Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan ditandai oleh tekanan darah tinggi serta tanda gangguan pada organ tubuh. Kondisi ini dapat berkembang menjadi eklamsia, HELLP syndrome, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga kondisi yang mengancam nyawa sehingga membutuhkan deteksi dan penanganan medis sejak dini. (Kementerian Kesehatan RI, 2025; WHO, 2025)
Preeklamsia Muncul Setelah 20 Minggu Kehamilan
Preeklamsia termasuk gangguan hipertensi yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh ibu. Kondisi tersebut paling sering berkembang setelah 20 minggu kehamilan, tetapi preeklamsia juga dapat muncul setelah persalinan. (WHO, 2025)
Tekanan darah menjadi salah satu tanda utama dalam pemeriksaan preeklamsia. Dokter biasanya mencurigai hipertensi dalam kehamilan ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih, sedangkan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih menunjukkan kondisi hipertensi berat yang membutuhkan perhatian segera. (ACOG, 2026)
Preeklamsia juga dapat menunjukkan tanda kerusakan organ meskipun protein dalam urine tidak selalu menjadi satu-satunya penanda. Pemeriksaan dapat mencakup fungsi ginjal, fungsi hati, jumlah trombosit, serta kondisi janin untuk menentukan tingkat keparahan. (Kementerian Kesehatan RI, 2025)
Gejala Preeklamsia yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil
Preeklamsia dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga pemeriksaan kehamilan rutin memiliki peran penting. Pemeriksaan tekanan darah dan urine dapat membantu tenaga kesehatan menemukan tanda awal sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat. (NHS, 2026)
Beberapa gejala yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
- Sakit kepala berat yang tidak kunjung membaik.
- Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur atau munculnya kilatan cahaya.
- Nyeri pada bagian atas perut atau di bawah tulang rusuk.
- Pembengkakan mendadak pada wajah dan tangan.
- Kenaikan berat badan secara tiba-tiba.
- Mual atau muntah pada paruh kedua kehamilan.
- Sesak napas.
- Tekanan darah tinggi saat pemeriksaan. (ACOG, 2026; Kementerian Kesehatan RI, 2025)
Ibu hamil yang mengalami gejala tersebut perlu segera menghubungi tenaga kesehatan, terutama ketika gejala muncul secara mendadak atau semakin berat. Pemeriksaan cepat dapat membantu dokter menentukan apakah kondisi membutuhkan pemantauan intensif atau penanganan di rumah sakit. (NHS, 2026)
Faktor Risiko Preeklamsia pada Kehamilan
Preeklamsia dapat terjadi pada ibu hamil tanpa faktor risiko yang jelas. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami komplikasi tersebut. (ACOG, 2026)
Faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi:
- Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
- Kehamilan pertama.
- Kehamilan kembar atau lebih.
- Hipertensi kronis.
- Penyakit ginjal.
- Diabetes.
- Penyakit autoimun tertentu.
- Riwayat keluarga dengan preeklamsia.
- Usia ibu 35 tahun atau lebih.
- Obesitas.
- Kehamilan melalui fertilisasi in vitro. (ACOG, 2026)
Kementerian Kesehatan RI juga mendorong deteksi dini preeklamsia sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko kematian ibu. Program tersebut mencakup pemeriksaan dan penguatan akses deteksi dini bagi ibu hamil. (Kementerian Kesehatan RI, 2026)
Pemeriksaan Preeklamsia Menilai Kondisi Ibu dan Janin
Dokter dapat menggunakan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis preeklamsia. Pemeriksaan tekanan darah menjadi langkah awal, kemudian tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan urine dan darah untuk mencari tanda gangguan organ. (ACOG, 2026)
Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi:
- Tes urine untuk memeriksa protein.
- Tes darah untuk menilai fungsi ginjal dan hati.
- Pemeriksaan jumlah trombosit.
- Pengukuran tekanan darah secara berkala.
- USG untuk memantau pertumbuhan janin.
- Pemeriksaan tambahan untuk menilai kondisi janin jika diperlukan. (ACOG, 2026; Kementerian Kesehatan RI, 2025)
Penanganan Preeklamsia Bergantung pada Kondisi Ibu dan Janin
Penanganan preeklamsia bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan usia kehamilan. Dokter dapat melakukan pemantauan ketat untuk kasus tanpa tanda berat, sedangkan kondisi berat dapat membutuhkan rawat inap, obat penurun tekanan darah, serta magnesium sulfat untuk membantu mencegah kejang. (ACOG, 2026; WHO, 2025)
Persalinan menjadi bagian utama penanganan karena preeklamsia hanya benar-benar berakhir setelah kehamilan selesai. Dokter akan menentukan waktu persalinan berdasarkan kondisi ibu, kondisi janin, usia kehamilan, dan tingkat keparahan komplikasi. (ACOG, 2026)
Preeklamsia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi eklamsia dan menyebabkan kejang. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan HELLP syndrome, kerusakan organ, solusio plasenta, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, serta kematian ibu atau bayi. (WHO, 2025)
Ibu yang pernah mengalami preeklamsia juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dan penyakit kardiovaskular pada masa mendatang. Kondisi tersebut membuat pemantauan kesehatan setelah persalinan tetap penting bagi ibu yang memiliki riwayat preeklamsia. (ACOG, 2026)
Pembaca dapat menemukan informasi kesehatan dan edukasi lainnya melalui artikel Garap Media. Informasi tersebut dapat membantu pembaca memahami berbagai kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian dan pemeriksaan medis.
Garap Media juga menghadirkan artikel lain mengenai kesehatan, gaya hidup, dan berbagai informasi penting bagi masyarakat. Ikuti terus pembaruan Garap Media untuk mendapatkan informasi terbaru dengan pembahasan yang mudah dipahami.
Referensi
