Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, telah mencapai sekitar 60 hektare berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Area yang terdampak mencakup wilayah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang, sementara tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman darat dengan dukungan peralatan khusus untuk mencegah api meluas ke kawasan lain. (ANTARA, 2026; BNPB, 2026).
Karhutla Bromo Meluas ke Kabupaten Probolinggo dan Malang
BNPB menyatakan kebakaran melanda dua wilayah administratif di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sekitar 10 hektare lahan di kawasan Watu Gede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo terbakar, sedangkan sekitar 50 hektare kawasan Jantur di Kabupaten Malang turut terdampak. Total luas lahan yang terbakar berdasarkan pendataan BNPB mencapai sekitar 60 hektare. (ANTARA, 2026; BNPB, 2026).
Vegetasi yang terbakar didominasi oleh padang savana, semak belukar, cemara gunung, kaliandra, dan akasia. Kondisi musim kemarau menyebabkan vegetasi menjadi sangat kering sehingga api lebih cepat menjalar ketika disertai embusan angin kencang. (BNPB, 2026; ANTARA Jatim, 2026).
Lokasi yang terdampak kebakaran meliputi:
- Watu Gede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
- Kawasan Jantur di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
- Blok Bantengan.
- Area perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang.
Kronologi Karhutla Bromo Berawal dari Ranu Pani
Kebakaran pertama kali dilaporkan pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Titik api muncul di kawasan Ranu Pani sebelum merambat ke Blok Bantengan, Watu Gede, dan kawasan savana TNBTS. Tim gabungan sempat memadamkan kobaran api pada keesokan harinya, tetapi api kembali muncul pada siang hari akibat cuaca panas dan embusan angin sehingga kebakaran terus meluas. (ANTARA, 2026; ANTARA Jatim, 2026).
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan bahwa medan yang curam menjadi kendala utama selama proses pemadaman. Banyak titik api berada di lereng dan tebing yang sulit dijangkau kendaraan sehingga petugas harus melakukan pemadaman secara manual di sejumlah lokasi. (ANTARA Jatim, 2026).
Beberapa faktor yang mempercepat penyebaran api meliputi:
- Cuaca panas selama musim kemarau.
- Embusan angin kencang di kawasan pegunungan.
- Padang savana dan semak kering yang mudah terbakar.
- Medan terjal yang menyulitkan akses petugas.
- Luasnya kawasan konservasi TNBTS.
BPBD Jawa Timur Kerahkan Drone Water Spray untuk Karhutla Bromo
BPBD Jawa Timur mengerahkan personel gabungan beserta sejumlah peralatan untuk mengendalikan kebakaran. Tim lapangan menerapkan dua strategi pemadaman, yaitu melalui jalur bawah tebing dan jalur atas savana agar penyebaran api dapat dibatasi secepat mungkin. (ANTARA, 2026; ANTARA Jatim, 2026).
Petugas mengoperasikan satu unit drone water spray berkapasitas 150 liter untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat. Selain itu, BPBD Jawa Timur juga mengerahkan satu unit truk tangki pemadam, sedangkan petugas di lapangan melakukan pemadaman manual menggunakan alat gepyok dan pembuatan sekat bakar sebagai upaya menahan laju kebakaran. (ANTARA Jatim, 2026; BNPB, 2026).
Kementerian Kehutanan dan BNPB Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla Bromo
Pemerintah memperkuat penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo melalui operasi terpadu yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), BPBD Jawa Timur, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai unsur relawan. Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk mempercepat pengendalian api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan konservasi yang lebih luas. (ANTARA, 2026).
Kementerian Kehutanan menambah personel dan peralatan pemadaman di lapangan, sedangkan BNPB menyiapkan dukungan pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing. Selain itu, pemerintah juga mengkaji pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi cuaca memungkinkan agar hujan buatan dapat membantu mempercepat proses pemadaman. (ANTARA, 2026).
Beberapa unsur yang terlibat dalam operasi penanganan karhutla meliputi:
- Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
- BPBD Provinsi Jawa Timur.
- BPBD Kabupaten Probolinggo.
- BPBD Kabupaten Malang.
- Manggala Agni.
- TNI dan Polri.
- Relawan serta masyarakat sekitar kawasan Bromo.
Karhutla Bromo Mengancam Ekosistem dan Aktivitas Wisata
Kebakaran tidak hanya menghanguskan padang savana, tetapi juga membakar semak belukar, cemara gunung, kaliandra, dan vegetasi lain yang menjadi bagian dari ekosistem Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kondisi musim kemarau membuat vegetasi memiliki kadar air yang rendah sehingga kobaran api lebih cepat menjalar ke area lain. (ANTARA, 2026).
Selain berdampak terhadap lingkungan, kebakaran juga memengaruhi aktivitas wisata di Gunung Bromo. Balai Besar TNBTS membatasi akses ke sejumlah kawasan yang berada di sekitar titik kebakaran demi menjaga keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemadaman. Kebijakan tersebut akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan. (ANTARA, 2026).
Medan Terjal dan Angin Kencang Menjadi Tantangan Pemadaman
Tim gabungan menghadapi berbagai kendala selama proses pemadaman berlangsung. Medan yang curam membuat kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau seluruh titik api, sedangkan angin kencang menyebabkan kobaran api mudah berpindah ke kawasan savana lainnya. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengombinasikan pemadaman manual, drone water spray, hingga dukungan pemadaman dari udara. (ANTARA, 2026).
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa luas kawasan savana yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 80 hektare berdasarkan pendataan BPBD Kabupaten Probolinggo dan Balai Besar TNBTS. Angka tersebut merupakan pembaruan setelah laporan awal BNPB yang mencatat sekitar 60 hektare lahan terdampak, sehingga proses pendataan masih terus berlangsung seiring upaya pemadaman di lapangan. (Metro TV, 2026).
Karhutla di kawasan Gunung Bromo menjadi pengingat bahwa musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran di kawasan konservasi. Sinergi antara Kementerian Kehutanan, BNPB, BB TNBTS, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan menjadi faktor penting untuk mempercepat pemadaman sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat. (ANTARA, 2026).
Ikuti informasi terkini mengenai bencana, lingkungan, dan peristiwa nasional lainnya hanya di Garap Media. Jangan lewatkan artikel menarik lainnya untuk memperoleh informasi yang akurat, terpercaya, dan selalu diperbarui berdasarkan sumber resmi.
Referensi
