Garap Media – Eropa sedang memasuki fase baru dalam persaingan teknologi dunia. Setelah bertahun-tahun bergantung pada perusahaan dan teknologi dari Amerika Serikat serta Asia, Uni Eropa mulai mendorong agenda kemandirian teknologi secara lebih serius. Ambisi tersebut terlihat dari kebijakan baru yang menyasar semikonduktor, kecerdasan buatan, cloud, open source hingga infrastruktur digital. Namun, membangun ekosistem teknologi sendiri bukan perkara membuat regulasi lalu menunggu industri tumbuh. Ada persoalan besar yang menyangkut modal, energi, kapasitas komputasi, keterampilan dan ketergantungan terhadap pemasok asing.
1. Eropa Ingin Menguasai Teknologi yang Paling Strategis
Rahasia pertama di balik ambisi Eropa mandiri teknologi adalah perubahan cara melihat teknologi sebagai bagian dari keamanan ekonomi. Pada Juni 2026, Komisi Eropa memperkenalkan paket Technological Sovereignty yang mencakup Chips Act 2.0 dan Cloud and AI Development Act. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan Eropa dalam semikonduktor, AI, cloud dan teknologi open source. Komisi Eropa juga menilai ketergantungan pada pemasok non-EU menjadi persoalan strategis ketika teknologi semakin menentukan industri dan layanan publik.
Semikonduktor menjadi salah satu pusat perhatian karena chip merupakan fondasi bagi AI, kendaraan terhubung, robot industri, drone dan berbagai perangkat digital. Melalui Chips Act 2.0, Eropa ingin memperkuat desain, produksi, riset serta keterampilan di sektor semikonduktor. Komisi Eropa menyebut Uni Eropa masih bergantung pada negara ketiga untuk sejumlah bagian penting dalam desain dan manufaktur chip canggih. Targetnya bukan sekadar memproduksi lebih banyak chip, tetapi membuat rantai pasok lebih tahan terhadap gangguan eksternal.
2. Masalah Besarnya: Eropa Masih Kekurangan Infrastruktur dan Kapasitas
Ambisi teknologi Eropa menghadapi persoalan yang sangat praktis, yaitu kapasitas komputasi dan infrastruktur digital belum cukup besar. Studi Komisi Eropa pada Agustus 2026 menemukan bahwa ketersediaan kapasitas komputasi di Uni Eropa masih terbatas dan terkonsentrasi secara geografis. Eropa juga masih bergantung pada penyedia cloud dan komputasi AI dari luar kawasan. Kondisi tersebut membuat pengembangan AI dalam skala besar tidak hanya membutuhkan inovasi, tetapi juga investasi infrastruktur yang sangat besar.
Energi menjadi masalah berikutnya karena pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Komisi Eropa sendiri mencatat bahwa akses terhadap energi, lahan, air dan pembiayaan dapat menjadi hambatan dalam memperluas infrastruktur cloud dan data center. Pada saat yang sama, kebutuhan AI terhadap komputasi terus meningkat sehingga persaingan mendapatkan kapasitas menjadi semakin ketat. Bahkan Reuters melaporkan Uni Eropa memesan superkomputer AI senilai €387,8 juta untuk memperluas kapasitas komputasi Eropa, dengan kebutuhan saat ini disebut masih melampaui kapasitas yang tersedia.
3. Talenta, Modal, dan Fragmentasi Bisa Menjadi Penghambat Terbesar
Masalah ketiga adalah kemampuan mengubah riset menjadi bisnis teknologi berskala global. Data Komisi Eropa dalam State of the Digital Decade 2026 menunjukkan sekitar 20% perusahaan Uni Eropa telah menggunakan AI, tetapi perusahaan kecil dan menengah masih menghadapi hambatan berupa keterampilan, akses data, infrastruktur dan sumber daya. Jumlah spesialis teknologi informasi dan komunikasi juga baru sekitar 5% dari total pekerjaan pada 2025, sementara target 2030 berada di angka 10%. Artinya, Eropa memiliki basis pendidikan dan riset yang kuat, tetapi masih perlu memperbesar jumlah tenaga yang mampu membangun dan mengoperasikan teknologi tersebut.
Persoalan lain adalah pasar Eropa yang terdiri dari banyak negara dengan aturan, kepentingan industri dan kondisi infrastruktur yang tidak selalu sama. Komisi Eropa bahkan menempatkan penguatan Single Market sebagai bagian penting untuk mengurangi fragmentasi dan memperbesar skala investasi teknologi. IMF juga memperingatkan pada September 2026 bahwa fragmentasi pasar modal, tenaga kerja dan energi dapat menahan investasi serta inovasi Eropa. Dengan kata lain, tantangan Eropa bukan hanya mengejar Amerika Serikat atau China dalam menciptakan teknologi, tetapi memastikan 27 negara dapat bergerak lebih terkoordinasi.
Penutup
Eropa mandiri teknologi bukan lagi sekadar wacana politik atau slogan industri. Uni Eropa sudah menyiapkan kebijakan untuk memperkuat chip, cloud, AI, energi digital dan infrastruktur komputasi. Namun, perjalanan menuju kemandirian teknologi masih menghadapi tiga persoalan besar, yaitu ketergantungan infrastruktur, kebutuhan energi dan modal, serta kekurangan talenta dan fragmentasi pasar. Jika persoalan tersebut dapat dikurangi, Eropa memiliki peluang membangun ekosistem teknologi yang lebih mandiri tanpa harus sepenuhnya memutus hubungan dengan perusahaan global.
Sumber Referensi
- European Commission – Strengthening Europe’s Tech Sovereignty
https://digital-strategy.ec.europa.eu/en/policies/eu-tech-sovereignty - European Commission – Chips Act 2.0
https://digital-strategy.ec.europa.eu/en/policies/chips-act-2 - Reuters – EU Orders AI Supercomputer From Bull as Demand Exceeds Capacity
https://www.reuters.com/world/europe/europe-expands-ai-computing-network-with-390-million-order-frances-bull-2026-08-31/
