Garap Media – Artificial intelligence atau AI bukan lagi sekadar teknologi untuk menjawab pertanyaan, membuat gambar, atau membantu menulis kode. Di balik layar, AI sedang membentuk salah satu perebutan nilai ekonomi terbesar dalam sejarah teknologi. Karena itu, pertanyaannya kini bukan hanya seberapa pintar AI, tetapi siapa yang akan menguasai uang yang dihasilkan AI.
McKinsey memperkirakan generative AI berpotensi menciptakan nilai ekonomi sebesar US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun setiap tahun dari berbagai penggunaan bisnis. Angka tersebut membuat AI terlihat seperti mesin ekonomi baru. Namun, nilai ekonomi yang tercipta tidak otomatis berarti uangnya akan terbagi rata kepada perusahaan, pekerja, dan masyarakat.
Triliunan Dolar Sedang Diperebutkan
Potensi ekonomi AI berasal dari kemampuannya meningkatkan produktivitas manusia. Misalnya, perusahaan dapat menggunakan AI untuk mempercepat pemrograman, layanan pelanggan, pemasaran, riset, analisis data, hingga pekerjaan administratif. Menurut McKinsey, sekitar 75 persen nilai potensial generative AI terkonsentrasi pada empat area. Area tersebut adalah operasi pelanggan, pemasaran dan penjualan, rekayasa perangkat lunak, serta penelitian dan pengembangan.
Namun, angka triliunan dolar tersebut tidak boleh dibaca sebagai uang tunai yang akan langsung masuk ke rekening dunia. Sebaliknya, angka itu merupakan estimasi nilai ekonomi yang dapat muncul dari peningkatan produktivitas dan penggunaan AI. Oleh sebab itu, pihak yang mendapatkan bagian terbesar akan sangat bergantung pada kepemilikan teknologi, infrastruktur, data, modal, dan talenta. Kemampuan perusahaan mengubah peningkatan produktivitas menjadi keuntungan juga akan menjadi faktor penting.
Pemilik Infrastruktur Punya Posisi Istimewa
Di era AI, kekuatan tidak hanya berada pada perusahaan yang membuat chatbot atau model bahasa. Di belakang setiap model besar terdapat kebutuhan terhadap chip, pusat data, energi, jaringan cloud, serta kapasitas komputasi dalam jumlah sangat besar. Bahkan, Stanford AI Index 2026 mencatat kapasitas komputasi AI global telah tumbuh sekitar 3,3 kali lipat per tahun sejak 2022. Kapasitas tersebut mencapai sekitar 17,1 juta ekuivalen H100.
Dengan demikian, muncul lapisan baru dalam ekonomi AI. Perusahaan yang menyediakan chip dan komputasi dapat memperoleh manfaat ketika pengguna akhir bahkan belum menghasilkan keuntungan besar dari AI. Stanford juga mencatat Nvidia menyumbang lebih dari 60 persen total kapasitas komputasi yang dihitung dalam laporan tersebut. Google dan Amazon juga menjadi penyedia besar lainnya. Artinya, perlombaan AI bukan hanya tentang siapa yang memiliki model paling pintar, tetapi juga siapa yang menguasai mesin yang membuat model tersebut berjalan.
Perusahaan AI Mulai Mengubah Investasi Menjadi Pendapatan
Uang besar mulai bergerak mengikuti perkembangan tersebut. Stanford AI Index 2026 mencatat investasi korporasi global untuk AI meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2025. Investasi swasta tumbuh 127,5 persen dan menyumbang sekitar 60 persen dari total investasi, sementara pendanaan untuk generative AI meningkat lebih dari 200 persen.
Amerika Serikat masih menjadi pusat utama modal AI. Data Stanford menunjukkan investasi AI swasta AS mencapai US$285,9 miliar pada 2025, lebih dari 23 kali investasi swasta China sebesar US$12,4 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertarungan ekonomi AI juga merupakan pertarungan modal, karena perusahaan yang memiliki akses pendanaan lebih besar dapat membangun model, pusat data, dan ekosistem produk dalam skala yang sulit ditandingi pemain kecil.
Lalu, Bagaimana dengan Pekerja?
Di sinilah pertanyaan tentang distribusi keuntungan AI menjadi jauh lebih penting. Jika perusahaan mampu menghasilkan output yang sama dengan lebih sedikit waktu dan tenaga, produktivitas memang meningkat. Namun, keuntungan tersebut dapat digunakan untuk menaikkan upah, menurunkan harga, memperbesar investasi, meningkatkan keuntungan pemegang saham, atau mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Dampaknya juga tidak akan sama di setiap negara. IMF memperkirakan AI dapat memengaruhi sekitar 33 persen pekerjaan di negara maju, 24 persen di negara berkembang, dan 18 persen di negara berpendapatan rendah. Pada saat yang sama, IMF menilai AI memiliki potensi meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan baru, serta melahirkan industri baru.
Negara dan Masyarakat Tak Boleh Hanya Menjadi Konsumen
Persoalan terbesar bagi negara berkembang adalah risiko hanya menjadi pasar bagi teknologi AI yang dibuat negara lain. Jika model, chip, cloud, data center, dan modal berada di luar negeri, sebagian besar nilai ekonomi juga berpotensi mengalir keluar. Negara yang hanya menggunakan AI tanpa membangun talenta dan industrinya sendiri bisa menikmati manfaat produktivitas, tetapi belum tentu mendapatkan bagian terbesar dari rantai nilai.
Karena itu, investasi pendidikan, infrastruktur digital, riset, data, dan perusahaan teknologi lokal menjadi semakin penting. Stanford mencatat strategi AI nasional terus berkembang di berbagai negara, sementara pembangunan superkomputer AI yang didukung pemerintah juga meningkat. Masa depan ekonomi AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mempunyai teknologi terbaik, tetapi juga siapa yang mampu membangun ekosistem di sekitarnya.
Peluang Besar Justru Ada di Tengah Perubahan
Meski kekhawatiran mengenai konsentrasi kekayaan sangat nyata, AI juga membuka pintu bagi pemain baru. Seorang individu dengan laptop dan koneksi internet kini dapat menggunakan teknologi yang sebelumnya hanya tersedia bagi perusahaan besar. Pengusaha kecil dapat mengotomatisasi pekerjaan administratif, membuat materi pemasaran, menganalisis data, hingga mengembangkan produk dengan biaya yang lebih rendah.
Inilah sisi paling menarik dari revolusi AI. Triliunan dolar tersebut mungkin memang akan banyak mengalir kepada perusahaan yang menguasai infrastruktur, tetapi sebagian nilainya dapat menyebar melalui jutaan bisnis dan pekerja yang mampu menggunakan AI secara produktif. Stanford bahkan mencatat adopsi generative AI telah mencapai 53 persen dalam tiga tahun, lebih cepat dibandingkan personal computer maupun internet pada periode awalnya.
Penutup
AI sedang menciptakan perlombaan ekonomi baru dengan hadiah yang nilainya mencapai triliunan dolar. Namun, uang tersebut tidak akan otomatis menjadi milik semua orang hanya karena AI tersedia untuk publik. Mereka yang menguasai chip, cloud, data, modal, model, distribusi, dan talenta memiliki posisi lebih kuat untuk menangkap nilai terbesar.
Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang menguasai uang AI?” mungkin menjadi salah satu pertanyaan ekonomi paling penting dalam dekade ini. Jawabannya belum final, karena permainan masih berlangsung. Yang jelas, perusahaan dan negara yang hanya menjadi penonton berisiko kehilangan kesempatan, sementara mereka yang mampu mengubah AI menjadi produktivitas, bisnis, dan inovasi memiliki peluang untuk ikut menentukan siapa yang mendapatkan bagian dari ekonomi triliunan dolar tersebut.
Sumber Referensi
- Stanford AI Index 2026 – Economy
https://hai.stanford.edu/ai-index/2026-ai-index-report/economy (Stanford HAI) - McKinsey – Economic Potential of Generative AI
https://www.mckinsey.com/capabilities/tech-and-ai/our-insights/the-economic-potential-of-generative-ai-the-next-productivity-frontier (McKinsey & Company) - IMF – AI and Global Economic Readiness
https://www.imf.org/en/Blogs/Articles/2024/06/25/mapping-the-worlds-readiness-for-artificial-intelligence-shows-prospects-diverge (IMF) - Stanford AI Index 2026 – Policy and Governance
https://hai.stanford.edu/ai-index/2026-ai-index-report/policy-and-governance (Stanford HAI)
