Penyeberangan Merak-Bakauheni tetap beroperasi normal meski Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah mempertahankan layanan karena kondisi muka laut dan gelombang masih terkendali, sementara otoritas tetap memperketat pengawasan keselamatan pelayaran dan membatasi kapal dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. (detikNews, 2026).
Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Beroperasi di Tengah Erupsi
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan pada lintasan Merak-Bakauheni masih berjalan sesuai ketentuan operasional. ASDP juga memantau kondisi cuaca, perairan, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk menentukan langkah operasional. (ANTARA, 2026).
Corporate Secretary ASDP Windy Andale menyatakan bahwa aktivitas kapal dari Cabang Merak dan Cabang Bakauheni tetap berlangsung. ASDP menempatkan keselamatan pengguna jasa dan awak kapal sebagai pertimbangan utama selama aktivitas vulkanik berlangsung. (detikFinance, 2026).
ASDP juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk memantau perkembangan situasi. Koordinasi tersebut melibatkan regulator, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (Jurnas, 2026).
Anak Krakatau Level III Siaga, Kapal Dibatasi dalam Radius 3 Kilometer
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga ketika layanan penyeberangan tetap berjalan. Laporan teknis menyebut aktivitas erupsi masih berlangsung dan potensi bahaya utama berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. (ANTARA, 2026).
Kementerian Perhubungan menerapkan pembatasan jalur pelayaran untuk mengurangi risiko bagi kapal. Kapal dilarang mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif selama status Siaga masih berlaku. (detikFinance, 2026).
Kebijakan tersebut membuat layanan penyeberangan tetap tersedia tanpa mengabaikan zona yang berpotensi membahayakan pelayaran. Otoritas pelabuhan juga mempertahankan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi laut dan aktivitas vulkanik.
Beberapa langkah pengamanan yang diterapkan dalam operasional penyeberangan meliputi:
- Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau secara berkala.
- Pemantauan kondisi cuaca dan perairan Selat Sunda.
- Pembatasan pelayaran dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
- Koordinasi ASDP dengan BMKG, PVMBG, dan regulator.
- Penyesuaian operasional berdasarkan perkembangan kondisi lapangan. (Jurnas, 2026).
AHY Sebut Tidak Ada Indikasi Tsunami di Selat Sunda
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan kondisi penyeberangan masih memungkinkan pada Senin, 7 September 2026. AHY menjelaskan bahwa pemantauan dua hingga tiga hari terakhir tidak menunjukkan peningkatan permukaan air laut yang ekstrem maupun gelombang tinggi. (detikNews, 2026).
AHY juga menyampaikan bahwa pemerintah belum menemukan potensi tsunami yang berkaitan dengan kondisi terkini. Pemerintah tetap mempertahankan operasional penyeberangan dengan pengawasan ketat karena keselamatan pengguna transportasi menjadi prioritas. (detikNews, 2026).
Kondisi tersebut memberikan dasar bagi pemerintah untuk mempertahankan konektivitas antara Pulau Jawa dan Sumatera melalui lintasan Merak-Bakauheni. Namun, keputusan operasional tetap bergantung pada hasil pemantauan kondisi laut dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
ASDP Siapkan Puluhan Kapal untuk Layanan Merak-Bakauheni
ASDP tetap menyiapkan armada di kedua sisi lintasan untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat. Data operasional pada Minggu, 6 September 2026 menunjukkan 32 kapal tersedia dari sisi Merak dan 28 kapal beroperasi dari sisi Bakauheni. (Jurnas, 2026).
Cabang Merak juga mencatat aktivitas pengguna jasa dalam jumlah besar meski situasi vulkanik menjadi perhatian. Data ASDP menunjukkan 32.280 penumpang dan 8.629 kendaraan menggunakan layanan pada Jumat, 4 September, sedangkan pada Sabtu, 5 September, jumlahnya mencapai 28.826 penumpang dan 8.075 kendaraan. (Jurnas, 2026).
Penurunan jumlah kendaraan tersebut mencapai sekitar 6,42 persen dibandingkan hari sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan layanan tetap berjalan meskipun masyarakat menghadapi situasi erupsi dan peningkatan kewaspadaan di Selat Sunda.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Tetap Menjadi Perhatian Pemerintah
Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya memengaruhi pertimbangan keselamatan pelayaran. Abu vulkanik juga menjadi perhatian karena material tersebut dapat mengganggu sektor transportasi dan kesehatan masyarakat. (detikNews, 2026).
AHY mengingatkan masyarakat agar memperhatikan paparan abu vulkanik, terutama kelompok rentan seperti lansia, balita, dan masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan. Pemerintah menilai kewaspadaan kesehatan tetap diperlukan meskipun penyeberangan masih berjalan normal.
Operasional Merak-Bakauheni saat ini menunjukkan bahwa layanan transportasi laut masih dapat berlangsung di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemerintah dan ASDP tetap menempatkan pemantauan kondisi laut, zona bahaya, dan keselamatan pengguna jasa sebagai dasar utama setiap keputusan operasional.
Pembaca dapat mengikuti perkembangan terbaru mengenai transportasi, kebencanaan, dan kondisi Gunung Anak Krakatau melalui artikel-artikel lain di Garap Media. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat memahami perubahan situasi yang berpotensi memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Garap Media juga menghadirkan berbagai berita nasional dengan pembahasan yang aktual dan mudah dipahami. Pembaca dapat menjelajahi artikel lainnya untuk memperoleh informasi terbaru mengenai peristiwa penting di Indonesia.
Referensi
