Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Jakarta pada Senin (31/8/2026). Buku tersebut melibatkan 123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonperguruan tinggi dengan perspektif Indonesia-sentris yang menempatkan Indonesia sebagai subjek utama dalam penulisan sejarah.
Sejarah Indonesia Disusun dengan Perspektif Indonesia-Sentris
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa tim penulis menggunakan perspektif Indonesia-sentris dalam menyusun buku tersebut. Perspektif tersebut menempatkan pengalaman masyarakat dan perkembangan Nusantara sebagai pusat narasi, bukan menjadikan sudut pandang kolonial sebagai kerangka utama sejarah Indonesia.
Fadli Zon menyebut Kementerian Kebudayaan memberikan kebebasan kepada tim penulis dalam menentukan materi dan substansi buku. Pemerintah menempatkan diri sebagai fasilitator dan konsultator tanpa melakukan intervensi terhadap narasi yang disusun para sejarawan.
Penyusunan buku tersebut juga menjadi bagian dari proyek penulisan sejarah nasional yang pemerintah mulai dorong pada 2025. Peluncuran awal proyek tersebut berlangsung pada Desember 2025 sebagai upaya memperbarui historiografi nasional dan memperkuat memori kolektif bangsa.
Beberapa unsur utama dalam proyek Sejarah Indonesia tersebut meliputi:
- 123 pakar terlibat dalam penyusunan buku.
- 34 perguruan tinggi berkontribusi dalam proyek penulisan.
- 11 lembaga nonperguruan tinggi ikut mendukung penyusunan materi.
- Perspektif Indonesia-sentris menjadi pendekatan utama penulisan.
- Lima jilid pertama membahas perjalanan sejarah dari periode awal Nusantara hingga awal abad ke-20.
Lima Jilid Sejarah Indonesia Membahas Perjalanan Awal Nusantara
Lima jilid yang dirilis pada Agustus 2026 menjadi bagian awal dari rangkaian buku sejarah nasional yang terdiri atas beberapa jilid. Materi lima jilid pertama mencakup periode panjang sejak akar peradaban Nusantara hingga perkembangan masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20.
Penyusunan tersebut melanjutkan kerangka besar yang sebelumnya diperkenalkan pemerintah pada 2025. Rangkaian buku Sejarah Indonesia dirancang untuk membahas perjalanan bangsa secara lebih luas, termasuk hubungan Nusantara dengan berbagai kawasan dunia, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, kemerdekaan, hingga perkembangan Indonesia kontemporer.
Masyarakat kini dapat mengakses lima jilid tersebut secara digital melalui platform Pustaka Budaya. Akses digital tersebut memungkinkan pembaca, pelajar, mahasiswa, dan peneliti memanfaatkan buku sebagai salah satu sumber untuk memahami perkembangan historiografi Indonesia.
Kritik Aktivis Soroti Perspektif Korban dan Perempuan
Proyek penulisan sejarah nasional tersebut sebelumnya memunculkan perdebatan di ruang publik. Sejumlah aktivis menilai penyusunan sejarah nasional perlu memberikan ruang lebih besar kepada kelompok yang selama ini kurang terlihat dalam narasi sejarah.
Aktivis perempuan Eva Sundari menilai penulisan sejarah berisiko lebih banyak menggunakan perspektif pelaku dibandingkan perspektif korban. Ia juga menyoroti posisi perempuan yang kerap muncul sebagai objek sejarah, bukan sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan kontribusi sendiri.
Kekhawatiran tersebut menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai cara penulisan sejarah nasional. Perspektif korban, kelompok masyarakat biasa, dan pengalaman perempuan menjadi penting karena sejarah tidak hanya berkaitan dengan keputusan elite politik atau tokoh besar.
Pemerintah sebelumnya juga menyatakan bahwa tidak terdapat niat untuk menghilangkan kontribusi perempuan dari sejarah Indonesia. Fadli Zon menegaskan bahwa keterlibatan perempuan justru perlu diperkuat dalam narasi sejarah nasional, termasuk melalui pembahasan mengenai Kongres Perempuan 1928.
Kemenbud Jadwalkan Jilid Berikutnya pada September 2026
Peluncuran lima jilid pertama belum menandai berakhirnya proyek penulisan sejarah nasional tersebut. Kementerian Kebudayaan menjadwalkan penerbitan jilid berikutnya setelah proses finalisasi selesai.
Fadli Zon menyampaikan bahwa jilid 6 hingga jilid 10 ditargetkan tersedia sekitar September hingga Oktober 2026. Kelima jilid lanjutan tersebut juga direncanakan dapat diakses melalui Pustaka Budaya seperti lima jilid pertama.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin menghadirkan satu kerangka besar historiografi Indonesia yang dapat menjadi rujukan nasional. Fadli Zon juga membuka ruang bagi sejarawan dan penulis lain untuk mengembangkan, mengkritisi, atau memperkaya isi buku tersebut melalui karya-karya berikutnya.
Peluncuran lima jilid Sejarah Indonesia memberikan akses baru bagi masyarakat untuk memahami perjalanan Nusantara melalui perspektif yang berpusat pada pengalaman Indonesia. Kehadiran buku tersebut juga membuka ruang bagi pembaca untuk menilai kembali bagaimana berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan dan korban peristiwa sejarah, ditempatkan dalam narasi nasional.
Pembaca dapat mengikuti perkembangan isu sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan kebijakan nasional lainnya melalui artikel-artikel terbaru Garap Media. Informasi lain yang relevan dapat membantu pembaca melihat sebuah peristiwa dari berbagai perspektif sekaligus memahami konteks yang lebih luas.
Referensi
