Garap Media – Perang AI di Asia mulai memasuki babak yang lebih serius. Persaingan tidak lagi hanya tentang siapa yang memiliki chatbot paling populer, tetapi juga siapa yang menguasai chip, komputasi, pusat data, talenta, data dan ekosistem teknologi. Amerika Serikat, China dan sejumlah negara Asia terus memperkuat posisi mereka melalui investasi serta kerja sama teknologi. Indonesia pun berada di tengah perubahan tersebut karena kebutuhan AI nasional terus meningkat. Pertanyaannya, apakah Indonesia harus memilih salah satu kubu atau justru bisa membangun posisi sendiri?
Jawabannya tidak sesederhana memilih Amerika atau China. Pemerintah Indonesia justru sedang membangun peta jalan AI nasional, sementara ASEAN juga mendorong tata kelola AI yang bertanggung jawab dan interoperabel. Posisi tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan banyak pihak sekaligus memperkuat kemampuan domestiknya. Namun, ada tiga fakta penting yang menunjukkan betapa sulitnya posisi Indonesia ketika persaingan AI global semakin tajam.
1. Perang AI Sudah Bergerak ke Asia
Persaingan AI global kini tidak berhenti di Amerika Serikat dan China. Negara-negara Asia juga berusaha memperkuat infrastruktur, investasi, talenta dan ekosistem AI masing-masing. ASEAN bahkan menggelar pertemuan tingkat menteri bersama Amerika Serikat pada Mei 2026 untuk membahas pengembangan, tata kelola, riset dan penerapan AI. Pembahasan tersebut mencakup akses terhadap infrastruktur AI, kapasitas komputasi, pusat data, chip dan sistem digital terpercaya. Ini menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari persaingan ekonomi dan teknologi kawasan.
Bagi Indonesia, perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tekanan. Negara yang mampu menyediakan infrastruktur dan ekosistem AI dapat menarik investasi teknologi bernilai besar. Sebaliknya, negara yang hanya menjadi pengguna berisiko lebih bergantung pada teknologi dari luar negeri. Kementerian Komunikasi dan Digital sendiri menyebut persaingan AI berlangsung antara Amerika, China, Eropa dan negara-negara Asia. Karena itu, perang AI bukan lagi isu teknologi yang jauh dari Indonesia. Perkembangannya dapat memengaruhi investasi, industri, pekerjaan dan arah ekonomi digital nasional.
2. Indonesia Tidak Harus Memilih Satu Kubu
Tekanan geopolitik memang membuat pilihan teknologi menjadi semakin rumit. Namun, Indonesia memiliki ruang untuk membangun kerja sama dengan berbagai negara tanpa harus menjadikan teknologi sebagai persoalan memilih satu pihak secara mutlak. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk mendapatkan investasi, infrastruktur, pengetahuan dan akses pasar dari berbagai sumber. Pemerintah juga sedang menyiapkan Perpres Etika AI dan Perpres Peta Jalan AI sebagai fondasi pengembangan AI nasional. Artinya, fokus Indonesia dapat diarahkan pada kepentingan nasional dan kemampuan membangun ekosistem sendiri.
ASEAN juga telah memiliki Responsible AI Roadmap 2025–2030 yang memberikan panduan bagi negara anggota untuk membangun lingkungan AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Posisi regional ini memberi Indonesia ruang untuk memperkuat kerja sama tanpa harus kehilangan kepentingan nasional. Indonesia dapat membuka kolaborasi teknologi sekaligus menetapkan standar mengenai data, keamanan dan penggunaan AI. Strategi tersebut membuat hubungan teknologi tidak harus selalu dipandang sebagai hubungan hitam-putih. Tantangannya adalah memastikan kerja sama asing benar-benar meningkatkan kemampuan Indonesia, bukan hanya memperbesar ketergantungan.
3. Kunci Indonesia Ada pada Talenta, Data dan Infrastruktur
Indonesia memiliki pasar digital besar, tetapi pasar saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan AI. Negara membutuhkan talenta yang mampu mengembangkan, mengaudit dan menggunakan teknologi tersebut secara produktif. Pemerintah sebelumnya menempatkan etika, infrastruktur dan tata kelola data, talenta serta investasi sebagai bagian penting dalam pengembangan AI nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 juga menekankan bahwa adopsi AI saja tidak cukup karena kemampuan menggunakannya menjadi faktor penting. Di sinilah pekerjaan terbesar Indonesia sebenarnya berada.
Jika Indonesia hanya mengimpor teknologi tanpa membangun kemampuan lokal, posisi tawarnya akan terbatas. Sebaliknya, semakin kuat talenta, data, infrastruktur komputasi dan perusahaan AI domestik, semakin besar ruang Indonesia menentukan kepentingannya sendiri. Pemerintah juga menempatkan perlindungan data pribadi sebagai bagian penting karena AI membutuhkan data dalam jumlah besar. Dengan fondasi tersebut, Indonesia tidak harus membangun semuanya sendirian untuk disebut mandiri. Kemandirian dapat berarti mampu memilih teknologi, membangun kemampuan lokal dan bernegosiasi dengan berbagai mitra berdasarkan kepentingan nasional.
Penutup
Perang AI di Asia membuat posisi Indonesia semakin strategis sekaligus penuh tantangan. Indonesia tidak harus terburu-buru memilih antara Amerika Serikat atau China karena masih terdapat ruang untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Namun, ruang tersebut hanya akan kuat jika Indonesia memiliki talenta, infrastruktur, data dan industri AI yang semakin mandiri. Pemerintah kini sedang membangun kerangka kebijakan AI nasional, sementara ASEAN memperkuat kerja sama regional. Pertarungan berikutnya bukan sekadar tentang siapa yang memiliki AI paling canggih, tetapi siapa yang mampu mengubah AI menjadi kekuatan ekonomi tanpa kehilangan kendali atas kepentingannya sendiri.
Sumber Referensi
- Kementerian Komunikasi dan Digital – Peta Jalan AI Nasional
https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10312 - ASEAN – AI Ministerial 2026
https://asean.org/asean-and-the-u-s-convened-the-ai-ministerial-to-deepen-cooperation-on-ai-development-and-governance/ - ASEAN – Responsible AI Roadmap 2025–2030
https://asean.org/book/asean-responsible-ai-roadmap-2025-2030/
