Garap Media – AI di dunia kerja mulai mengubah cara perusahaan mengelola tenaga kerja. Kecerdasan buatan kini tidak hanya digunakan untuk eksperimen teknologi, tetapi sudah membantu berbagai aktivitas seperti administrasi, analisis informasi, komunikasi, hingga pekerjaan teknis tertentu. World Economic Forum mencatat 41 persen perusahaan yang disurvei memperkirakan akan mengurangi tenaga kerja ketika AI mampu mengotomatisasi sejumlah tugas. (World Economic Forum) Namun, perubahan ini bukan berarti manusia kehilangan seluruh peran dalam perusahaan. Sebaliknya, banyak organisasi mulai mencari pekerja yang mampu menggunakan AI sekaligus meningkatkan keterampilan karyawan yang sudah ada.
1. AI Bisa Menambah Kapasitas Tanpa Menambah Banyak Orang
Salah satu alasan utama perusahaan mengadopsi AI adalah kemampuannya meningkatkan kapasitas pekerjaan tanpa selalu menambah jumlah karyawan. Sistem AI dapat membantu menyelesaikan tugas berulang seperti merangkum dokumen, membuat draf, mengolah informasi, hingga membantu komunikasi internal. Riset mengenai penggunaan ChatGPT Enterprise menunjukkan bahwa teknologi AI telah digunakan dalam berbagai fungsi pekerjaan, termasuk penulisan, pekerjaan teknis, komunikasi, dan pengolahan informasi. (arXiv) Dengan bantuan teknologi tersebut, perusahaan dapat membuat tim yang sama menangani pekerjaan dalam jumlah lebih besar. Karena itu, AI mulai dipandang sebagai alat peningkatan produktivitas, bukan hanya sebagai teknologi otomatisasi.
Meski demikian, penggunaan AI tidak selalu berarti menggantikan pekerja manusia. International Labour Organization (ILO) menjelaskan bahwa sebagian besar pekerjaan yang terdampak AI generatif lebih mungkin mengalami perubahan tugas dibandingkan hilang sepenuhnya. (ILO) Manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan keputusan, memahami konteks, dan memastikan hasil teknologi tetap akurat. Oleh sebab itu, banyak perusahaan menggunakan AI sebagai pendukung sebelum melakukan perubahan besar pada struktur tenaga kerja. Kolaborasi antara manusia dan mesin menjadi pola kerja baru yang semakin berkembang.
2. Biaya Operasional Menjadi Pertimbangan
Perusahaan juga mempertimbangkan AI karena teknologi dapat membantu mengendalikan biaya operasional. Perekrutan karyawan baru membutuhkan proses seleksi, pelatihan, fasilitas kerja, dan waktu sebelum pekerja mencapai produktivitas penuh. AI dapat langsung digunakan untuk membantu sejumlah pekerjaan setelah sistemnya tersedia dan terintegrasi. Dalam kondisi bisnis yang menuntut efisiensi, kemampuan tersebut menjadi pertimbangan penting bagi manajemen. Beberapa perusahaan bahkan telah mengaitkan pengurangan tenaga kerja dengan efisiensi yang dihasilkan AI. Reuters melaporkan perusahaan fintech Chime memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya pada 2026 dengan alasan efisiensi yang didukung AI. (Reuters)
Meski demikian, keputusan menggunakan AI tidak selalu berarti lebih murah dalam jangka panjang. Perusahaan tetap membutuhkan biaya untuk perangkat lunak, infrastruktur, keamanan data, integrasi sistem, dan pelatihan karyawan. Bahkan, perusahaan perlu memiliki tenaga ahli untuk memastikan teknologi digunakan secara tepat. Karena itu, AI lebih tepat dipandang sebagai investasi bisnis daripada sekadar alat penghemat biaya. Perusahaan harus menghitung manfaat produktivitas dibandingkan biaya implementasi. Keputusan merekrut atau mengotomatisasi akhirnya bergantung pada jenis pekerjaan dan kebutuhan masing-masing organisasi.
3. AI Membuat Perusahaan Mencari Keterampilan Baru
Perubahan berikutnya terlihat dari meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan baru. Ketika AI mengambil sebagian pekerjaan rutin, perusahaan mulai mencari tenaga kerja yang mampu bekerja bersama teknologi. World Economic Forum mencatat 69 persen perusahaan berencana merekrut talenta yang memiliki kemampuan mengembangkan atau meningkatkan sistem AI. Selain itu, 62 persen perusahaan juga memperkirakan akan mencari pekerja yang mampu menggunakan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Di sisi lain, kemampuan manusia tetap menjadi faktor penting. Keterampilan seperti berpikir analitis, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah masih sulit digantikan oleh mesin. World Economic Forum menilai kombinasi antara kemampuan teknologi dan kemampuan manusia akan menjadi keunggulan utama tenaga kerja masa depan. (World Economic Forum) Artinya, pekerja tidak cukup hanya memahami teknologi, tetapi juga harus mampu menggunakannya untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.
4. Perusahaan Bisa Mengalihkan Karyawan, Bukan Sekadar Memecat
Ada anggapan bahwa ketika AI masuk, perusahaan otomatis harus mengurangi jumlah pekerja. Kenyataannya, sebagian organisasi justru berencana memindahkan pekerja dari posisi yang terdampak ke bagian lain. World Economic Forum mencatat 47 persen perusahaan memperkirakan akan melakukan transisi terhadap karyawan dari posisi yang terkena dampak AI ke pekerjaan lain di dalam organisasi. (World Economic Forum) Strategi tersebut memungkinkan perusahaan mempertahankan pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki karyawan. Pekerja dapat diarahkan ke tugas yang membutuhkan kemampuan lebih kompleks. Dengan begitu, AI menjadi bagian dari restrukturisasi pekerjaan.
Namun, perpindahan tersebut membutuhkan program peningkatan keterampilan yang serius. World Economic Forum mencatat 77 persen perusahaan berencana melakukan upskilling terhadap pekerja sebagai respons terhadap perubahan teknologi. (World Economic Forum) Pelatihan menjadi penting agar karyawan dapat menggunakan AI dan mengisi kebutuhan pekerjaan baru. Tanpa proses tersebut, kesenjangan antara kemampuan pekerja dan kebutuhan perusahaan dapat semakin besar. Transformasi AI akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. Ini juga persoalan bagaimana perusahaan mempersiapkan manusia untuk bekerja dalam sistem baru.
5. AI Tidak Akan Menggantikan Semua Perekrutan
Fakta terakhir justru menunjukkan bahwa perusahaan masih membutuhkan manusia meskipun penggunaan AI meningkat. Riset terbaru terhadap penggunaan AI di organisasi menemukan adopsi teknologi berbeda-beda berdasarkan perusahaan, fungsi pekerjaan, dan tingkat senioritas. (arXiv) Bahkan, laporan terbaru menunjukkan sejumlah perusahaan kembali meningkatkan perekrutan setelah sebelumnya menahan penerimaan pekerja karena ekspektasi terhadap AI dan kondisi ekonomi. (The Wall Street Journal) Hal ini menunjukkan kemampuan AI masih memiliki batas dalam menggantikan pekerjaan yang membutuhkan kolaborasi dan penilaian manusia. Perusahaan tetap membutuhkan pekerja untuk menjalankan strategi, berinteraksi dengan pelanggan, dan mengambil keputusan. Karena itu, masa depan kemungkinan lebih banyak berbentuk kolaborasi daripada penggantian total.
Perubahan terbesar justru terjadi pada standar perekrutan perusahaan. Mereka semakin mencari pekerja yang mampu bekerja dengan teknologi dan cepat mempelajari sistem baru. AI dapat mengambil sebagian tugas, tetapi manusia tetap menentukan tujuan dan arah bisnis. ILO juga menegaskan bahwa paparan terhadap AI tidak sama dengan otomatisasi penuh sebuah pekerjaan. (International Labour Organization) Karena itu, pekerja yang memahami AI memiliki peluang untuk menjadi lebih produktif dan relevan. Dunia kerja sedang berubah, tetapi manusia masih menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut.
Penutup
Perusahaan mulai memilih AI untuk sebagian pekerjaan karena teknologi menawarkan peningkatan produktivitas, otomatisasi tugas, dan peluang efisiensi. Namun, anggapan bahwa AI akan membuat perekrutan manusia berhenti sepenuhnya tidak didukung oleh gambaran pasar kerja yang ada. World Economic Forum justru memperkirakan AI akan menciptakan sekaligus menggeser berbagai pekerjaan hingga 2030. (World Economic Forum) Tantangan terbesar perusahaan adalah menentukan pekerjaan mana yang dapat dibantu AI dan pekerjaan mana yang tetap membutuhkan manusia. Bagi pekerja, kemampuan menggunakan AI menjadi semakin penting agar dapat mengikuti perubahan kebutuhan industri. Pada akhirnya, perusahaan yang paling siap bukan yang sekadar mengganti manusia dengan AI, melainkan yang mampu menggabungkan kekuatan teknologi dan manusia.
Sumber Referensi
- International Labour Organization – Generative AI and Jobs: A 2025 Update
https://www.ilo.org/publications/generative-ai-and-jobs-2025-update (International Labour Organization) - World Economic Forum – Future of Jobs Report 2025
https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/ (International Labour Organization) - Reuters – Chime and AI-Driven Workforce Reduction
https://www.reuters.com/business/world-at-work/chime-cut-10-total-workforce-or-about-140-jobs-source-says-2026-07-31/ (International Labour Organization)
