Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak 2024, Investor Tinggalkan Kripto dan Berburu Saham AI

Last Updated: 11 June 2026, 09:05

Bagikan:

Harga Bitcoin Terendah Sejak 2024
Di tengah dinamika ekonomi digital dan perkembangan teknologi global, aset kripto seperti Bitcoin terus menjadi perhatian investor sebagai salah satu instrumen investasi yang paling banyak diperbincangkan. Sumber gambar: Diskominfo Badung - Pemkab Badung.
Table of Contents

Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah nilainya sempat turun ke bawah US$60.000 atau sekitar Rp970 juta per koin. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terdalam yang terjadi sejak Oktober 2024 dan memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Aksi jual investor besar, arus keluar dana dari ETF Bitcoin, serta meningkatnya minat terhadap saham kecerdasan buatan (AI) dan teknologi menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga aset kripto terbesar di dunia tersebut (Reuters, 2026).

Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak Oktober 2024

Bitcoin sempat bergerak di kisaran US$59.000 per koin pada awal Juni 2026. Level tersebut menjadi titik terendah yang tercatat sejak Oktober 2024 dan menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase koreksi yang cukup panjang. Penurunan harga tersebut juga mencerminkan perubahan sentimen investor yang semakin berhati-hati terhadap aset berisiko di tengah dinamika pasar global (The Wall Street Journal, 2026).

Kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan periode Oktober 2025 ketika Bitcoin berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) di kisaran US$126.000 per koin. Dalam beberapa bulan terakhir, harga Bitcoin terus bergerak menjauhi level tersebut seiring berkurangnya minat investor dan meningkatnya tekanan jual di pasar. Koreksi harga bahkan telah mendekati 50% dari rekor tertinggi yang dicapai pada tahun lalu (Bloomberg Technoz, 2026).

Beberapa indikator yang menunjukkan tekanan pada pasar Bitcoin meliputi:

  • Harga Bitcoin sempat turun ke bawah US$60.000.
  • Koreksi harga mendekati 50% dari rekor ATH 2025.
  • Sentimen investor terhadap aset kripto melemah.
  • Aktivitas pembelian institusional mengalami perlambatan.
  • Arus dana investasi mulai berpindah ke sektor lain.

Aksi Jual Strategy Menambah Tekanan pada Harga Bitcoin

Tekanan terhadap harga Bitcoin semakin meningkat setelah Strategy melakukan penjualan sebagian kepemilikan Bitcoin yang dimilikinya. Langkah tersebut menarik perhatian pelaku pasar karena perusahaan tersebut dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia dan selama ini aktif mendukung adopsi aset digital (The Wall Street Journal, 2026).

Meskipun jumlah Bitcoin yang dijual tidak terlalu besar dibandingkan total aset yang dimiliki perusahaan, pasar tetap memberikan respons negatif. Investor menilai aksi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku institusional mulai melakukan penyesuaian strategi di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif (The Wall Street Journal, 2026).

Aksi jual oleh investor besar sering kali memberikan dampak psikologis yang cukup signifikan terhadap pasar kripto. Kondisi tersebut terjadi karena banyak investor ritel menjadikan langkah perusahaan besar sebagai acuan dalam membaca arah sentimen pasar.

Saham AI dan Teknologi Menjadi Magnet Baru bagi Investor

Perpindahan dana investasi ke sektor teknologi menjadi salah satu faktor yang paling banyak dibahas dalam beberapa bulan terakhir. Banyak investor global mulai mengalihkan modal mereka ke perusahaan AI, saham semikonduktor, serta IPO teknologi yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih menarik dibandingkan aset kripto dalam jangka pendek (Reuters, 2026).

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah menciptakan optimisme baru di pasar keuangan global. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang AI mencatat peningkatan valuasi dan pertumbuhan bisnis yang signifikan sehingga menarik perhatian investor institusional maupun ritel (Reuters, 2026).

Fenomena tersebut membuat sebagian dana yang sebelumnya masuk ke pasar kripto berpindah ke sektor teknologi. Akibatnya, permintaan terhadap Bitcoin menjadi lebih terbatas dan tekanan terhadap harga semakin meningkat.

Beberapa alasan investor beralih dari Bitcoin ke saham AI antara lain:

  • Pertumbuhan sektor AI yang sangat pesat.
  • Kinerja perusahaan teknologi yang terus meningkat.
  • Meningkatnya minat terhadap IPO teknologi.
  • Peluang keuntungan jangka pendek yang dianggap lebih menarik.
  • Berkurangnya aktivitas spekulatif di pasar kripto.

ETF Bitcoin Mengalami Arus Keluar Dana

Pasar Bitcoin juga menghadapi tekanan dari menurunnya minat terhadap produk investasi berbasis aset digital. Beberapa ETF Bitcoin mengalami arus keluar dana dalam beberapa pekan terakhir sehingga turut memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan (Reuters, 2026).

Arus keluar dana menunjukkan bahwa sebagian investor memilih menarik modal mereka dari instrumen yang memiliki eksposur terhadap Bitcoin. Kondisi tersebut berbeda dengan periode 2024 dan 2025 ketika ETF Bitcoin menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga aset kripto (Reuters, 2026).

Ketika dana keluar dari ETF meningkat, permintaan terhadap Bitcoin cenderung menurun. Penurunan permintaan tersebut kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap harga pasar dan memperkuat tren koreksi yang sedang berlangsung.

Investor Jangka Panjang Masih Melihat Peluang Akumulasi

Tidak semua pelaku pasar memandang koreksi harga Bitcoin sebagai kabar buruk. Sebagian investor justru melihat penurunan harga sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi aset pada level yang lebih rendah. Aktivitas pembelian oleh kelompok whale atau investor dengan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar masih terlihat ketika harga mendekati area US$60.000 per koin (Cryptowave, 2026).

Kelompok investor jangka panjang menilai bahwa fundamental Bitcoin masih relatif kuat. Aset digital tersebut tetap memiliki pasokan yang terbatas, tingkat adopsi yang terus berkembang, serta posisi sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia (Cryptowave, 2026).

Beberapa alasan yang membuat investor tetap optimistis terhadap Bitcoin meliputi:

  • Pasokan Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin.
  • Bitcoin masih mendominasi pasar kripto global.
  • Adopsi aset digital terus berkembang.
  • Investor institusional masih memiliki eksposur terhadap Bitcoin.
  • Koreksi besar pernah terjadi sebelum fase pemulihan pada siklus sebelumnya.

Prospek Harga Bitcoin Masih Bergantung pada Sentimen Global

Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arus modal global dan preferensi investor terhadap aset berisiko. Jika tren investasi pada sektor AI dan teknologi terus berlanjut, tekanan terhadap pasar kripto berpotensi bertahan dalam jangka pendek (Reuters, 2026).

Sebaliknya, apabila minat terhadap aset digital kembali meningkat dan arus keluar dana dari ETF mulai mereda, Bitcoin memiliki peluang untuk mengalami pemulihan secara bertahap. Volatilitas masih akan menjadi karakter utama pasar kripto sehingga investor perlu mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi (Reuters, 2026).

Penurunan harga Bitcoin menunjukkan bahwa pasar aset digital saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan. Meskipun demikian, sebagian investor masih meyakini bahwa Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan dalam jangka panjang seiring berkembangnya adopsi aset digital di berbagai negara.

Untuk mendapatkan informasi terbaru seputar kripto, teknologi, dan tren investasi global, baca juga artikel menarik lainnya di Garap Media. Temukan berbagai analisis pasar, perkembangan AI, dan kabar terbaru dunia aset digital hanya di Garap Media.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /