Garap Media – Kecerdasan buatan ternyata punya satu kebutuhan yang tidak bisa diabaikan: listrik dalam jumlah sangat besar. Ketika perusahaan teknologi berlomba membangun model AI yang semakin canggih, kebutuhan pusat data ikut melonjak. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik data center dunia akan hampir dua kali lipat dari 485 TWh pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Bahkan konsumsi listrik data center yang berfokus pada AI diperkirakan tumbuh sekitar tiga kali lipat dalam periode tersebut.
Di balik kebutuhan tersebut muncul peluang bisnis yang tidak kalah menarik. Perusahaan listrik, pembangkit energi, penyedia jaringan, baterai, sistem pendingin hingga teknologi microgrid mulai ikut menikmati efek domino ledakan AI. Bahkan Reuters melaporkan perusahaan infrastruktur seperti Vertiv semakin agresif masuk ke bisnis yang membantu data center mendapatkan pasokan listrik dan sistem pendingin. Jadi, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari AI: perusahaan pembuat modelnya atau perusahaan yang memasok listrik untuk menjalankannya?
1. Data Center AI Sedang Mengubah Peta Bisnis Listrik
Selama ini pembicaraan tentang AI hampir selalu berputar pada chip, model bahasa, aplikasi, atau perusahaan seperti OpenAI. Padahal, semua teknologi tersebut membutuhkan tempat untuk menjalankan komputasi. Data center membutuhkan server dalam jumlah besar dan server tersebut menghasilkan panas sehingga sistem pendingin juga harus bekerja terus-menerus. Semakin besar kapasitas komputasi, semakin besar pula kebutuhan energinya. Inilah alasan mengapa pertumbuhan AI mulai menjadi persoalan bisnis energi, bukan hanya persoalan teknologi.
IEA memperkirakan konsumsi listrik data center global akan mencapai sekitar 950 TWh pada 2030, setara hampir 3% konsumsi listrik dunia. Pertumbuhannya juga jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan konsumsi listrik sektor lainnya. Bahkan IEA memperkirakan konsumsi listrik dari server yang dipercepat, yang terutama didorong penggunaan AI, tumbuh sekitar 30% per tahun dalam skenario dasarnya. Angka tersebut membuat listrik berubah menjadi salah satu fondasi utama perlombaan AI. Tanpa listrik yang cukup, model AI secanggih apa pun tidak bisa berjalan.
2. Perusahaan Energi Mendapat Peluang Baru
Ledakan kebutuhan listrik berarti ada bisnis baru yang bisa tumbuh di belakang industri AI. Data center membutuhkan pasokan yang stabil karena gangguan listrik dapat mengganggu operasi yang sangat mahal. Hal tersebut membuka peluang bagi perusahaan pembangkit, operator jaringan, penyedia baterai, sistem penyimpanan energi, dan teknologi microgrid. Bahkan perusahaan yang sebelumnya tidak dianggap sebagai bagian dari industri teknologi kini dapat menjadi pemasok penting bagi perusahaan AI. Dengan kata lain, demam AI sedang menciptakan rantai bisnis baru di sektor energi.
IEA memperkirakan sumber energi terbarukan akan memenuhi hampir setengah tambahan kebutuhan listrik data center selama lima tahun ke depan, disusul gas dan batu bara, sementara energi nuklir semakin berperan menuju akhir dekade. Reuters juga melaporkan bahwa meningkatnya kebutuhan data center mendorong perusahaan seperti Vertiv memperluas bisnis microgrid dan sistem distribusi daya. Jadi peluangnya bukan hanya menjual listrik. Perusahaan juga bisa menghasilkan uang dari peralatan yang membuat listrik tersebut sampai ke data center dengan lebih cepat dan andal.
3. Amerika Bisa Jadi Pasar Energi AI Terbesar
Amerika Serikat menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai perubahan tersebut. Lawrence Berkeley National Laboratory memperkirakan data center mengonsumsi sekitar 176 TWh listrik pada 2023, atau 4,4% konsumsi listrik Amerika Serikat. Dalam pembaruan 2025, laboratorium tersebut memperkirakan porsinya dapat mencapai 11,8% konsumsi listrik AS pada 2030, dengan rentang skenario 9,5% hingga 15,3%. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya data center berubah dari konsumen listrik biasa menjadi salah satu sumber pertumbuhan permintaan listrik.
Masalahnya, membangun pembangkit dan jaringan listrik tidak bisa dilakukan secepat membangun aplikasi AI. IEA menyebut pembangunan infrastruktur energi membutuhkan perencanaan panjang, investasi besar, serta waktu pembangunan yang lebih lama dibanding pengembangan data center. Kesenjangan waktu ini menciptakan peluang sekaligus risiko bagi bisnis energi. Perusahaan yang mampu menyediakan kapasitas listrik lebih cepat dapat memperoleh posisi strategis ketika permintaan melonjak. Tetapi jika proyeksi kebutuhan AI terlalu optimistis, investasi infrastruktur yang terlalu besar juga bisa berubah menjadi masalah.
Jadi, Siapa yang Paling Cuan dari Ledakan AI?
Jawabannya mungkin bukan hanya perusahaan pembuat AI. Ketika kebutuhan listrik meningkat, perusahaan yang menyediakan infrastruktur di belakangnya ikut mendapatkan pasar baru. Reuters melaporkan beberapa perusahaan perangkat listrik dan pendingin mengalami peningkatan permintaan karena pembangunan data center yang didorong AI. Bahkan Berkshire Hathaway melihat meningkatnya kebutuhan listrik data center sebagai peluang bagi bisnis energinya, dengan CEO Greg Abel menyoroti hubungan antara pertumbuhan AI dan kebutuhan listrik.
Namun peluang tersebut tidak berarti semua perusahaan energi otomatis akan untung besar. IEA memperingatkan adanya bottleneck pada rantai pasok energi dan peralatan yang dapat memperlambat pembangunan data center. Di sisi lain, sejumlah proyek permintaan listrik data center juga mulai dipertanyakan karena ada permintaan kapasitas yang belum tentu benar-benar terealisasi. Reuters melaporkan Texas bahkan menghentikan sementara koneksi jaringan baru untuk data center dan melakukan audit terhadap permintaan listrik yang diajukan. Artinya, AI memang menciptakan peluang besar bagi bisnis energi, tetapi uangnya tidak datang tanpa risiko.
Penutup
Ledakan AI ternyata membawa cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar perlombaan membuat chatbot terbaik. Di belakang setiap model AI ada data center, dan di belakang data center ada listrik, jaringan, pendingin, baterai, pembangkit, serta infrastruktur yang nilainya bisa sangat besar.
IEA memperkirakan konsumsi listrik data center hampir dua kali lipat menuju 2030. Itu berarti kebutuhan energi akan menjadi salah satu medan pertempuran berikutnya dalam ekonomi AI.
AI mungkin menjadi wajah revolusi teknologi. Tetapi perusahaan energi bisa saja menjadi salah satu pihak yang paling diam-diam menikmati uang dari revolusi tersebut.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI membutuhkan listrik. Pertanyaannya: siapa yang akan menjadi pemasok listrik ketika kebutuhan AI tidak berhenti tumbuh?
Sumber Referensi
- IEA – Energy and AI: Energy Demand from AI
https://www.iea.org/reports/energy-and-ai/energy-demand-from-ai - Lawrence Berkeley National Laboratory – 2025 United States Data Center Energy Usage Report
https://seta.lbl.gov/publications/united-states-data-center-energy-2025 - Reuters – AI dan Ledakan Infrastruktur Data Center
Reuters – Power and cooling companies ride the AI data-center boom
