Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasannya

Last Updated: 24 September 2026, 09:43

Bagikan:

Daratan Baru Anak Krakatau
Daratan baru seluas 30,3 hektare muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau akibat aktivitas vulkanik. Sumber gambar: Liputan6.com/Dok Istimewa.
Table of Contents

Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Suwarno menjelaskan bahwa bentang alam tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik hasil erupsi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena tersebut tidak menunjukkan kemunculan gunung api baru karena petugas belum memiliki dasar untuk menyimpulkan adanya pusat erupsi baru di lokasi tersebut. (detikNews, 2026)

Daratan Baru Anak Krakatau Terbentuk dari Akumulasi Material Erupsi

Daratan baru Anak Krakatau berada di kawasan antara tubuh Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Lokasi tersebut masih termasuk dalam kompleks kawasan vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan.

Suwarno menjelaskan bahwa material hasil erupsi menjadi sumber utama pembentukan daratan tersebut. Material vulkanik yang terlontar dari aktivitas gunung api kemudian menumpuk secara bertahap di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Proses tersebut membuat daratan tidak terbentuk secara tiba-tiba dalam satu kali erupsi. Endapan material terus bertambah seiring aktivitas vulkanik yang meningkat sejak beberapa waktu sebelumnya. (Liputan6, 2026)

Beberapa fakta utama mengenai daratan baru tersebut meliputi:

  • Luas: sekitar 30,3 hektare.
  • Lokasi: antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
  • Wilayah: Lampung Selatan, Lampung.
  • Material: endapan vulkanik hasil aktivitas erupsi.
  • Proses pembentukan: berlangsung secara bertahap.
  • Pemantauan: dilakukan oleh Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Membentuk Bentang Alam Baru

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan terbentuknya daratan baru tersebut. Badan Geologi sebelumnya menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026 karena peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi.

Gunung Anak Krakatau kemudian mengalami rangkaian erupsi selama periode peningkatan aktivitas tersebut. Data Badan Geologi mencatat 224 kali erupsi hingga 3 September 2026, sedangkan erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026.

Erupsi menerus tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak dari pusat erupsi menuju sejumlah arah. Material vulkanik dari aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari endapan yang mengubah bentang alam di sekitar gunung api. (ANTARA, 2026)

Perubahan kawasan tersebut menunjukkan beberapa karakter aktivitas vulkanik:

  • Erupsi mengeluarkan material vulkanik dari pusat aktivitas.
  • Material vulkanik dapat terakumulasi di sekitar kawasan gunung.
  • Endapan material dapat mengubah bentuk permukaan wilayah.
  • Aktivitas vulkanik dapat membentuk bentang alam baru secara bertahap.

Daratan Baru Anak Krakatau Belum Menunjukkan Gunung Api Baru

Kemunculan daratan baru Anak Krakatau memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan terbentuknya gunung api baru. Sebagian masyarakat menyebut fenomena tersebut sebagai kemungkinan munculnya “cucu Krakatau”.

Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau belum membenarkan anggapan tersebut. Suwarno menjelaskan bahwa endapan material erupsi tidak otomatis menunjukkan terbentuknya pusat gunung api baru.

Pergerakan magma di bawah permukaan juga belum dapat diketahui hanya melalui perubahan bentuk daratan. Magma bergerak mengikuti jalur yang terbentuk di bawah permukaan sehingga keberadaan daratan baru belum dapat menjadi bukti adanya pusat erupsi baru.

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap menjadi dasar untuk mengetahui perkembangan kawasan tersebut. Petugas juga terus mengamati perubahan aktivitas vulkanik dan kondisi lingkungan di sekitar gunung api. (detikNews, 2026)

Status Gunung Anak Krakatau Turun Menjadi Level II Waspada

Badan Geologi menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Penurunan status tersebut dilakukan setelah hasil evaluasi menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas vulkanik, kegempaan, dan deformasi.

Meskipun status aktivitas mengalami penurunan, masyarakat tetap harus mengikuti rekomendasi keselamatan. Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan, dan pendaki melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung juga diminta mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait. Pemerintah mengimbau masyarakat tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. (ANTARA, 2026)

Kemunculan daratan seluas 30,3 hektare menjadi salah satu perubahan bentang alam yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Endapan material erupsi membentuk permukaan baru secara bertahap, sedangkan kemungkinan terbentuknya pusat gunung api baru masih belum dapat dipastikan.

Pembaca dapat mengikuti artikel Garap Media lainnya untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai aktivitas gunung api, fenomena alam, dan perkembangan kebencanaan di Indonesia. Garap Media terus menghadirkan berita aktual dengan pembahasan yang informatif dan mudah dipahami.

Garap Media juga menyajikan berbagai artikel mengenai lingkungan, sains, teknologi, dan peristiwa nasional. Pembaca dapat mengikuti artikel lainnya untuk memperoleh informasi terbaru mengenai fenomena alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /