Garap Media – Ada satu angka yang membuat dunia startup AI terlihat seperti tidak mengenal batas: valuasi. Perusahaan yang beberapa tahun lalu masih mencari investor kini bisa dihargai puluhan bahkan ratusan miliar dolar. Uang mengalir deras karena investor percaya AI akan menjadi teknologi paling penting dalam ekonomi masa depan. Namun, di balik angka fantastis tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih sulit: apakah pertumbuhan bisnisnya benar-benar mampu mengejar valuasinya?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena investasi AI memang sedang berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Stanford AI Index 2026 mencatat investasi korporasi AI global lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025, sementara jumlah perusahaan AI yang baru mendapatkan pendanaan meningkat 71 persen. Investasi generative AI juga tumbuh lebih dari 200 persen dan menyerap hampir setengah dari seluruh pendanaan AI privat. Di satu sisi, angka tersebut menunjukkan kepercayaan luar biasa terhadap AI. Di sisi lain, semakin tinggi ekspektasi, semakin besar pula tuntutan agar perusahaan membuktikan bahwa valuasi tersebut memiliki dasar ekonomi yang kuat.
1. Anthropic dan Pertaruhan pada Pendapatan Masa Depan
Anthropic menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana valuasi startup AI kini banyak bergantung pada ekspektasi masa depan. Reuters melaporkan pada Agustus 2026 bahwa valuasi Anthropic untuk rencana IPO sangat berkaitan dengan proyeksi pendapatan sekitar 190 hingga 200 miliar dolar pada 2028. Angka tersebut jauh di atas run rate pendapatan sekitar 47 miliar dolar yang menjadi acuan saat laporan tersebut dibuat. Investor pada dasarnya tidak hanya membeli kondisi Anthropic hari ini, tetapi juga bertaruh bahwa perusahaan dapat tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun. Model seperti ini bisa menghasilkan valuasi luar biasa ketika pertumbuhan terjadi sesuai rencana.
Masalah yang jarang dibahas adalah jarak antara proyeksi dan kenyataan. Untuk membenarkan valuasi yang sangat tinggi, perusahaan harus terus meningkatkan jumlah pelanggan, pendapatan dan efisiensi sekaligus mengendalikan biaya komputasi. Anthropic juga harus mengamankan kapasitas komputasi dalam jumlah besar karena model AI membutuhkan infrastruktur yang mahal. Reuters melaporkan perusahaan tersebut telah berkomitmen pada berbagai kesepakatan infrastruktur bernilai puluhan miliar dolar untuk memenuhi pertumbuhan permintaan. Jika pertumbuhan pengguna dan pendapatan berjalan lebih lambat dari perkiraan, tekanan terhadap model bisnis dapat meningkat.
2. OpenAI dan Biaya Besar di Balik Pertumbuhan
OpenAI berada pada posisi yang berbeda karena skala bisnis dan ekosistemnya sudah sangat besar. Perusahaan ini memiliki produk yang digunakan konsumen dan perusahaan di berbagai negara. Valuasi OpenAI yang mencapai ratusan miliar dolar mencerminkan keyakinan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi infrastruktur penting bagi ekonomi digital. Namun, bisnis AI tidak sama dengan bisnis perangkat lunak tradisional yang dapat menambah jutaan pengguna dengan biaya marginal yang relatif kecil. Setiap permintaan AI membutuhkan komputasi, pusat data, chip dan energi yang memiliki biaya nyata.
Stanford AI Index 2026 menemukan bahwa perusahaan AI terdepan memang mampu meningkatkan pendapatan dengan sangat cepat, tetapi pengeluaran komputasi juga meningkat signifikan. Google, misalnya, mencatat belanja modal tahunan lebih dari 150 miliar dolar pada 2025. Kondisi ini memperlihatkan masalah mendasar dalam perlombaan AI: pertumbuhan pendapatan harus mampu mengimbangi pertumbuhan biaya infrastruktur. Jika efisiensi model meningkat, perusahaan dapat memperoleh margin yang lebih baik. Tetapi jika kebutuhan komputasi tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, valuasi tinggi akan semakin sulit dipertahankan.
3. Startup Infrastruktur AI Ikut Mengejar Valuasi Fantastis
Cerita tentang valuasi tinggi tidak hanya terjadi pada pembuat model AI. Perusahaan yang menyediakan komputasi untuk menjalankan AI juga mendapatkan perhatian investor dalam jumlah besar. Nscale, misalnya, menjadi salah satu perusahaan infrastruktur AI yang tumbuh cepat dan dilaporkan memiliki valuasi sekitar 14,6 miliar dolar setelah mendapatkan kontrak senilai 45 miliar dolar dari Anthropic. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya nilai ekonomi yang mulai dibangun di sekitar kebutuhan komputasi AI.
Namun, terdapat risiko yang sering luput dari perhatian ketika angka kontrak dan valuasi diberitakan. Financial Times menyoroti bahwa sejumlah perusahaan neocloud bergantung pada aset yang disewa dan pembiayaan yang kompleks untuk membeli atau menyediakan perangkat komputasi AI. Jika perangkat keras mengalami penurunan nilai lebih cepat dari perkiraan atau pelanggan mengurangi kontrak, struktur bisnis tersebut dapat menghadapi tekanan. Artinya, kontrak bernilai puluhan miliar dolar tidak otomatis sama dengan keuntungan puluhan miliar dolar. Investor tetap perlu melihat berapa biaya untuk memenuhi kontrak tersebut dan berapa laba yang sebenarnya tersisa.
Ketika Valuasi Menjadi Lebih Cepat daripada Bisnis
Fenomena yang terjadi pada startup AI sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dunia teknologi sudah beberapa kali mengalami periode ketika investor membayar mahal untuk potensi masa depan. Perbedaannya, kali ini teknologi yang menjadi dasar investasi memang memiliki penggunaan nyata dan pertumbuhan pengguna yang kuat. Stanford memperkirakan nilai ekonomi yang diperoleh konsumen Amerika Serikat dari generative AI mencapai sekitar 172 miliar dolar per tahun pada awal 2026. Jadi, masalahnya bukan apakah AI memiliki nilai, melainkan apakah harga yang dibayar investor sudah terlalu tinggi dibandingkan nilai ekonomi yang mampu diciptakan perusahaan.
Di sinilah investor perlu memisahkan antara perusahaan yang mahal dan perusahaan yang mengalami gelembung. Perusahaan mahal bisa saja memiliki pertumbuhan pendapatan yang sangat tinggi sehingga valuasinya masuk akal dalam jangka panjang. Sebaliknya, perusahaan dengan fundamental lemah dapat terlihat sangat menarik ketika pasar sedang optimistis terhadap teknologi tertentu. Risiko muncul ketika investor mulai menggunakan proyeksi beberapa tahun ke depan sebagai alasan utama untuk membenarkan harga hari ini. Semakin panjang jarak antara kinerja saat ini dan harapan masa depan, semakin besar pula ruang terjadinya kejutan.
Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan AI?
Valuasi tinggi tidak selalu menjadi kabar buruk bagi teknologi. Modal besar memungkinkan perusahaan membangun pusat data, merekrut peneliti terbaik dan mengembangkan model yang sebelumnya terlalu mahal untuk dibuat. Bahkan perlombaan investasi saat ini dapat mempercepat perkembangan AI dalam bidang kesehatan, sains, pendidikan, perangkat lunak dan berbagai industri lainnya. Stanford mencatat investasi AI global terus berkembang bersamaan dengan peningkatan penggunaan teknologi tersebut oleh perusahaan. Dalam konteks tersebut, modal besar dapat menjadi bahan bakar bagi inovasi yang benar-benar mengubah ekonomi.
Tetapi modal juga membawa tanggung jawab. Startup yang menerima miliaran dolar pada akhirnya harus menunjukkan bahwa uang tersebut menghasilkan produk, pelanggan dan keuntungan yang berkelanjutan. Investor juga harus berani bertanya mengenai biaya komputasi, ketergantungan pada penyedia cloud, umur perangkat keras dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas. Jika pertanyaan tersebut diabaikan karena semua orang takut tertinggal dalam perlombaan AI, risiko koreksi akan semakin besar. Masa depan AI mungkin sangat cerah, tetapi tidak semua perusahaan yang membawa label AI akan menjadi pemenangnya.
Penutup
Tiga contoh tersebut memperlihatkan wajah baru industri startup AI. Anthropic mengejar pertumbuhan pendapatan yang sangat agresif, OpenAI harus menghadapi biaya infrastruktur yang luar biasa besar, sementara perusahaan seperti Nscale membangun bisnis di belakang ledakan kebutuhan komputasi. Ketiganya memiliki peluang besar karena permintaan terhadap AI memang berkembang. Namun, ketiganya juga menghadapi tantangan yang sama: membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat mengejar ekspektasi investor.
Mungkin inilah masalah paling penting yang jarang dibahas ketika valuasi startup AI diberitakan. Angka miliaran dolar terlihat mengesankan, tetapi angka tersebut hanyalah harga dari sebuah harapan sampai perusahaan mampu mengubahnya menjadi pendapatan dan keuntungan nyata.
AI sendiri kemungkinan besar akan tetap berkembang meskipun sebagian valuasi startup mengalami koreksi. Bahkan jika pasar suatu hari melakukan penyesuaian besar, teknologi yang benar-benar berguna akan tetap dicari. Perusahaan yang memiliki pelanggan nyata, produk kuat, biaya terkendali dan kemampuan beradaptasi justru berpeluang keluar sebagai pemenang.
Pada akhirnya, perlombaan AI bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan valuasi paling tinggi. Perlombaan sebenarnya adalah tentang siapa yang mampu membuktikan bahwa miliaran dolar yang dipercayakan investor benar-benar dapat berubah menjadi bisnis yang bertahan puluhan tahun.
Sumber Referensi
- Stanford AI Index 2026 https://hai.stanford.edu/ai-index/2026-ai-index-report/economy
- Re uters – Anthropic https://www.reuters.com/business/anthropic-ipo-valuation-hinges-190-200-billion-2028-revenue-forecast-sources-say-2026-08-15/
- Reuters – Anthropic dan Infrastruktur https://www.reuters.com/technology/artificial-intelligence/anthropic-was-cautious-mega-infra-deals-then-demand-surged-2026-09-02/
- Financial Times – AI Infrastructure https://www.ft.com/content/7af605e0-b528-46f6-b86e-b90b46f03c4c
