Garap Media – China tidak lagi sekadar mengejar Amerika Serikat dalam perlombaan kecerdasan buatan atau AI. Negara tersebut sedang membangun ekosistem teknologi yang lebih luas, mulai dari semikonduktor, komputasi, kendaraan listrik, robotika, energi, hingga teknologi masa depan. Strategi ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi global telah bergeser dari sekadar siapa yang memiliki model AI terbaik menjadi siapa yang mampu menguasai rantai teknologi secara menyeluruh.
Dalam rencana pembangunan 2026-2030, Beijing menempatkan teknologi sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi. Pemerintah China mendorong penguatan industri semikonduktor, AI, robotika, kendaraan energi baru, biomedis, ruang angkasa, hingga teknologi kuantum.
China Membangun Ekosistem Teknologi dari Hulu hingga Hilir
Langkah China terlihat dari upaya memperkuat hampir seluruh rantai industri teknologi. Pemerintah tidak hanya mendorong perusahaan membuat produk digital, tetapi juga memperbesar kapasitas komputasi, mengembangkan chip, membangun jaringan 5G, serta memperluas penggunaan AI di sektor industri. Data pemerintah China menunjukkan kapasitas komputasi cerdas negara tersebut mencapai 2.185 EFLOPS pada akhir Juni 2026.
Pendekatan tersebut penting karena AI membutuhkan lebih dari sekadar perangkat lunak. Model AI membutuhkan pusat data, chip, jaringan internet, energi, data berkualitas, serta perusahaan yang mampu mengubah teknologi menjadi produk komersial. China berusaha menghubungkan seluruh komponen tersebut dalam satu ekosistem sehingga inovasi dapat bergerak lebih cepat dari laboratorium menuju pabrik dan pasar.
Strategi ini juga terlihat dalam pengembangan AI terbuka. Pemerintah China menyebut model AI open source domestik telah mencapai kemajuan dan menawarkan performa yang kompetitif dari sisi biaya. Pada saat yang sama, penggunaan AI mulai diperluas ke penelitian, desain, produksi, pemeriksaan kualitas, hingga pemeliharaan industri.
Artinya, China tidak hanya ingin memiliki perusahaan AI besar, tetapi juga ingin menciptakan pasar yang mampu menyerap teknologi tersebut. Pemerintah mendorong pembukaan lebih banyak skenario penggunaan AI serta pengembangan komunitas open source. Jika berhasil, pola ini dapat mempercepat adopsi teknologi sekaligus menciptakan permintaan baru bagi perusahaan domestik.
Semikonduktor dan Komputasi Jadi Fondasi Utama
Salah satu bagian paling penting dalam strategi teknologi China adalah semikonduktor. Pembatasan akses terhadap sejumlah teknologi chip canggih dari Amerika Serikat membuat Beijing semakin terdorong membangun kemampuan domestik. Dalam rencana pembangunan terbaru, China kembali menegaskan pentingnya inovasi sirkuit terpadu dan penguasaan teknologi inti di sepanjang rantai industri.
Upaya tersebut tidak berhenti pada produksi chip. China juga memperkuat perangkat lunak dasar, komputasi tingkat lanjut, jaringan pusat data, serta infrastruktur digital yang menjadi penopang industri modern. Dengan membangun komponen tersebut secara bersamaan, ketergantungan terhadap pemasok asing dapat dikurangi secara bertahap.
Perkembangan ini mulai terlihat pada perusahaan teknologi China. Xiaomi, misalnya, pada Agustus 2026 meluncurkan prosesor Xring O3 yang dikembangkan sendiri untuk perangkatnya. Perusahaan tersebut juga mengembangkan chip untuk AI dan kendaraan otonom, sekaligus memperbesar tim semikonduktornya menjadi lebih dari 3.000 orang.
Langkah seperti itu menunjukkan perubahan strategi perusahaan China dari sekadar menggunakan komponen teknologi menjadi ikut mengembangkan teknologi inti. Jika semakin banyak perusahaan mengambil pendekatan serupa, ekosistem domestik China dapat menjadi semakin lengkap. Tantangannya adalah memastikan kualitas, efisiensi, dan skala produksi mampu bersaing dengan pemain global.
Robotika dan Kendaraan Listrik Menjadi Mesin Baru
Ekosistem teknologi China juga berkembang melalui industri yang menggabungkan perangkat keras dan AI. Robotika menjadi salah satu contohnya, terutama karena China memiliki basis manufaktur besar dan rantai pasok komponen yang relatif kuat. Pemerintah memasukkan robotika cerdas dan embodied AI sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dalam periode 2026-2030.
Perkembangan robot humanoid bahkan mulai menarik modal besar. Unit robotika milik Xpeng pada Agustus 2026 berhasil mengumpulkan lebih dari US$900 juta dan mencapai valuasi lebih dari US$6,3 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan perangkat keras, model AI, pengumpulan data, fasilitas produksi massal, dan ekspansi global.
Kendaraan listrik juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Industri EV China menciptakan permintaan terhadap baterai, chip, sensor, perangkat lunak, sistem kendali, dan teknologi AI kendaraan. Hubungan antara industri otomotif dan robotika bahkan semakin kuat karena sejumlah perusahaan kendaraan mulai mengembangkan robot humanoid secara bersamaan.
Kombinasi manufaktur, baterai, AI, sensor, dan perangkat lunak memberikan China keunggulan dalam mengembangkan teknologi fisik. Inilah alasan persaingan teknologi tidak bisa lagi hanya dilihat dari model AI atau aplikasi digital. Pertarungan berikutnya berlangsung pada kemampuan mengubah AI menjadi mesin, kendaraan, pabrik, dan produk yang digunakan masyarakat.
China Ingin Mengurangi Ketergantungan pada Teknologi Asing
Dorongan membangun ekosistem teknologi sendiri juga berkaitan erat dengan ketegangan geopolitik. Ketika hubungan China dan Amerika memburuk, akses terhadap chip, perangkat lunak, serta teknologi strategis dapat menjadi lebih sulit. Karena itu, kemandirian teknologi dipandang sebagai bagian dari ketahanan ekonomi dan industri.
Namun, membangun ekosistem teknologi mandiri bukan berarti China sepenuhnya menutup diri. Strateginya lebih kompleks karena tetap membuka ruang kerja sama internasional pada bidang tertentu sembari memperkuat kemampuan domestik. Analisis Brookings juga menunjukkan bahwa perlombaan AI AS-China mencakup komputasi, model, adopsi, integrasi, dan penerapan, bukan hanya kemampuan menghasilkan model paling canggih.
China masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam teknologi paling maju. Persaingan pada chip mutakhir, kemampuan riset dasar, dan akses terhadap teknologi global masih menjadi persoalan. Ekspansi teknologi yang terlalu cepat juga berisiko menimbulkan kelebihan kapasitas apabila pertumbuhan pasokan tidak diikuti permintaan pasar yang sehat.
Meski begitu, arah kebijakannya sudah jelas. China ingin membangun sistem teknologi yang saling terhubung sehingga kemajuan pada satu sektor dapat memperkuat sektor lainnya. AI membantu robotika, robotika memperkuat manufaktur, manufaktur mendukung EV, sementara industri semikonduktor dan komputasi menjadi fondasi seluruh ekosistem.
Penutup
China kini tidak sekadar mengejar ketertinggalan AI dari Amerika Serikat. Negara tersebut sedang membangun ekosistem teknologi China yang mencakup chip, komputasi, AI, robotika, kendaraan listrik, energi, hingga teknologi masa depan.
Jika strategi tersebut berhasil, persaingan teknologi global akan semakin sulit dimenangkan hanya dengan satu produk unggulan. Negara yang memiliki rantai pasok kuat, infrastruktur digital, talenta, modal, manufaktur, dan pasar domestik besar akan memiliki keunggulan yang jauh lebih menentukan.
Bagi dunia, perkembangan ini berarti persaingan teknologi akan semakin ketat. Silicon Valley masih memiliki kekuatan besar dalam AI dan teknologi frontier, tetapi China sedang membangun fondasi alternatif yang dapat mengubah peta industri teknologi global dalam dekade berikutnya.
Sumber Referensi
- China.org.cn – China National Economic and Social Development Plan 2026
https://www.china.org.cn/2026-05/07/content_118435689.shtml - State Council Information Office – Roadmap AI dan NEV China 2026–2030
https://english.scio.gov.cn/pressroom/2026-08/26/content_118665742.html - Brookings – Competing AI Strategies for the US and China
https://www.brookings.edu/articles/competing-ai-strategies-for-the-us-and-china/
