Fenomena Embun Upas Dieng kembali menyelimuti Dataran Tinggi Dieng pada 12 Juli 2026 setelah suhu permukaan turun hingga -3 derajat Celsius. Kristal es tampak menutupi rumput, tanaman, dan kawasan Kompleks Candi Arjuna sehingga menarik perhatian wisatawan. Di balik keindahannya, embun upas juga berpotensi merusak tanaman pertanian. Karena itu, masyarakat dan wisatawan diimbau tetap waspada terhadap suhu dingin ekstrem. (detikTravel, 2026; ANTARA News, 2026; BMKG, 2023).
Embun Upas Dieng Terbentuk Saat Suhu Permukaan Turun di Bawah Nol Derajat
Embun upas merupakan embun yang membeku ketika suhu permukaan berada di bawah 0 derajat Celsius. Menurut BMKG, fenomena ini lazim terjadi pada musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September. Angin monsun Australia membawa massa udara kering ke Indonesia, sementara langit yang cerah mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi. Kombinasi kondisi tersebut menyebabkan suhu di kawasan pegunungan dapat turun hingga di bawah titik beku. (BMKG, 2023; ANTARA News, 2026).
Pada 12 Juli 2026, suhu permukaan di kawasan Dieng dilaporkan mencapai -3 derajat Celsius. Penurunan suhu itu membuat uap air yang menempel pada rerumputan dan tanaman membeku menjadi lapisan kristal es tipis. Pemandangan tersebut terlihat jelas di sekitar Kompleks Candi Arjuna. Kondisi itu membuat banyak wisatawan datang sejak dini hari untuk mengabadikan momen langka tersebut. (detikTravel, 2026).
Beberapa faktor yang memicu kemunculan embun upas di Dieng meliputi:
- Angin monsun Australia membawa massa udara kering pada musim kemarau.
- Langit cerah mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari.
- Suhu permukaan turun hingga di bawah 0 derajat Celsius.
- Uap air membeku menjadi kristal es di rumput, tanaman, dan permukaan tanah.
- Wilayah pegunungan dengan elevasi tinggi lebih berpotensi mengalami embun beku. (BMKG, 2023).
Embun Upas Menjadi Daya Tarik Wisata Sekaligus Ancaman bagi Pertanian Dieng
Fenomena embun upas selalu menjadi daya tarik wisata setiap musim kemarau. Hamparan rumput yang tertutup kristal es sering disebut menyerupai salju. Pemandangan tersebut menjadi objek fotografi favorit, terutama di kawasan Candi Arjuna dan sekitarnya. Kondisi itu turut meningkatkan kunjungan wisata selama musim kemarau. (detikTravel, 2026; BMKG, 2023).
Di sisi lain, masyarakat setempat mengenal embun upas sebagai “embun beracun”. Julukan tersebut muncul karena lapisan es dapat merusak jaringan tanaman. Kentang yang menjadi komoditas utama di Dieng termasuk tanaman yang paling rentan terdampak. Setelah terkena embun beku, daun dan batang tanaman dapat mengering sehingga hasil panen berpotensi menurun. (BMKG, 2023).
Wisatawan Perlu Menjaga Keselamatan Saat Menikmati Embun Upas Dieng
Bagi wisatawan yang ingin menikmati embun upas, BMKG mengimbau agar menyiapkan pakaian hangat, jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, serta alas kaki yang sesuai. Perlengkapan tersebut membantu menjaga tubuh tetap hangat saat berada di area terbuka. Persiapan yang baik juga dapat mengurangi risiko hipotermia maupun gangguan kesehatan akibat suhu dingin ekstrem. (ANTARA News, 2026; BMKG, 2023).
Selain membawa perlengkapan yang memadai, wisatawan juga disarankan memantau informasi cuaca sebelum berangkat menuju Dieng. Informasi tersebut membantu menentukan waktu terbaik untuk menyaksikan embun upas. Pengunjung juga diimbau menjaga kebersihan kawasan wisata dan tidak menginjak tanaman yang tertutup embun beku. Seluruh wisatawan diharapkan mengikuti arahan petugas agar aktivitas di kawasan Dieng berlangsung aman dan tertib. (ANTARA News, 2026; BMKG, 2023).
Embun Upas Dieng Menjadi Fenomena Alam Unik yang Perlu Dijaga
Kemunculan embun upas kembali membuktikan bahwa Dataran Tinggi Dieng memiliki fenomena alam yang unik. Keindahan tersebut menjadi daya tarik wisata setiap musim kemarau. Meski menyerupai salju, embun upas tetap perlu disikapi secara bijak karena dapat berdampak pada sektor pertanian dan aktivitas masyarakat setempat. (detikTravel, 2026; BMKG, 2023).
Temukan berbagai informasi terbaru mengenai fenomena alam, cuaca, lingkungan, dan destinasi wisata Indonesia hanya di Garap Media. Kami akan terus menghadirkan berita yang akurat, informatif, dan mudah dipahami dari berbagai sumber tepercaya.
Baca juga artikel menarik lainnya di Garap Media untuk memperoleh informasi terkini seputar fenomena alam, perubahan iklim, serta berbagai destinasi wisata yang layak masuk dalam daftar perjalanan Anda.
Referensi
