Street Food TasteAtlas kembali menjadi perbincangan setelah platform kuliner tersebut merilis daftar makanan kaki lima Asia Tenggara dengan penilaian terendah pada 2026. Daftar tersebut memuat berbagai hidangan dari sejumlah negara, termasuk beberapa makanan khas Indonesia yang memperoleh rating rendah berdasarkan ulasan pengguna TasteAtlas (TasteAtlas, 2026).
Daftar Street Food TasteAtlas Jadi Sorotan Pecinta Kuliner
TasteAtlas merupakan platform yang mengumpulkan penilaian pengguna terhadap makanan tradisional dari berbagai negara. Daftar “Worst Rated Southeast Asian Street Food” disusun berdasarkan akumulasi rating yang diberikan oleh komunitas pengguna, sehingga bukan menjadi penilaian resmi terhadap kualitas kuliner suatu negara (TasteAtlas, 2026).
Meski memperoleh predikat sebagai street food dengan rating terendah, keberadaan makanan tersebut tetap menunjukkan kekayaan kuliner Asia Tenggara yang memiliki cita rasa unik dan tidak selalu sesuai dengan selera semua orang.
Beberapa Makanan Indonesia Masuk Daftar Street Food TasteAtlas
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki beberapa makanan dalam daftar tersebut. Berdasarkan data TasteAtlas dan laporan Beautynesia, beberapa makanan Indonesia yang masuk antara lain:
- Paniki (Sulawesi Utara) rating 2,2
- Tinutuan atau Bubur Manado (Sulawesi Utara) rating 2,6
- Lawar (Bali) rating 2,7
- Nasi Jagung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) rating 2,7
- Pepes Tahu (Jawa Barat) rating 2,7
- Buntil (Jawa Tengah) rating 2,9
- Soto Padang (Sumatera Barat) rating 2,9
- Wajik (Jawa) rating 3,0
- Bakso Ayam rating 3,0
- Lalap (Jawa Barat) rating 3,0
- Terong Balado (Sumatera Barat) rating 3,0
- Papeda (Maluku dan Papua) rating 3,0
- Kupat Tahu (Jawa) rating 3,0
- Rujak Petis (Ponorogo, Jawa Timur) rating 3,0
- Rendang Nangka (Sumatera) rating 3,0
(Beautynesia, 2026; TasteAtlas, 2026)
Meski demikian, daftar tersebut tidak berarti makanan-makanan tersebut memiliki kualitas buruk. Rating lebih banyak dipengaruhi preferensi pengguna yang memberikan ulasan di platform TasteAtlas.
Mengapa Rating TasteAtlas Sering Menjadi Perdebatan?
Daftar yang dirilis TasteAtlas kerap memicu diskusi di media sosial. Banyak masyarakat menilai bahwa makanan tradisional memiliki karakter rasa yang khas sehingga belum tentu dapat diterima oleh semua orang, terutama wisatawan asing.
Beberapa alasan yang membuat penilaian TasteAtlas sering menjadi perdebatan meliputi:
- Rating berasal dari ulasan pengguna.
- Selera makanan setiap orang berbeda.
- Kuliner tradisional memiliki cita rasa khas daerah.
- Beberapa makanan lebih populer di kalangan masyarakat lokal dibanding wisatawan.
Karena itu, hasil pemeringkatan TasteAtlas lebih tepat dijadikan sebagai gambaran preferensi pengguna daripada ukuran mutlak mengenai kualitas suatu makanan.
Street Food Asia Tenggara Tetap Memiliki Daya Tarik Wisata
Terlepas dari daftar tersebut, makanan kaki lima tetap menjadi bagian penting dari budaya kuliner Asia Tenggara. Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, hingga Singapura dikenal memiliki beragam jajanan tradisional yang menjadi daya tarik wisata kuliner bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Keberagaman bumbu, rempah, dan cara penyajian menjadi alasan mengapa kuliner Asia Tenggara terus mendapat perhatian dunia meskipun sebagian hidangan memperoleh rating rendah di platform tertentu.
Daftar street food Asia Tenggara dengan rating terendah versi TasteAtlas 2026 kembali menunjukkan bahwa selera makanan bersifat subjektif. Kehadiran sejumlah makanan Indonesia dalam daftar tersebut tidak mengurangi nilai budaya maupun kekayaan kuliner Nusantara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ikuti terus informasi terbaru seputar kuliner, budaya, dan gaya hidup hanya di Garap Media. Temukan pula berbagai artikel menarik lainnya yang membahas kekayaan kuliner Indonesia dan dunia.
Referensi
