Dinkes Palembang Waspadai Dampak Udara Buruk bagi Penderita TB dan Asma

Last Updated: 27 August 2026, 12:58

Bagikan:

Dinkes Palembang Waspadai Dampak Udara Buruk bagi Penderita TB dan Asma
Table of Contents

Garap Media – Kualitas udara di Palembang kembali menjadi perhatian setelah kabut asap dan peningkatan konsentrasi partikulat membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Dinas Kesehatan Kota Palembang secara khusus menyoroti kelompok dengan gangguan pernapasan, termasuk penderita tuberkulosis atau TB paru dan asma. Kepala Dinkes Palembang Fenty Aprina mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta mengurangi paparan udara yang buruk. Sebelumnya, pemantauan kualitas udara di Palembang sempat menunjukkan kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap. Meski demikian, kondisi tersebut belum diikuti kenaikan kasus ISPA secara signifikan menurut keterangan Dinkes yang diberitakan media lokal. (

Situasi tersebut tetap perlu diperhatikan karena polusi udara dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sistem pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memiliki dampak terhadap kesehatan apabila seseorang terpapar dalam waktu tertentu. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai penyakit pernapasan dan dapat memperburuk kondisi asma. Kelompok yang sudah memiliki penyakit kronis juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara. Karena itu, kualitas udara Palembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang perlu dipantau bersama.

Kualitas Udara Palembang Sempat Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Pantauan kualitas udara di Palembang menunjukkan adanya periode ketika konsentrasi PM2.5 meningkat hingga kategori sangat tidak sehat. BMKG sebelumnya melaporkan kondisi tersebut berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada pertengahan Agustus 2026. PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil dengan diameter maksimal 2,5 mikrometer sehingga dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Kondisi udara tersebut dikaitkan dengan kabut asap yang muncul di tengah musim kemarau. BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi sangat tidak sehat tersebut pada saat itu terutama terjadi pada dini hari hingga pagi hari.

Bagi masyarakat, perubahan kualitas udara dapat menjadi persoalan ketika paparan terjadi berulang atau dalam konsentrasi tinggi. Polusi udara tidak hanya berasal dari kabut asap, tetapi juga dapat berasal dari kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembakaran dan sumber lainnya. WHO mencatat partikulat, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida dan karbon monoksida sebagai polutan yang menjadi perhatian kesehatan. Partikel PM2.5 menjadi salah satu perhatian utama karena ukurannya memungkinkan partikel tersebut menembus lebih dalam ke paru-paru. Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang bergantung pada konsentrasi polutan, lama paparan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Penderita Asma Perlu Lebih Waspada

Asma menjadi salah satu kondisi yang dapat memburuk ketika seseorang terpapar udara tercemar. WHO menjelaskan bahwa paparan partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk asma dan menurunkan fungsi paru dalam jangka pendek. Ozon di permukaan tanah juga diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan memicu atau memperparah asma. Karena itu, kualitas udara yang buruk menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang sudah memiliki gangguan pernapasan. Pemantauan kondisi udara dapat membantu masyarakat mengambil keputusan untuk mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk.

Penderita asma juga perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh ketika berada di lingkungan dengan udara buruk. Gejala gangguan pernapasan yang terasa lebih berat sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika berbeda dari kondisi biasanya. Upaya mengurangi paparan polusi merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan, meskipun tidak menggantikan penanganan medis. WHO menegaskan bahwa kualitas udara buruk dapat memperburuk kesehatan paru dan menurunkan fungsi pernapasan. Masyarakat dengan penyakit pernapasan sebaiknya mengikuti rencana perawatan yang telah diberikan tenaga kesehatan dan mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan serius.

Bagaimana Dampaknya bagi Penderita TB Paru?

Selain asma, Dinkes Palembang memberikan perhatian terhadap masyarakat yang menderita TB paru. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang terutama menyerang paru-paru dan membutuhkan pengobatan serta pemantauan kesehatan secara teratur. Kondisi lingkungan dengan kualitas udara buruk dapat menjadi tambahan tekanan bagi sistem pernapasan seseorang yang sudah mengalami gangguan paru. WHO menyebut kualitas udara yang buruk dapat memperburuk kesehatan paru secara umum. Namun, hubungan antara polusi udara dan kondisi setiap pasien TB tidak dapat disamakan karena tingkat keparahan penyakit dan faktor kesehatan tiap individu berbeda.

Karena itu, kewaspadaan terhadap kualitas udara perlu berjalan bersamaan dengan pengobatan TB yang sedang dijalani. Pasien sebaiknya tetap mengikuti arahan tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan hanya karena kondisi udara sedang membaik atau memburuk. Perlindungan dari paparan polusi juga penting dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan pernapasan. WHO menempatkan orang dengan kondisi kesehatan kronis sebagai salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Pendekatan tersebut membuat pencegahan dan pemantauan menjadi bagian penting dalam menghadapi periode kualitas udara yang buruk.

Dinkes Imbau Warga Gunakan Masker

Dinkes Palembang telah mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Imbauan tersebut diberikan karena kabut asap dari kebakaran lahan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk ISPA dan gangguan pada sistem pernapasan. Dinkes juga mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan tangan serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Anak-anak dan kelompok rentan menjadi perhatian karena mereka dapat lebih mudah terdampak gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan. Langkah pencegahan tersebut menjadi semakin penting ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

Selain menggunakan masker, masyarakat dapat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Warga juga dapat memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan resmi dari pemerintah daerah maupun lembaga terkait. Jika aktivitas di luar rumah tidak mendesak, mengurangi waktu paparan dapat menjadi pilihan yang lebih aman ketika polusi meningkat. Langkah tersebut terutama relevan bagi kelompok yang memiliki penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan kronis. Dengan mengurangi paparan, masyarakat dapat membantu menekan risiko kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara buruk.

Kasus ISPA Belum Meningkat Signifikan

Meski kualitas udara sempat memburuk, Dinkes Palembang menyebut kondisi tersebut belum disertai peningkatan kasus ISPA secara signifikan. Data yang disampaikan Dinkes sebelumnya menunjukkan terdapat 94.964 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026, meski tidak ada pasien yang meninggal akibat penyakit tersebut dalam periode itu. ISPA dapat menyerang berbagai kelompok usia, sehingga pemantauan tetap diperlukan ketika kondisi lingkungan berubah. Data kasus menjadi penting untuk melihat apakah perubahan kualitas udara kemudian diikuti perubahan pola penyakit di masyarakat. Pemerintah daerah juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya peningkatan kasus untuk mulai melakukan pencegahan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan tetap lebih penting daripada menunggu dampak kesehatan meluas. Kualitas udara dapat berubah dalam waktu relatif cepat karena faktor cuaca, angin, sumber emisi dan kebakaran lahan. Karena itu, pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi terbaru. WHO juga menekankan pentingnya sistem pemantauan kualitas udara, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan dengan paparan polusi tinggi. Kolaborasi antara pemerintah, layanan kesehatan dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi persoalan udara buruk secara lebih efektif.

Penutup

Kualitas udara Palembang yang sempat berada pada kategori sangat tidak sehat menjadi pengingat bahwa persoalan polusi bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Penderita asma, TB paru, anak-anak, lansia dan kelompok dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Dinkes Palembang telah mendorong penggunaan masker dan pengurangan aktivitas luar ruangan sebagai langkah pencegahan.

Meski belum terdapat peningkatan kasus ISPA yang signifikan akibat kondisi tersebut, kewaspadaan tetap diperlukan. Pemantauan kualitas udara, mengikuti informasi resmi, mengurangi paparan dan menjaga kesehatan pernapasan menjadi langkah penting selama periode udara buruk. Dengan pencegahan yang dilakukan sejak awal, risiko gangguan kesehatan akibat pencemaran udara dapat ditekan.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /