Indonesia kembali mencatat pencapaian penting dalam dunia kelautan setelah tim peneliti menemukan 18 individu Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara. Penemuan ikan purba yang telah bertahan selama sekitar 400 juta tahun tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu habitat utama spesies yang dijuluki “fosil hidup” sekaligus mendukung upaya konservasi laut nasional. (BRIN, 2026; Technology Indonesia, 2026).
Hasil penelitian dipaparkan dalam simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Jakarta oleh Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi bersama Prof. Augy Syahailatua dari BRIN. Temuan terbaru ini menjadi yang terbesar di Pulau Talise sejak penelitian pertama dilakukan pada 2009 dan memberikan data baru mengenai habitat, reproduksi, serta populasi Coelacanth di Indonesia. (Technology Indonesia, 2026; SIN PO, 2026).
Coelacanth Indonesia Ditemukan dalam Jumlah Terbanyak di Pulau Talise
Tim peneliti berhasil mendokumentasikan 18 individu Coelacanth di perairan Pulau Talise melalui ekspedisi kolaboratif BRIN, OceanX, dan NHK. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan survei tahun 2009 yang hanya menemukan empat individu pada lokasi yang sama. (Technology Indonesia, 2026).
Salah satu temuan paling menarik adalah keberadaan 11 ekor Coelacanth yang hidup bersama dalam satu gua bawah laut. Kondisi tersebut memberikan petunjuk baru mengenai perilaku sosial dan pola pemanfaatan habitat spesies langka yang selama puluhan tahun masih menjadi misteri bagi para ilmuwan. (Technology Indonesia, 2026; RRI, 2026).
Beberapa fakta penting dari penelitian terbaru meliputi:
- Tim peneliti menemukan 18 individu Coelacanth di Pulau Talise.
- Sebanyak 11 individu hidup bersama dalam satu gua bawah laut.
- Penelitian merupakan hasil kolaborasi BRIN, OceanX, NHK, dan Universitas Sam Ratulangi.
- Pulau Talise semakin diperkuat sebagai habitat penting Latimeria menadoensis di Indonesia. (Technology Indonesia, 2026).
Penelitian BRIN Mengungkap Fakta Baru tentang Reproduksi Coelacanth Indonesia
Rangkaian penelitian tidak hanya menghasilkan data populasi, tetapi juga mengungkap informasi baru mengenai reproduksi spesies tersebut. Tim peneliti mendokumentasikan seekor anak Coelacanth sepanjang sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang yang memberikan petunjuk mengenai lokasi berkembang biaknya spesies langka tersebut. (Technology Indonesia, 2026).
Peneliti juga melakukan pemindaian CT Scan terhadap salah satu spesimen dan menemukan 22 butir telur di dalam tubuh ikan tersebut. Temuan tersebut menjadi informasi ilmiah yang sangat penting karena aspek reproduksi Coelacanth masih sangat jarang terdokumentasikan di dunia. (Technology Indonesia, 2026; RRI, 2026).
Temuan ilmiah penting lainnya meliputi:
- Juvenil Coelacanth berukuran sekitar 26 sentimeter ditemukan di Teluk Amurang.
- CT Scan memperlihatkan keberadaan 22 telur di dalam tubuh satu spesimen.
- Peneliti memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA) untuk mempelajari persebaran spesies.
- Data baru memperkaya pemahaman mengenai biologi dan reproduksi Coelacanth. (Technology Indonesia, 2026).
Coelacanth Indonesia Menguatkan Status sebagai “Fosil Hidup”
Coelacanth dikenal sebagai salah satu spesies paling unik di dunia karena garis keturunannya telah bertahan sejak sekitar 400 juta tahun lalu. Kelompok ikan ini sempat diyakini telah punah sekitar 65–70 juta tahun yang lalu dan hanya dikenal melalui catatan fosil, sebelum akhirnya seekor Coelacanth ditemukan hidup di lepas pantai Afrika Selatan pada 1938. Penemuan tersebut mengubah pandangan ilmuwan terhadap evolusi vertebrata dan membuat Coelacanth dijuluki sebagai “fosil hidup”.
Indonesia memiliki spesies Latimeria menadoensis yang pertama kali diidentifikasi pada akhir 1990-an. Penelitian yang berlangsung selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa perairan Indonesia, khususnya Sulawesi dan Papua, merupakan salah satu habitat terpenting bagi spesies langka tersebut. Hingga kini, tim peneliti telah mendokumentasikan sedikitnya 52 individu Coelacanth di perairan Indonesia melalui berbagai ekspedisi ilmiah.
Beberapa fakta penting mengenai Coelacanth meliputi:
- Berasal dari garis keturunan yang telah ada sekitar 400 juta tahun.
- Sempat dianggap punah hingga ditemukan hidup kembali pada 1938.
- Indonesia menjadi habitat Latimeria menadoensis.
- Penelitian di Indonesia telah berlangsung sejak 2004.
- Sedikitnya 52 individu telah didokumentasikan di berbagai wilayah Indonesia.
Pulau Talise Diusulkan Menjadi Kawasan Konservasi dan Warisan Dunia UNESCO
Temuan terbaru di Pulau Talise memperkuat dasar ilmiah untuk melindungi habitat Coelacanth secara permanen. Peneliti BRIN menilai kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sehingga pemerintah bersama para peneliti tengah menyiapkan pembentukan kawasan konservasi khusus melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai bagian dari proses penetapan perairan Pulau Talise menjadi kawasan konservasi atau taman suaka habitat Coelacanth. Setelah proses tersebut selesai, habitat Coelacanth di Pulau Talise direncanakan untuk diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena berada di kawasan Coral Triangle, salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.
Manfaat yang diharapkan dari pengembangan kawasan konservasi tersebut meliputi:
- Melindungi habitat alami Coelacanth.
- Mendukung penelitian biodiversitas laut jangka panjang.
- Mengembangkan pendidikan berbasis konservasi.
- Mendorong ekowisata berkelanjutan.
- Memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat penelitian biodiversitas laut dunia.
Penemuan 18 individu Coelacanth di Pulau Talise menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam penelitian kelautan Indonesia. Selain memperkaya pengetahuan mengenai populasi, habitat, dan reproduksi spesies purba tersebut, hasil riset ini juga menyediakan dasar ilmiah yang kuat bagi upaya konservasi laut nasional.
Ikuti terus informasi terbaru seputar sains, lingkungan, dan biodiversitas Indonesia hanya di Garap Media. Jangan lewatkan juga artikel menarik lainnya mengenai konservasi laut, penemuan spesies langka, dan perkembangan riset ilmiah yang mendukung pelestarian kekayaan alam Indonesia.
Referensi
