Puluhan makam kuno kembali terlihat di dasar Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, setelah permukaan air menyusut akibat musim kemarau. Lokasi makam berada di wilayah Wuryantoro dan sebagian masih tertutup air karena permukaan waduk belum surut sepenuhnya. Fenomena tersebut kembali memperlihatkan jejak permukiman lama yang kini berada di bawah kawasan waduk. (detikNews, 2026)
Makam Kuno Wonogiri Muncul di Dasar Waduk Gajah Mungkur
Penyusutan permukaan Waduk Gajah Mungkur membuka sejumlah area dasar waduk yang sebelumnya tertutup genangan. Kondisi ini membuat puluhan makam kembali terlihat di kawasan Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro. Sementara itu, sebagian makam masih berada di dalam air karena debit waduk belum turun secara maksimal. (Radar Solo, 2026)
Warga Wuryantoro, Karni, mengatakan makam mulai terlihat beberapa hari sebelum laporan tersebut diterbitkan. Menurutnya, sejumlah makam sudah dapat dilihat dengan jelas, sedangkan bagian lainnya masih tertutup air. (detikNews, 2026)
Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari menjelaskan bahwa kemunculan makam bukan merupakan kejadian baru. Biasanya, struktur pemakaman kembali terlihat ketika permukaan Waduk Gajah Mungkur turun selama musim kemarau. (detikNews, 2026)
Pada kondisi normal, makam mulai terlihat sejak Agustus. Namun, penyusutan air pada 2026 berlangsung lebih lambat sehingga sebagian makam baru tampak pada September. Akibatnya, kompleks pemakaman belum seluruhnya terbuka dan masih terdapat bagian yang berada di bawah genangan. (detikNews, 2026)
Kondisi Nisan Makam Kuno di Wuryantoro Saat Air Waduk Surut
Makam yang muncul di dasar waduk memiliki kondisi yang beragam. Sebagian nisan masih terlihat utuh, sedangkan bagian lainnya mengalami kerusakan akibat paparan air selama bertahun-tahun. Pada beberapa nisan masih terdapat ukiran atau tulisan, meskipun sebagian informasi tersebut sulit dikenali. (detikNews, 2026)
Material yang digunakan pada nisan juga menunjukkan karakter berbeda. Sejumlah makam menggunakan batu yang menyerupai batu kapur, sementara ukuran nisannya berkisar antara sekitar setengah meter hingga dua meter. Bentuk tersebut memberikan gambaran mengenai pemakaman masyarakat yang pernah tinggal di kawasan tersebut. (Tiga Pena, 2026)
Beberapa kondisi yang terlihat pada makam antara lain:
- Sebagian nisan masih berdiri dan terlihat jelas.
- Sejumlah makam mengalami pengikisan akibat paparan air.
- Beberapa nisan masih menyimpan ukiran atau tulisan.
- Sebagian kompleks makam masih berada di bawah genangan.
- Dasar waduk yang mengering menjadi akses sementara menuju makam. (Tiga Pena, 2026)
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus berjalan melewati bagian dasar waduk yang mengering. Selain itu, kondisi tanah yang masih basah dan berlumpur membuat perjalanan menuju makam tidak mudah. (Tiga Pena, 2026)
Sejarah Waduk Gajah Mungkur Menenggelamkan Permukiman Lama
Kemunculan makam berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Dahulu, kawasan yang kini menjadi dasar waduk merupakan wilayah permukiman masyarakat, termasuk area pemakaman umum. Pembangunan waduk kemudian mengubah kawasan tersebut menjadi daerah genangan. (detikJateng, 2023)
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Wonogiri, Dennys Pradita, menjelaskan bahwa tidak seluruh makam yang muncul dapat disebut sangat kuno. Sebagian di antaranya berasal dari masyarakat yang meninggalkan wilayah tersebut ketika program pemindahan penduduk berlangsung pada era pembangunan waduk. (detikJateng, 2023)
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur berlangsung pada akhir 1970-an dan menyebabkan puluhan desa terdampak. Sekitar 41.000 warga dari 45 desa di enam kecamatan dipindahkan melalui program relokasi dan transmigrasi. Selanjutnya, kawasan permukiman, lahan pertanian, fasilitas umum, serta pemakaman masuk ke area genangan waduk. (detikJateng, 2023)
Fenomena serupa juga pernah terlihat di sejumlah wilayah sekitar Waduk Gajah Mungkur. Ketika permukaan air menyusut, area Eromoko, Baturetno, dan Nguntoronadi pernah memperlihatkan bagian dari kawasan lama yang sebelumnya tertutup air. (detikJateng, 2023)
Makam Muncul Saat Permukaan Waduk Gajah Mungkur Menyusut
Kemunculan makam pada musim kemarau menunjukkan hubungan antara kondisi hidrologis waduk dan jejak sejarah Wonogiri. Saat volume air meningkat, struktur pemakaman kembali tertutup genangan. Sebaliknya, ketika permukaan air menyusut, bagian makam dapat terlihat dari dasar waduk. (Radar Solo, 2026)
Kondisi tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai perubahan ruang hidup masyarakat Wonogiri. Kawasan yang sekarang berfungsi sebagai waduk sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan warga. Oleh karena itu, makam yang muncul dapat menjadi pengingat mengenai sejarah relokasi masyarakat saat pembangunan Waduk Gajah Mungkur. (detikJateng, 2023)
Secara keseluruhan, kemunculan makam kuno di Waduk Gajah Mungkur bukan sekadar fenomena akibat musim kemarau. Jejak tersebut memperlihatkan sejarah kawasan Wuryantoro dan desa-desa yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebelum pembangunan waduk mengubah lanskap Wonogiri.
Pembaca dapat mengikuti berbagai kisah sejarah lokal, fenomena daerah, dan peristiwa menarik lainnya melalui Garap Media. Informasi tersebut dapat membantu pembaca memahami perubahan lingkungan sekaligus sejarah masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Garap Media juga menghadirkan berita dan informasi aktual dengan pembahasan yang ringkas serta mudah dipahami. Baca artikel lainnya untuk mengikuti perkembangan terbaru sekaligus mengenal lebih banyak cerita dari berbagai daerah Indonesia.
Referensi
