Garap Media – Pasar kembali memberikan ujian berat bagi Elon Musk. Setelah sempat menikmati euforia saat SpaceX melantai di bursa, perusahaan antariksa itu kini menghadapi tekanan besar akibat pelemahan harga saham yang terus berlanjut. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga langsung menggerus kekayaan pribadi Musk yang sebagian besar masih terikat pada kepemilikan saham SpaceX. Di sisi lain, kondisi tersebut justru menjadi ladang keuntungan bagi investor yang sejak awal bertaruh harga saham perusahaan akan turun. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sentimen pasar dapat berubah sangat cepat ketika ekspektasi tinggi mulai berbenturan dengan realitas bisnis. Kini, perhatian investor beralih pada apakah SpaceX mampu mengembalikan kepercayaan pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Saham SpaceX Tertekan, Kekayaan Elon Musk Ikut Menyusut
Harga saham SpaceX kini diperdagangkan di bawah harga penawaran umum perdana (IPO), mengakhiri euforia yang sempat mendorong valuasi perusahaan ke level tertinggi. Saat pertama kali melantai di bursa, saham SpaceX dibanderol sebesar US$135 per lembar sebelum melonjak hingga menembus US$200 dalam beberapa hari perdagangan. Namun, optimisme tersebut perlahan memudar seiring meningkatnya keraguan investor terhadap prospek bisnis perusahaan. Hingga saat ini, harga saham telah turun ke sekitar US$131 atau berada di bawah harga IPO. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, nilainya telah terkoreksi hampir sepertiga dari posisi puncaknya. Penurunan tersebut otomatis mengurangi nilai kepemilikan Elon Musk yang masih menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan. Kekayaan miliarder tersebut pun ikut terpangkas seiring melemahnya kapitalisasi pasar SpaceX.
Tekanan terhadap saham SpaceX juga tercermin dari meningkatnya aktivitas short selling di pasar. Data S3 Partners menunjukkan sekitar 185 juta saham SpaceX telah diposisikan untuk transaksi short atau hampir 29 persen dari saham yang beredar di pasar publik. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan beberapa pekan sebelumnya yang masih berada di kisaran lima hingga tujuh persen. Direktur Pelaksana S3 Partners, Ihor Dusaniwsky, menilai lonjakan ini dipicu oleh pelemahan harga saham sekaligus mendekatnya masa berakhirnya lock-up period. Kondisi tersebut membuat semakin banyak investor memperkirakan tekanan jual masih akan berlanjut. Bagi pelaku short selling, tren ini justru membuka peluang keuntungan yang lebih besar. Situasi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap SpaceX sedang mengalami penurunan.
Investor Mulai Mempertanyakan Strategi Bisnis SpaceX
Di balik tekanan harga saham, investor kini mulai mencermati arah bisnis jangka panjang yang diambil perusahaan. Salah satu perhatian utama adalah rencana SpaceX memperluas bisnis menuju pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan di orbit. Strategi tersebut dipandang ambisius, tetapi juga membutuhkan investasi dalam jumlah sangat besar sebelum menghasilkan keuntungan. Kekhawatiran semakin meningkat karena perusahaan masih menghadapi tantangan dalam membuktikan model bisnis tersebut mampu memberikan profit yang berkelanjutan. Laporan keuangan sebelumnya bahkan menunjukkan SpaceX masih membukukan kerugian mendekati US$5 miliar sepanjang tahun lalu. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih mengurangi eksposur terhadap saham perusahaan. Akibatnya, tekanan jual terus membayangi pergerakan saham sejak beberapa pekan terakhir.
Sentimen negatif juga muncul setelah keputusan Elon Musk menggabungkan SpaceX dengan perusahaan kecerdasan buatan miliknya, xAI, menjelang IPO. Langkah tersebut membuat berbagai kontroversi yang menimpa xAI ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap SpaceX. Salah satu isu yang banyak disorot adalah kontroversi chatbot Grok yang sempat menjadi perhatian karena penyalahgunaan fitur pembuatan gambar berbasis AI. Walaupun kedua perusahaan bergerak di sektor berbeda, keterkaitan kepemilikan membuat investor tetap memperhitungkan risiko reputasi tersebut. Situasi ini memperlihatkan bahwa faktor nonteknis kini semakin memengaruhi penilaian pasar terhadap perusahaan teknologi. Kepercayaan investor pun tidak lagi hanya bergantung pada inovasi, tetapi juga tata kelola serta arah strategi bisnis perusahaan. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat saham SpaceX kehilangan momentum positif yang sempat terbentuk setelah IPO.
Short Seller Raup Untung, Pasar Masih Dibayangi Volatilitas
Saat sebagian investor mengalami kerugian, kelompok short seller justru menikmati hasil yang berlawanan. Berdasarkan data Bloomberg, keuntungan kertas para investor yang melakukan short selling terhadap saham SpaceX telah mencapai sekitar US$3,88 miliar. Strategi ini dilakukan dengan meminjam saham untuk dijual lebih dahulu, kemudian membelinya kembali ketika harga turun sehingga selisih harga menjadi keuntungan. Semakin dalam penurunan harga saham, semakin besar pula potensi keuntungan yang diperoleh pelaku short selling. Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa pasar saat ini lebih banyak dihuni investor yang memilih bersikap defensif terhadap saham SpaceX. Tren tersebut sekaligus menunjukkan tingginya tingkat skeptisisme terhadap prospek jangka pendek perusahaan. Selama belum ada katalis positif, tekanan terhadap harga saham diperkirakan masih akan berlanjut.
Tantangan berikutnya diperkirakan datang dari berakhirnya masa penguncian saham atau lock-up period. Mulai sekarang hingga akhir tahun, sebagian besar saham yang sebelumnya tidak dapat diperdagangkan akan mulai dilepas ke pasar. Jika pemegang saham lama memutuskan menjual kepemilikannya dalam jumlah besar, tekanan terhadap harga saham berpotensi semakin meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, SpaceX tetap memiliki peluang membalikkan sentimen apabila mampu menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik dan memperjelas arah bisnis AI yang sedang dikembangkan. Untuk sementara waktu, pasar tampaknya masih memilih bersikap hati-hati sambil menunggu bukti bahwa investasi besar perusahaan benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Sumber Referensi
- CNBC Indonesia. “Elon Musk Makin Miskin, Investor Malah Makin Kaya.” https://www.cnbcindonesia.com/tech/
- Bloomberg. “Short Sellers Boost Bets Against SpaceX After IPO Decline.” https://www.bloomberg.com/
- S3 Partners. “Short Interest Data and Market Analytics.” https://www.s3partners.com/
- SpaceX Investor Relations. “Investor Information.” https://www.spacex.com/
