Mengapa Eropa Ingin Mandiri dari Teknologi Amerika dan China?

Last Updated: 23 September 2026, 21:21

Bagikan:

Mengapa Eropa Ingin Mandiri dari Teknologi Amerika dan China?
Table of Contents

Garap Media – Selama bertahun-tahun, Eropa menikmati manfaat dari teknologi yang dikembangkan Amerika Serikat dan produk yang diproduksi China. Namun ketika persaingan teknologi berubah menjadi pertarungan geopolitik, ketergantungan tersebut mulai terlihat sebagai risiko. Amerika menguasai banyak platform digital, cloud, AI, dan chip, sementara China memiliki posisi kuat dalam manufaktur, baterai, kendaraan listrik, serta berbagai rantai pasok strategis. Uni Eropa kini semakin sering menggunakan istilah technological sovereignty, yaitu kemampuan untuk bertindak mandiri dengan mengembangkan dan mengendalikan teknologi, data, serta infrastruktur penting. Pertanyaannya, mengapa Eropa merasa perlu membangun jalannya sendiri?

1. Teknologi Kini Bukan Sekadar Bisnis

Dulu sebuah perusahaan teknologi dapat memilih pemasok berdasarkan harga dan kualitas. Sekarang keputusan tersebut dapat dipengaruhi perang dagang, sanksi, pembatasan ekspor, dan kepentingan keamanan nasional. Ketika akses terhadap chip canggih atau teknologi tertentu dapat dibatasi oleh keputusan pemerintah asing, ketergantungan teknologi berubah menjadi persoalan strategis. Laporan daya saing Eropa yang disusun Mario Draghi juga memperingatkan bahwa Eropa tertinggal dari Amerika dalam teknologi maju, sementara China telah mengejar di banyak sektor. Kondisi itu membuat Brussels mulai melihat teknologi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi jangka panjang.

Perubahan tersebut terlihat jelas dalam industri semikonduktor dan AI. Amerika memiliki perusahaan seperti Nvidia yang sangat penting bagi komputasi AI, sedangkan China berusaha membangun ekosistem chip dan AI domestiknya sendiri. Di tengah situasi itu, Eropa tidak ingin menjadi wilayah yang hanya membeli teknologi dari dua kekuatan tersebut. Reuters melaporkan Uni Eropa pada 2026 mendorong kebijakan untuk memperkuat cloud, AI, dan semikonduktor domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Big Tech Amerika. Bagi Eropa, memiliki alternatif bukan berarti menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, kemandirian memberi Eropa lebih banyak pilihan ketika hubungan global berubah.

2. Eropa Tak Ingin Data dan Cloud Sepenuhnya Dikendalikan Perusahaan Asing

Salah satu titik paling sensitif adalah cloud computing. Sebagian besar aktivitas digital modern bergantung pada pusat data yang menyimpan informasi, menjalankan aplikasi, dan menyediakan kemampuan komputasi untuk perusahaan. Jika infrastruktur tersebut terlalu bergantung pada perusahaan asing, Eropa menghadapi risiko ketika terjadi perubahan kebijakan atau konflik geopolitik. Laporan Draghi secara khusus menilai Eropa perlu mempertahankan pijakan di sektor seperti keamanan, enkripsi, dan sovereign cloud. Inilah alasan cloud tidak lagi dipandang hanya sebagai layanan teknologi biasa.

Ambisi tersebut semakin penting ketika AI membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar. Pada Agustus 2026, Uni Eropa memesan superkomputer AI LUMI-AI senilai sekitar €387,8 juta untuk memperluas kapasitas komputasi kawasan. Sistem itu akan menjadi bagian dari jaringan AI Factories yang didukung anggaran EuroHPC sebesar €8,2 miliar hingga 2027. Langkah ini menunjukkan Eropa mulai membangun infrastruktur yang dapat digunakan startup, peneliti, dan perusahaan domestik. Jika berhasil, Eropa tidak hanya menjadi konsumen AI buatan Amerika atau China. Mereka dapat memiliki tempat sendiri untuk melatih, mengembangkan, dan menjalankan teknologi AI.

3. Chip Menjadi Pelajaran Paling Mahal bagi Eropa

Semikonduktor mungkin menjadi alasan paling kuat mengapa Eropa ingin mengurangi ketergantungan teknologi. Hampir setiap industri modern membutuhkan chip, mulai dari mobil, telekomunikasi, komputer, hingga sistem AI. Masalahnya, rantai pasok chip dunia sangat terkonsentrasi dan melibatkan perusahaan dari berbagai negara. Bahkan Eropa sendiri memiliki ketergantungan terhadap teknologi Amerika dalam beberapa bagian rantai semikonduktor, sementara bahan dan komponen penting juga terkait dengan China. Sebuah laporan yang dikutip Reuters pada 2026 menyebut ketergantungan tersebut menjadi salah satu kerentanan strategis Eropa.

Karena itu, Uni Eropa mencoba memperkuat industri chip melalui European Chips Act. Targetnya bukan membuat seluruh jenis chip tersedia di Eropa, melainkan meningkatkan kapasitas produksi dan kemampuan strategis agar kawasan tersebut tidak terlalu rentan terhadap gangguan global. Pada 2026, Brussels bahkan mendorong Chips Act 2.0 dengan ambisi menggandakan pangsa Eropa dalam pasar semikonduktor global menjadi 20 persen pada 2030. Tantangannya sangat besar karena membangun pabrik chip membutuhkan modal, energi, tenaga ahli, dan ekosistem pemasok yang kompleks. Namun Eropa tampaknya belajar bahwa kehilangan kemampuan strategis bisa jauh lebih mahal daripada biaya membangunnya.

4. Eropa Ingin Tetap Terbuka, Tetapi Tidak Ingin Bergantung

Kemandirian teknologi Eropa sering disalahartikan sebagai keinginan untuk memutus hubungan dengan Amerika dan China. Kenyataannya, strategi tersebut lebih dekat dengan upaya mengurangi ketergantungan daripada melakukan isolasi. Eropa masih membutuhkan investasi, teknologi, perusahaan, dan perdagangan dari berbagai negara. Bahkan kerja sama internasional tetap menjadi bagian penting dari strategi industri Eropa. Yang berubah adalah keinginan untuk memiliki kemampuan sendiri ketika teknologi tertentu dianggap terlalu penting untuk sepenuhnya diserahkan kepada pihak luar.

Masalahnya, membangun kemandirian tidak mudah ketika dunia teknologi sudah saling terhubung. Eropa membutuhkan chip dari Asia, teknologi digital dari Amerika, bahan baku dari berbagai negara, dan pasar global untuk menjual produknya. Karena itu, strategi yang lebih realistis adalah membangun resilience, bukan mengejar autarki penuh. Investasi TSMC di Jerman, misalnya, menunjukkan Eropa juga mencoba memperkuat ekosistem semikonduktornya melalui kemitraan internasional. Reuters mencatat TSMC menanamkan sekitar €3,5 miliar untuk fasilitas chip di Jerman. Jadi, mandiri bagi Eropa bukan berarti bekerja sendirian, melainkan memiliki posisi yang cukup kuat untuk tidak mudah dipaksa.

5. Eropa Sedang Berusaha Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan

Ada ironi dalam strategi teknologi Eropa. Kawasan ini sering dianggap terlalu lambat karena regulasi, biaya energi, fragmentasi pasar, dan proses birokrasi yang panjang. Bahkan para CEO perusahaan teknologi Eropa pada 2026 meminta aturan AI dibuat lebih sederhana agar perusahaan lokal dapat bergerak lebih cepat. Namun tekanan tersebut justru memunculkan kesadaran bahwa Eropa harus memperbaiki cara mengubah penelitian menjadi produk. Eropa memiliki universitas, perusahaan industri, pasar besar, dan perusahaan teknologi penting, tetapi perlu kemampuan scale-up yang lebih kuat. Tanpa itu, inovasi Eropa berisiko terus berkembang di laboratorium sementara keuntungan ekonominya dinikmati perusahaan di tempat lain.

Karena itu, kemandirian teknologi sebenarnya merupakan proyek ekonomi sekaligus proyek inovasi. Eropa ingin AI, semikonduktor, cloud, robotika, energi bersih, dan teknologi strategis lainnya menciptakan perusahaan besar di dalam kawasan. Uni Eropa juga terus membangun jaringan AI Factories untuk memperluas akses komputasi bagi startup dan peneliti. Jika ekosistem tersebut berhasil, Eropa dapat mengubah keunggulan tradisionalnya dalam industri menjadi kekuatan baru di era digital. Mereka tidak harus menjadi Silicon Valley kedua atau meniru model China. Eropa justru dapat membangun model sendiri yang menggabungkan industri, riset, regulasi, dan teknologi strategis.

Penutup

Eropa ingin mandiri dari teknologi Amerika dan China karena teknologi kini sudah berubah menjadi bagian dari kekuatan ekonomi dan geopolitik. Ketergantungan terhadap pihak luar dapat menjadi masalah ketika perdagangan terganggu, ekspor dibatasi, atau hubungan politik memburuk. AI, cloud, semikonduktor, data, dan infrastruktur digital kini terlalu penting untuk dianggap sekadar komoditas. Karena itu, Brussels mulai membangun kemampuan domestik sekaligus memperkuat rantai pasok dengan mitra yang dianggap strategis. Tujuannya bukan menutup pintu bagi Amerika atau China, melainkan memastikan Eropa tetap memiliki kendali atas keputusan teknologi yang paling penting. Inilah inti dari ambisi technological sovereignty Eropa.

Perjalanan tersebut jelas tidak mudah karena Eropa masih menghadapi biaya energi, regulasi, keterbatasan investasi, dan persaingan dari perusahaan Amerika serta China. Bahkan Reuters memperingatkan Eropa masih tertinggal dalam pembangunan infrastruktur data center AI dibandingkan dua kekuatan tersebut. Namun arah kebijakannya semakin jelas, yaitu mengubah teknologi dari titik kelemahan menjadi sumber kekuatan ekonomi. Jika Eropa berhasil menggabungkan riset dengan modal, manufaktur, AI, chip, dan pasar tunggal yang besar, posisinya dapat berubah secara signifikan. Dunia teknologi mungkin tidak lagi hanya berbicara tentang Amerika versus China. Babak berikutnya bisa menjadi pertarungan tiga kekuatan, dengan Eropa berusaha menentukan masa depannya sendiri.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /