KAI Bakal Impor 23 KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kebutuhan Armada Jabodetabek

Last Updated: 24 September 2026, 10:06

Bagikan:

KAI Impor 23 KRL Bekas Jepang
Rencana impor KRL bekas Jepang menjadi langkah KAI untuk memenuhi kebutuhan armada KRL Jabodetabek. Sumber gambar: iStock/Sony Herdiana.
Table of Contents

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berencana mengimpor 23 rangkaian KRL bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan armada Jabodetabek. Pengadaan tersebut ditempatkan sebagai solusi transisi karena sejumlah KRL telah berusia lebih dari 40 tahun, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dalam waktu cepat. Komisi VI DPR RI juga menyetujui rencana tersebut dengan syarat KAI tetap memperkuat industri perkeretaapian nasional. (ANTARA, 2026)

KRL Bekas Jepang Dipilih KAI untuk Mengatasi Kekurangan Armada

Kebutuhan tambahan armada KRL saat ini dinilai mendesak oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin. Sejumlah rangkaian yang masih beroperasi telah berusia lebih dari 40 tahun sehingga membutuhkan penggantian secara bertahap.

Dari sisi waktu pengadaan, KRL bekas Jepang dapat diperoleh lebih cepat dibandingkan produksi rangkaian baru. Bobby menyebut proses pengadaan sarana bekas tersebut dapat berlangsung sekitar satu hingga dua bulan setelah seluruh persetujuan diperoleh. Sebaliknya, produksi kereta baru membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun. (Republika, 2026)

Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kapasitas layanan KRL tanpa menghentikan pengembangan produksi dalam negeri. KAI tetap menempatkan manufaktur domestik sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengadaan sarana perkeretaapian.

KAI Siapkan 23 Trainset KRL Bekas dengan Dua Konfigurasi

Sebanyak 23 trainset KRL bekas Jepang disiapkan KAI dengan dua konfigurasi. Pembagian tersebut mempertimbangkan kondisi infrastruktur stasiun yang belum seluruhnya mampu melayani rangkaian dengan jumlah kereta panjang.

Komposisi trainset yang diajukan terdiri atas:

  • 7 trainset SF-12 dengan 12 kereta dalam satu rangkaian.
  • 16 trainset SF-8 dengan 8 kereta dalam satu rangkaian.
  • Total 23 trainset untuk menambah kapasitas layanan KRL.
  • Masa penggunaan sekitar 10 tahun sebagai solusi transisi. (ANTARA, 2026)

Penggunaan dua konfigurasi dilakukan karena sejumlah peron stasiun belum siap menerima rangkaian 12 kereta. Dengan begitu, KAI dapat menyesuaikan panjang rangkaian dengan kondisi jaringan yang tersedia.

Bobby mengatakan armada tersebut direncanakan beroperasi selama sekitar 10 tahun. Jangka waktu itu diharapkan memberikan kesempatan bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan sarana KRL secara bertahap. (JPNN, 2026)

DPR Setujui Impor KRL Bekas Jepang dengan Syarat Industri Lokal Diperkuat

Komisi VI DPR RI menyetujui rencana impor KRL bekas Jepang dalam rapat dengar pendapat pada 23 September 2026. Pengadaan tersebut diposisikan sebagai solusi transisi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyatakan pengadaan sarana bekas perlu berjalan bersama penguatan industri perkeretaapian nasional. KAI juga diminta memperkuat sinergi dengan PT Industri Kereta Api atau INKA. (ANTARA, 2026)

Beberapa hal yang menjadi perhatian DPR dalam pengembangan industri dalam negeri meliputi:

  • KAI tetap memperkuat kerja sama dengan INKA.
  • INKA meningkatkan tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level.
  • INKA meningkatkan Manufacturing Readiness Level hingga tingkat yang lebih matang.
  • Pengadaan impor tetap ditempatkan sebagai solusi sementara.

KRL Bekas Jepang Menjadi Jembatan Menuju Produksi Dalam Negeri

Bagi KAI, impor KRL bekas merupakan bagian dari masa transisi menuju peningkatan kapasitas produksi nasional. Kebutuhan armada dapat dipenuhi dalam jangka pendek sembari industri dalam negeri mengembangkan kemampuan manufaktur dengan kapasitas yang lebih besar.

Produksi rangkaian baru membutuhkan waktu lebih panjang sehingga belum menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan armada secara cepat. Pada saat yang sama, KAI tetap mempertimbangkan keberlanjutan produksi industri perkeretaapian nasional dalam pengadaan sarana. (ANTARA, 2026)

Kapasitas layanan KRL Jabodetabek menjadi salah satu alasan kebutuhan tambahan armada perlu segera dipenuhi. Mobilitas masyarakat yang tinggi juga membuat ketersediaan sarana menjadi bagian penting dalam menjaga layanan, terutama ketika sejumlah KRL lama mulai memasuki masa penggantian.

Melalui rencana 23 trainset tersebut, KAI menggunakan pendekatan transisi untuk menghadapi kebutuhan sarana dalam jangka pendek. Pemerintah dan DPR juga mendorong INKA meningkatkan kemampuan produksi agar kebutuhan KRL nasional secara bertahap dapat dipenuhi melalui manufaktur dalam negeri.

Tahap berikutnya mencakup proses pengadaan dan persetujuan teknis yang diperlukan KAI. Apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, tambahan KRL bekas Jepang akan digunakan untuk membantu menjaga kapasitas angkutan Jabodetabek selama kemampuan produksi nasional terus dikembangkan.

Pembaca dapat mengikuti artikel Garap Media lainnya untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai transportasi publik, KRL Jabodetabek, kebijakan pemerintah, serta perkembangan industri perkeretaapian Indonesia. Garap Media menghadirkan berita nasional dengan pembahasan yang ringkas dan mudah dipahami.

Garap Media juga menyajikan berbagai informasi ekonomi, bisnis, transportasi, dan kebijakan publik yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pembaca dapat mengikuti artikel lainnya untuk mengetahui perkembangan terbaru dari sektor transportasi dan industri nasional.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /