Garap Media – Kecerdasan buatan kini menjadi salah satu arena persaingan teknologi terbesar di dunia. Amerika Serikat dan China masih menjadi pemain utama dalam pengembangan model AI. Sementara itu, Eropa berusaha memperkuat posisinya di berbagai bagian rantai nilai teknologi. IMF pada September 2026 menyebut AS dan China sebagai penyedia AI terdepan. Di sisi lain, Eropa terus mengejar melalui perusahaan teknologi dan pembangunan infrastruktur strategis.
Persaingan tersebut tidak berhenti di laboratorium teknologi. Sebaliknya, AI membutuhkan chip, pusat data, listrik, talenta, investasi dan jaringan digital. Semua kebutuhan itu memiliki dampak ekonomi lintas negara. Bagi negara berkembang, kondisi ini menghadirkan peluang untuk meningkatkan produktivitas. Namun, ketergantungan pada teknologi asing juga dapat menciptakan risiko baru. Karena itu, World Bank menilai negara berkembang tidak harus membangun model AI terbesar untuk mendapatkan manfaat dari teknologi tersebut.
1. AI Sudah Menjadi Pertarungan Ekonomi, Bukan Sekadar Teknologi
Amerika Serikat memiliki perusahaan teknologi besar dan ekosistem modal yang kuat untuk mengembangkan AI, sementara China memiliki basis industri, pasar domestik besar dan kemampuan riset yang terus berkembang. Eropa mengambil jalur berbeda dengan berusaha membangun posisi di berbagai bagian rantai nilai AI, termasuk melalui perusahaan seperti ASML dan Mistral. IMF menyebut AS dan China masih berada di depan Eropa dalam AI, meskipun sejumlah negara Eropa dan Asia memiliki peran penting sebagai pemasok teknologi.
Pertarungan ini membuat AI semakin dekat dengan kebijakan industri dan strategi ekonomi nasional. Negara yang mampu menyediakan komputasi, data, talenta dan modal memiliki peluang lebih besar untuk menangkap nilai ekonomi dari perkembangan AI. UNCTAD mencatat investasi AI dan infrastruktur digital semakin terkonsentrasi pada sektor dan negara tertentu. Konsentrasi tersebut berpotensi membuat negara yang belum memiliki ekosistem teknologi kuat semakin sulit mengejar.
2. Negara Berkembang Bisa Mendapat Peluang, tetapi Kesenjangannya Nyata
Perkembangan AI tidak sepenuhnya menjadi ancaman bagi negara berkembang. World Bank mencatat lebih dari 40 persen lalu lintas ChatGPT global pada pertengahan 2025 berasal dari negara berpendapatan menengah, termasuk Indonesia, India, Brasil dan Vietnam. Bahkan sekitar satu dari lima lowongan pekerjaan GenAI berada di negara berpendapatan menengah pada periode 2021–2024. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI sudah berkembang jauh melampaui negara-negara teknologi maju.
Namun, kemampuan menggunakan AI tidak sama dengan kemampuan menciptakan teknologi AI. Negara berpendapatan tinggi menguasai sebagian besar model AI penting, startup AI dan pendanaan modal ventura, sementara kapasitas pusat data juga sangat terkonsentrasi. World Bank mencatat negara berpendapatan tinggi menguasai 77 persen kapasitas data center colocation global pada Juni 2025. Kesenjangan konektivitas, komputasi dan keterampilan membuat manfaat AI berpotensi tidak tersebar secara merata.
3. Siapa Menguasai AI, Bisa Memengaruhi Arah Ekonomi Global
AI semakin penting karena teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dan mengubah cara pekerjaan dilakukan. UNCTAD memperkirakan pasar AI global dapat mencapai US$4,8 triliun pada 2033, sekaligus memperingatkan bahwa pertumbuhan tersebut berisiko memperlebar kesenjangan pembangunan jika investasi dan kemampuan teknologi terkonsentrasi pada sedikit negara. Pada 2022, sekitar 100 perusahaan yang sebagian besar berasal dari AS dan China menyumbang 40 persen penelitian dan pengembangan AI global.
Bagi negara berkembang, persoalannya bukan sekadar membeli aplikasi AI dari perusahaan asing. Mereka juga perlu memastikan internet terjangkau, listrik stabil, keterampilan digital meningkat dan teknologi dapat bekerja dengan bahasa serta kebutuhan lokal. World Bank menyebut konektivitas, compute, context dan competency sebagai fondasi penting agar negara berkembang mampu mendapatkan manfaat AI. Karena itu, persaingan AS, China dan Eropa pada akhirnya ikut menentukan ruang gerak ekonomi digital negara-negara lain.
Penutup
Persaingan AI antara Amerika Serikat, China dan Eropa menunjukkan bahwa kecerdasan buatan sudah menjadi bagian penting dari kompetisi ekonomi global. Negara berkembang ikut terdampak karena investasi, pusat data, keterampilan, pekerjaan dan akses terhadap teknologi semakin dipengaruhi oleh konsentrasi kekuatan AI. Namun, posisi tersebut tidak hanya menghadirkan risiko karena negara berkembang juga memiliki peluang untuk menggunakan AI guna meningkatkan produktivitas dan membangun layanan digital lokal. Kuncinya terletak pada kemampuan mengembangkan infrastruktur, talenta dan ekosistem yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara. Di era AI, jarak antara negara maju dan berkembang bisa semakin lebar, tetapi teknologi yang tepat juga dapat membuka jalan baru untuk memperkecilnya.
Sumber Referensi
- International Monetary Fund (IMF) — Europe and the Global AI Race
https://www.imf.org/en/news/articles/2026/09/20/sp091926-europe-and-global-ai-race - UN Trade and Development (UNCTAD) — AI Investment Boom Risks Widening Global Development Divide
https://unctad.org/news/ai-investment-boom-risks-widening-global-development-divide - World Bank — Strengthening AI Foundations: Emerging Opportunities for Developing Countries
https://www.worldbank.org/en/news/factsheet/2025/11/21/strengthening-ai-foundations-emerging-opportunities-for-developing-countries
