Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, menyoroti besarnya anggaran latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Menurut perhitungannya, komponen latihan militer menghabiskan sekitar Rp30 juta dari total biaya pelatihan sebesar Rp45 juta untuk setiap peserta, sehingga anggaran tersebut dinilai dapat dihemat apabila materi kemiliteran dihapus (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026).
Perhitungan tersebut didasarkan pada estimasi biaya pelatihan sebesar Rp5 juta per peserta untuk setiap tujuh hari pelatihan. Dengan durasi pelatihan selama 45 hari, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp45 juta per orang, yang terdiri atas sekitar Rp30 juta untuk latihan dasar militer dan sekitar Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026).
TB Hasanuddin Usulkan Fokus Pelatihan pada Kompetensi Manajerial
TB Hasanuddin menilai porsi anggaran terbesar justru dialokasikan untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan tugas utama seorang manajer koperasi. Menurutnya, materi pelatihan seharusnya lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan manajerial, tata kelola organisasi, serta pengembangan usaha agar peserta memiliki kompetensi yang relevan dengan tanggung jawabnya (Kupastuntas.co, 2026).
Ia juga menyampaikan bahwa penghapusan komponen latihan militer berpotensi menghasilkan penghematan anggaran hingga sekitar Rp30 juta untuk setiap peserta. Dengan demikian, sebagian besar anggaran dapat dialihkan untuk memperkuat materi yang berkaitan langsung dengan pengelolaan koperasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026).
Anggaran Pelatihan Dinilai Lebih Efektif untuk Pengembangan Koperasi
Menurut TB Hasanuddin, tugas utama manajer Koperasi Desa Merah Putih adalah mengelola organisasi serta mengembangkan unit usaha koperasi. Oleh karena itu, materi pelatihan dinilai lebih efektif apabila difokuskan pada kemampuan profesional dibandingkan latihan fisik maupun kegiatan bercorak kemiliteran (Kupastuntas.co, 2026).
Ia berpandangan bahwa pembelajaran mengenai manajemen koperasi, administrasi, pengelolaan keuangan, hingga strategi pengembangan usaha akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peserta. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi sekaligus mendukung tujuan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (Kontan.co.id, 2026).
Poin Penting Sorotan Anggaran Latsarmil
Beberapa poin utama yang disampaikan mengenai biaya pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meliputi:
- Total biaya pelatihan diperkirakan mencapai sekitar Rp45 juta per peserta.
- Sekitar Rp30 juta dialokasikan untuk latihan dasar militer.
- Sekitar Rp15 juta digunakan untuk materi substansi koperasi.
- Komponen latihan militer dinilai tidak berkaitan langsung dengan tugas manajer koperasi.
- Penghapusan latihan militer dinilai dapat menghemat sekitar dua pertiga biaya pelatihan per peserta (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026).
Efisiensi Anggaran Menjadi Sorotan dalam Program Pelatihan
Usulan menghapus komponen latihan dasar militer berangkat dari pertimbangan efisiensi anggaran negara. Pelatihan yang berfokus pada kompetensi profesional dinilai memberi manfaat lebih besar bagi calon manajer koperasi. Sebaliknya, latihan militer dianggap menyerap sebagian besar anggaran pelatihan. (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026)
Pengalokasian anggaran yang lebih proporsional diharapkan menghasilkan sumber daya manusia dengan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan pengelolaan usaha yang lebih baik. Kompetensi tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih. Kemampuan itu juga dianggap penting untuk mengembangkan organisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan usaha koperasi. (Kupastuntas.co, 2026)
Pelatihan Manajerial Dinilai Lebih Relevan bagi Manajer Kopdes
Fungsi utama manajer Koperasi Desa Merah Putih adalah mengelola organisasi, menyusun strategi usaha, dan memastikan koperasi berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, materi pelatihan dinilai lebih tepat jika difokuskan pada peningkatan kapasitas manajerial. Pendekatan tersebut dianggap lebih relevan dibandingkan kegiatan yang bersifat kemiliteran. (Kupastuntas.co, 2026)
Pelatihan mengenai tata kelola koperasi, kepemimpinan, administrasi, pengelolaan keuangan, dan pengembangan bisnis dinilai memberi manfaat lebih besar bagi peserta. Kompetensi tersebut juga lebih sesuai dengan kebutuhan manajer dalam menjalankan operasional koperasi serta menghadapi tantangan di lapangan. (Kontan.co.id, 2026)
Penghapusan Latsarmil Berpotensi Menghemat Anggaran Negara
Usulan penghapusan latihan dasar militer juga didasarkan pada pertimbangan efisiensi anggaran. Komponen latihan militer diperkirakan menelan biaya sekitar Rp30 juta per peserta. Sementara itu, total biaya pelatihan diperkirakan mencapai Rp45 juta untuk setiap calon manajer koperasi. Dengan menghapus komponen tersebut, pemerintah dinilai dapat menghemat sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan. (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026)
Anggaran yang berhasil dihemat dinilai dapat dialihkan untuk memperkuat pembelajaran mengenai substansi koperasi. Dana tersebut juga dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi profesional peserta. Langkah ini diharapkan menghasilkan manajer koperasi yang lebih siap mengelola organisasi dan mengembangkan unit usaha secara efektif. (Kupastuntas.co, 2026)
Poin Penting Usulan Efisiensi Anggaran
Beberapa poin penting dalam usulan tersebut meliputi:
- Biaya pelatihan diperkirakan mencapai sekitar Rp45 juta per peserta.
- Sekitar Rp30 juta dialokasikan untuk latihan dasar militer.
- Sekitar Rp15 juta digunakan untuk pembelajaran substansi koperasi.
- Pelatihan manajerial dinilai lebih relevan dibandingkan latihan militer.
- Penghapusan latihan militer dinilai dapat menghemat sekitar dua pertiga biaya pelatihan per peserta. (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026)
Sorotan terhadap biaya latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih menunjukkan pentingnya efektivitas penggunaan anggaran. Pelatihan yang berorientasi pada kompetensi profesional dinilai lebih sesuai dengan tugas utama manajer koperasi. Pendekatan tersebut juga dianggap lebih relevan dibandingkan materi yang tidak berkaitan langsung dengan pengelolaan organisasi. (Kontan.co.id, 2026; Kupastuntas.co, 2026)
Usulan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pelatihan ke depan agar anggaran negara digunakan secara lebih efisien sekaligus menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan manajerial sesuai kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih. Ikuti terus informasi terbaru mengenai kebijakan publik dan perkembangan nasional hanya di Garap Media.
Referensi
