pemerintah telah menetapkan situs tersebut sebagai bangunan cagar budaya sehingga keberadaannya memiliki nilai penting bagi sejarah lokal dan nasional. (RRI, 2025)

Tembok peninggalan Keraton Kartasura juga pernah menghadapi ancaman kerusakan akibat aktivitas pembangunan di sekitar situs. Peristiwa pembongkaran sebagian tembok pada 2022 memunculkan perhatian publik terhadap perlindungan cagar budaya tersebut. (detikJateng, 2022)

Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan pelestarian situs sejarah yang berada di tengah kawasan permukiman. Struktur peninggalan keraton tidak hanya berhadapan dengan faktor usia, tetapi juga menghadapi tekanan dari perkembangan lingkungan sekitar.

Keraton Kartasura Menghubungkan Sejarah Mataram dengan Surakarta

Perpindahan pusat pemerintahan dari Kartasura ke Surakarta tidak berdiri sebagai peristiwa yang terpisah dari sejarah sebelumnya. Keraton Surakarta menjadi kelanjutan dari dinamika kekuasaan Mataram yang sebelumnya berpusat di Kartasura.

Keraton Kartasura menjadi bagian penting dalam rangkaian perpindahan pusat kekuasaan Mataram. Plered menjadi pusat pemerintahan sebelumnya, Kartasura menjadi pusat berikutnya pada 1680, kemudian Surakarta mengambil peran tersebut setelah kehancuran Kartasura. (RRI, 2025)

Hubungan tersebut membuat peninggalan Kartasura memiliki nilai lebih dari sekadar reruntuhan bangunan. Situs tersebut menjadi bukti fisik dari perubahan pusat kekuasaan Jawa dan perjalanan politik yang membentuk sejarah Surakarta.

Pelestarian Keraton Kartasura Menjadi Bagian dari Sejarah Surakarta

Keberadaan tembok dan petilasan Keraton Kartasura memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami sejarah Mataram secara lebih utuh. Pelestarian situs tersebut juga dapat memperkuat hubungan antara sejarah Kartasura, perkembangan Sukoharjo, dan terbentuknya Surakarta.

Nilai sejarah Keraton Kartasura dapat dilihat melalui beberapa aspek:

  • Sejarah politik, karena Kartasura pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam.
  • Sejarah perkotaan, karena perpindahan pusat kerajaan membentuk perkembangan wilayah baru.
  • Warisan arsitektur, karena struktur tembok menjadi salah satu sisa fisik kompleks keraton.
  • Sejarah konflik, karena Geger Pecinan mengubah keberlangsungan pusat pemerintahan Kartasura.
  • Identitas budaya, karena situs tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Jawa.

Keraton Kartasura akhirnya tidak lagi menjadi pusat kekuasaan, tetapi jejaknya tetap menghubungkan masa Mataram Islam dengan lahirnya Surakarta. Tembok yang tersisa menjadi pengingat bahwa kawasan yang kini terlihat sederhana pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan selama puluhan tahun.

Pembaca dapat mengikuti artikel lain mengenai sejarah dan budaya Indonesia melalui Garap Media. Berbagai kisah tentang situs bersejarah dapat membantu pembaca memahami perjalanan kota dan masyarakat yang membentuk Indonesia.

Garap Media juga menghadirkan artikel mengenai warisan budaya, tradisi, dan sejarah lokal dari berbagai daerah. Pembaca dapat mengikuti artikel lainnya untuk menemukan kisah tempat-tempat bersejarah yang masih menyimpan jejak masa lalu.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /