5 Fakta AS dan China Berebut Teknologi Masa Depan, Eropa Ada di Mana?

Last Updated: 29 September 2026, 10:36

Bagikan:

5 Fakta AS dan China Berebut Teknologi Masa Depan, Eropa Ada di Mana?
Table of Contents

Garap Media – Perlombaan teknologi dunia memasuki babak baru. Amerika Serikat dan China kini bersaing dalam teknologi yang dapat menentukan ekonomi masa depan. AI, semikonduktor, cloud, robotika dan pusat data menjadi bagian penting dari persaingan ini.

Di tengah persaingan tersebut, Eropa menghadapi pertanyaan besar. Apakah Eropa hanya akan menjadi pasar bagi teknologi asing? Atau, kawasan ini mampu membangun kekuatan teknologinya sendiri? Perkembangan terbaru menunjukkan Eropa sedang mengambil jalur berbeda. Namun, tantangannya juga tidak kecil.

1. AI Menjadi Medan Pertarungan Utama AS dan China

AI kini menjadi salah satu teknologi paling strategis dalam persaingan AS dan China. Washington membatasi akses China terhadap sejumlah chip dan teknologi semikonduktor canggih, sementara Beijing mendorong pengembangan ekosistem teknologi domestik agar tidak terlalu bergantung pada pemasok asing. Reuters melaporkan pada September 2026 bahwa persaingan tersebut mencakup kemampuan model AI, akses chip, infrastruktur komputasi dan aturan teknologi. Pada saat yang sama, jarak kemampuan AI antara kedua negara disebut semakin menyempit menurut sejumlah pelaku industri.

China juga semakin agresif membangun kemampuan teknologinya sendiri. Pembatasan akses terhadap teknologi Amerika justru meningkatkan tekanan bagi perusahaan China untuk mengembangkan chip, memori dan sistem komputasi domestik. Reuters melaporkan perusahaan semikonduktor China seperti CXMT dan YMTC menjadi bagian penting dari upaya Beijing membangun industri chip yang lebih mandiri. Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang teknologi tidak hanya berlangsung di laboratorium AI, tetapi juga di pabrik semikonduktor.

2. Chip Menjadi Senjata Ekonomi Baru

Di balik kecanggihan AI terdapat komponen yang jauh lebih kecil tetapi sangat menentukan, yaitu semikonduktor. Chip menjadi fondasi bagi pusat data, smartphone, kendaraan listrik, robot, sistem pertahanan dan berbagai perangkat pintar. Karena itu, kemampuan menguasai rantai pasok chip dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teknologi masa depan. AS menggunakan pembatasan ekspor sebagai salah satu instrumen untuk membatasi akses China terhadap teknologi chip tertentu, sementara China mempercepat investasi domestiknya.

Persaingan tersebut membuat industri chip semakin berkaitan dengan keamanan ekonomi dan geopolitik. China berusaha memperluas kemampuan produksi memorinya, sementara Amerika Serikat tetap memiliki posisi penting dalam desain chip dan ekosistem teknologi. Perubahan rantai pasok ini juga dapat memengaruhi harga perangkat elektronik dan ketersediaan teknologi di berbagai negara. Dengan kata lain, persaingan chip AS-China bukan sekadar urusan perusahaan teknologi, tetapi dapat menentukan siapa yang memiliki akses lebih besar terhadap teknologi generasi berikutnya.

3. Eropa Tidak Ingin Selamanya Menjadi Konsumen Teknologi

Lalu, di mana posisi Eropa? Uni Eropa tampaknya menyadari bahwa ketergantungan terhadap teknologi dari luar kawasan dapat menjadi masalah strategis. Komisi Eropa pada Juni 2026 memperkenalkan paket kedaulatan teknologi yang mencakup Chips Act 2.0, Cloud and AI Development Act, strategi open source dan peta jalan digitalisasi serta AI di sektor energi. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan Eropa dalam semikonduktor, AI, cloud dan teknologi digital lainnya.

Eropa juga berusaha memperbesar kapasitas produksi chipnya sendiri. European Chips Act dan rencana Chips Act 2.0 diarahkan untuk memperkuat riset, produksi, desain dan ketahanan rantai pasok semikonduktor. Komisi Eropa menyebut proposal Chips Act 2.0 ditujukan untuk mengurangi ketergantungan strategis sekaligus meningkatkan produksi chip canggih dan mainstream di kawasan. Ini menunjukkan bahwa Eropa tidak sepenuhnya pasif dalam persaingan teknologi global, meskipun masih menghadapi ketergantungan pada negara lain untuk sejumlah teknologi penting.

4. Kekuatan Eropa Ada pada Regulasi dan Industri

Eropa memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan AS dan China. Selain membangun infrastruktur, Uni Eropa berusaha membentuk aturan mengenai bagaimana AI digunakan di pasar dan sektor publik. Strategi Apply AI Uni Eropa diarahkan untuk mempercepat penggunaan AI di sektor seperti kesehatan, manufaktur, transportasi, robotika, energi dan pertahanan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Eropa berusaha menjadikan regulasi, industri dan teknologi sebagai bagian dari satu strategi.

Namun, regulasi saja tidak cukup untuk membangun kekuatan teknologi. Eropa membutuhkan perusahaan yang mampu mengembangkan model AI, pusat data, chip dan infrastruktur komputasi dalam skala global. Pada Agustus 2026, Uni Eropa bahkan memesan superkomputer AI senilai sekitar €387,8 juta untuk memperluas kapasitas komputasi dan mengurangi kesenjangan dengan AS serta China. LUMI-AI di Finlandia dijadwalkan beroperasi pada paruh kedua 2027 dan menjadi bagian dari jaringan AI Factories Eropa.

5. Dunia Bisa Terbelah Menjadi Beberapa Ekosistem Teknologi

Persaingan AS dan China berpotensi menciptakan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan perusahaan teknologi. Reuters menggambarkan kedua negara sedang berupaya membangun ekosistem AI dan rantai pasok yang semakin terpisah, meskipun hubungan finansial dan bisnis di antara keduanya masih sangat besar. Perbedaan standar, chip, cloud, model AI dan aturan penggunaan teknologi dapat membuat perusahaan global harus menyesuaikan diri dengan lebih dari satu ekosistem.

Eropa berada di posisi yang menarik karena tidak ingin sepenuhnya bergantung pada salah satu kubu. Di satu sisi, kawasan ini masih membutuhkan teknologi dan infrastruktur dari luar, tetapi di sisi lain sedang membangun kapasitas domestik melalui investasi AI, semikonduktor dan superkomputer. Tantangan Eropa adalah mengubah kekuatan regulasi dan pasar menjadi kemampuan teknologi yang benar-benar kompetitif. Jika investasi tersebut berhasil menghasilkan perusahaan dan infrastruktur yang kuat, Eropa dapat memainkan peran lebih besar dalam membentuk standar teknologi global.

Penutup

Persaingan teknologi masa depan kini jauh lebih luas. AS dan China bersaing dalam AI, chip, cloud dan infrastruktur digital. Persaingan tersebut memiliki dampak ekonomi dan geopolitik yang lebih besar. China mempercepat kemandirian teknologi di tengah pembatasan akses dari AS. Sementara itu, Washington mempertahankan kontrol terhadap sejumlah teknologi strategis. Di tengah situasi tersebut, Eropa mulai membangun strategi sendiri.

Investasi pada semikonduktor, AI, cloud dan komputasi menjadi bagian dari langkah tersebut. Namun, membangun kekuatan teknologi membutuhkan waktu. Eropa juga masih menghadapi ketergantungan pada teknologi dari luar kawasan. Karena itu, pertanyaan besarnya bukan hanya siapa yang menguasai teknologi masa depan. Pertanyaannya juga adalah bagaimana dunia akan terbagi ketika teknologi semakin terkait dengan kekuatan ekonomi.

Eropa mungkin belum memiliki skala perusahaan AI seperti AS. Kawasan ini juga belum menguasai seluruh rantai pasok chip. Namun, investasi terbaru menunjukkan bahwa Eropa sedang berusaha memperkuat posisinya. Perlombaan teknologi ini masih panjang. Selanjutnya, perkembangan AI, semikonduktor dan infrastruktur komputasi akan ikut menentukan posisi masing-masing kawasan.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /