Garap Media – Dulu, pertumbuhan startup sering diukur dari seberapa cepat perusahaan merekrut orang baru. Kantor semakin besar, tim bertambah dan pendanaan baru datang hampir setiap tahun. Namun ketika kondisi pasar berubah, perusahaan yang pernah terlihat tidak terkalahkan bisa mengambil keputusan paling sulit: melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan cepat tidak selalu berarti bisnis sudah sehat. Bahkan startup dengan nama besar sekalipun tetap harus berhadapan dengan tekanan modal, keuntungan dan perubahan teknologi.
Data terbaru memperlihatkan bahwa masalah tersebut bukan sekadar cerita dari masa lalu. CB Insights menganalisis 431 perusahaan yang didukung modal ventura dan berhenti beroperasi sejak 2023, dengan kehabisan modal muncul dalam 70 persen kasus sebagai penyebab terakhir kegagalan. Namun, akar persoalannya sering kali lebih dalam, seperti product-market fit yang buruk, waktu yang tidak tepat dan unit economics yang tidak berkelanjutan. (CB Insights) Lalu, mengapa startup besar juga bisa sampai melakukan PHK?
1. Pertumbuhan Terlalu Cepat Membuat Biaya Membengkak
Startup biasanya dibangun dengan satu prinsip: tumbuh secepat mungkin sebelum pesaing mengambil pasar. Ketika mendapatkan pendanaan besar, perusahaan dapat merekrut ratusan bahkan ribuan karyawan dalam waktu singkat. Strategi tersebut masuk akal ketika investor masih bersedia memberikan modal baru secara rutin. Masalah muncul ketika pertumbuhan pengguna tidak sebanding dengan pertumbuhan biaya operasional. Gaji, kantor, teknologi, pemasaran dan berbagai biaya pendukung akhirnya menjadi beban yang harus dibayar setiap bulan. PHK kemudian menjadi salah satu cara tercepat untuk mengurangi pengeluaran ketika perusahaan mulai mengejar efisiensi.
Fenomena ini memperlihatkan perbedaan antara pertumbuhan dan kesehatan bisnis. Startup bisa memiliki jumlah pengguna besar tetapi tetap mengalami tekanan jika biaya memperoleh dan melayani pengguna terlalu tinggi. CB Insights menemukan bahwa 70 persen perusahaan startup dalam analisis mereka berakhir karena kehabisan modal, sementara masalah seperti product-market fit dan unit economics sering menjadi penyebab yang mendahuluinya. (CB Insights) Artinya, PHK sering kali bukan masalah yang muncul secara tiba-tiba. Keputusan tersebut dapat menjadi konsekuensi dari strategi ekspansi yang sebelumnya terlalu agresif.
2. Pendanaan Tidak Lagi Semudah Dulu
Alasan kedua adalah perubahan kondisi pendanaan. Startup yang belum menghasilkan keuntungan biasanya membutuhkan investor untuk membiayai operasional dan ekspansi. Selama investor optimistis, perusahaan dapat terus mendapatkan putaran pendanaan baru. Namun ketika pasar modal menjadi lebih selektif, perusahaan harus membuktikan bahwa uang yang mereka gunakan benar-benar menghasilkan pertumbuhan. Startup yang tidak mampu memenuhi ekspektasi investor akan kesulitan mendapatkan modal tambahan. Pada akhirnya, pengurangan tenaga kerja menjadi salah satu pilihan untuk memperpanjang umur kas perusahaan.
Kondisi ini menjelaskan mengapa runway menjadi istilah yang sangat penting dalam dunia startup. Runway menunjukkan berapa lama perusahaan dapat bertahan dengan kas yang tersedia sebelum membutuhkan pendanaan berikutnya. Semakin besar biaya bulanan, semakin pendek pula runway perusahaan. CB Insights menemukan bahwa kehabisan modal merupakan penyebab akhir paling umum dalam kegagalan startup yang mereka teliti. (CB Insights) Karena itu, startup yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengejar pendanaan besar. Mereka juga harus memastikan setiap dolar yang masuk dapat menghasilkan nilai bisnis yang lebih besar.
3. AI Mengubah Struktur Organisasi dan Jenis Pekerjaan
Alasan ketiga datang dari teknologi yang justru menjadi salah satu sumber pertumbuhan startup: kecerdasan buatan. AI memungkinkan perusahaan mengotomatisasi sebagian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia. Namun perubahan tersebut tidak selalu berarti semua karyawan akan digantikan mesin. Dalam banyak kasus, perusahaan menggunakan AI sebagai alasan untuk mendesain ulang organisasi, mengurangi pekerjaan yang dianggap berulang dan memindahkan tenaga kerja menuju fungsi yang dianggap lebih strategis.
World Economic Forum memperkirakan 41 persen pemberi kerja yang disurvei berencana mengurangi tenaga kerja ketika AI mampu mereplikasi sejumlah peran, sementara 77 persen berencana melakukan upskilling terhadap pekerja. (World Economic Forum) Angka tersebut menunjukkan bahwa masa depan pekerjaan kemungkinan tidak sesederhana manusia versus mesin. Sebagian pekerjaan dapat berkurang, tetapi pekerjaan baru dan kebutuhan keterampilan baru juga akan muncul. Bagi startup, perubahan ini berarti struktur tim harus terus menyesuaikan diri dengan teknologi yang berkembang sangat cepat.
4. Produk Tidak Lagi Sesuai dengan Pasar
Startup dapat memiliki investor terkenal, teknologi canggih dan tim yang hebat, tetapi semuanya tidak cukup jika produknya tidak benar-benar dibutuhkan pelanggan. Inilah yang disebut sebagai masalah product-market fit. Ketika kebutuhan pasar berubah, produk yang sebelumnya populer bisa kehilangan daya tarik. Perusahaan kemudian harus memilih antara mengubah produk, mencari pasar baru atau memangkas biaya agar bisa bertahan lebih lama.
Data CB Insights menunjukkan product-market fit yang buruk menjadi salah satu penyebab utama kegagalan startup, ditemukan dalam 43 persen dari 431 post-mortem yang mereka analisis. (CB Insights) Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa masalah startup sering kali bukan sekadar kurang uang. Uang justru bisa habis karena perusahaan terlalu lama membiayai produk yang tidak memiliki permintaan kuat. PHK kemudian menjadi bagian dari restrukturisasi ketika perusahaan mencoba kembali menemukan arah bisnis yang lebih realistis.
5. Investor Mulai Menuntut Efisiensi, Bukan Sekadar Pertumbuhan
Alasan terakhir adalah perubahan cara investor melihat startup. Pada periode ketika modal murah dan optimisme tinggi, pertumbuhan pengguna sering menjadi prioritas utama. Namun ketika kondisi ekonomi berubah, investor mulai memperhatikan margin, arus kas dan kemampuan menghasilkan keuntungan. Startup tidak bisa selamanya mengatakan bahwa keuntungan akan datang beberapa tahun lagi. Pada akhirnya, perusahaan harus menunjukkan bahwa pertumbuhan yang mereka kejar dapat diterjemahkan menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Tekanan tersebut juga membuat perusahaan teknologi besar melakukan restrukturisasi meskipun AI membuka peluang pertumbuhan baru. Kasus Meta menunjukkan betapa rumitnya proses tersebut karena perusahaan sempat mendorong perubahan organisasi berbasis AI, tetapi kemudian menghadapi persoalan produktivitas, stabilitas sistem dan resistensi internal. (Reuters) Pelajarannya jelas: efisiensi tidak selalu berarti mengganti manusia dengan AI. Restrukturisasi yang berhasil membutuhkan strategi, komunikasi dan pemahaman mengenai pekerjaan yang benar-benar dapat diotomatisasi.
PHK Bukan Selalu Berarti Startup Gagal
PHK memang menjadi kabar buruk bagi karyawan yang terkena dampaknya, tetapi dari sudut pandang bisnis, keputusan tersebut tidak selalu berarti perusahaan akan bangkrut. Ada startup yang melakukan PHK untuk mengubah prioritas, mengurangi lapisan manajemen atau memindahkan modal ke produk yang lebih menjanjikan. Dalam kondisi tertentu, organisasi yang lebih kecil justru dapat bergerak lebih cepat. Masalahnya adalah apakah pengurangan tenaga kerja dilakukan sebagai bagian dari strategi yang jelas atau hanya untuk menunda masalah keuangan.
Dunia kerja sendiri sedang mengalami perubahan besar akibat teknologi dan tekanan ekonomi. World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 sekitar 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta sementara 92 juta pekerjaan terdampak displacement, sehingga secara bersih terdapat potensi peningkatan 78 juta pekerjaan. (World Economic Forum) Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan pekerjaan tidak selalu berarti hilangnya kesempatan. Yang berubah adalah jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
Penutup
Lima alasan tersebut memperlihatkan bahwa PHK startup jarang disebabkan oleh satu persoalan saja. Pertumbuhan terlalu cepat dapat membuat biaya membengkak, pendanaan dapat mengering, AI dapat mengubah struktur pekerjaan, produk dapat kehilangan pasar dan investor dapat mulai menuntut efisiensi. Semua faktor tersebut saling berkaitan dan dapat menciptakan tekanan yang semakin besar ketika terjadi bersamaan. Karena itu, ukuran keberhasilan startup tidak seharusnya hanya dilihat dari valuasi atau jumlah karyawan.
Startup yang mampu bertahan adalah perusahaan yang memahami kapan harus tumbuh dan kapan harus mengerem. Mereka tidak hanya mengejar pendanaan, tetapi membangun produk yang benar-benar dibutuhkan pasar. Mereka juga tidak melihat AI sekadar sebagai alat untuk mengurangi jumlah pekerja, melainkan sebagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan peluang baru.
Pada akhirnya, PHK memang menjadi sisi paling menyakitkan dari perubahan dunia startup. Tetapi di baliknya terdapat pelajaran penting bagi perusahaan maupun pekerja: pertumbuhan yang sehat bukan tentang menjadi semakin besar, melainkan menjadi semakin kuat.
Dan di era AI, kemampuan untuk beradaptasi mungkin akan menjadi aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar memiliki jumlah karyawan yang besar.
Sumber Referensi
- CB Insights – Startup Failure https://www.cbinsights.com/research/report/startup-failure-reasons-top/
- World Economic Forum – Future of Jobs https://www.weforum.org/press/2025/01/future-of-jobs-report-2025-78-million-new-job-opportunities-by-2030-but-urgent-upskilling-needed-to-prepare-workforces/
- World Economic Forum – AI dan Dunia Kerja https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/in-full/4-workforce-strategies/
- Reuters – Meta dan AI https://www.reuters.com/technology/artificial-intelligence/how-metas-ai-workforce-transformation-plans-went-kaput-2026-08-26/
