Garap Media – Selama bertahun-tahun, persaingan teknologi dunia identik dengan Silicon Valley dan perusahaan Amerika. Namun, peta tersebut berubah dengan cepat. China kini bukan hanya pusat manufaktur global. Negara ini juga membangun kekuatan teknologi di sejumlah sektor strategis.
Perubahan itu terlihat pada AI, robotika, drone, kendaraan listrik, dan semikonduktor. Karena itu, persaingan kedua negara semakin kompleks. Sejumlah analis melihat perlombaan ini bukan sekadar soal produk canggih. Perebutan rantai pasok dan teknologi masa depan juga menjadi bagian penting.
1. AI China Mulai Mengejar Silicon Valley
AI menjadi salah satu medan persaingan paling panas antara China dan Amerika Serikat. Perusahaan seperti DeepSeek, Alibaba, dan Moonshot AI terus mengembangkan model yang kompetitif. Selain itu, pendekatan open-weight membuat beberapa model China lebih mudah digunakan dan dikembangkan oleh pihak lain. Perkembangan tersebut membuat keunggulan Amerika dalam AI tidak lagi terlihat mutlak.
Namun, kekuatan China tidak berhenti pada chatbot. AI juga mulai digunakan dalam manufaktur, kendaraan, robotika, dan sistem pertahanan. Data menjadi salah satu aset penting dalam pengembangan teknologi tersebut. Karena itu, kemampuan mengumpulkan dan mengolah data dapat memengaruhi perkembangan AI di berbagai sektor.
2. Drone China Menguasai Langit
Drone mungkin terlihat seperti produk konsumen biasa. Padahal, teknologinya memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar. China telah membangun industri drone yang sangat kuat. Produknya mencakup perangkat untuk pemetaan, pertanian, logistik, pengawasan, hingga pertahanan.
Kekuatan manufaktur tersebut membuat negara lain menghadapi tantangan saat ingin mengurangi ketergantungan pada China. Amerika Serikat pun mengambil langkah lebih agresif. Pada September 2026, pemerintah AS memberlakukan tarif hingga 100 persen untuk kategori drone dan komponen tertentu dari luar negeri. Kebijakan itu menunjukkan bahwa drone kini dipandang sebagai bagian dari persaingan teknologi strategis.
3. Robotika Menjadi Senjata Industri Baru
China juga memiliki kekuatan besar dalam robotika. Negara tersebut tidak hanya memproduksi robot industri dalam jumlah besar, tetapi juga mempercepat pengembangan robot humanoid dan robot berkaki empat. Reuters melaporkan China menyumbang sekitar 95 persen pengiriman robot humanoid global pada 2025, sebuah angka yang menggambarkan besarnya skala industri robotika China.
Yang lebih menarik adalah kemampuan China mengubah teknologi tersebut menjadi produk massal. Unitree Robotics menjadi salah satu contoh perusahaan yang berhasil membawa robot berkaki empat dari laboratorium ke pasar dengan skala jauh lebih besar. Perkembangan seperti ini memperlihatkan keunggulan China bukan hanya dalam menciptakan teknologi, tetapi juga dalam memproduksi dan mengkomersialkannya dengan cepat.
4. Kendaraan Listrik dan Baterai Mengubah Industri Otomotif
Kendaraan listrik menjadi contoh lain bagaimana China mampu menggabungkan teknologi, manufaktur, baterai, dan skala produksi. Perusahaan seperti BYD menunjukkan bahwa persaingan mobil listrik tidak lagi hanya ditentukan oleh merek otomotif tradisional dari Amerika, Jepang, atau Eropa. China memiliki ekosistem yang mencakup kendaraan, baterai, komponen, hingga rantai pasok energi yang saling terhubung.
Keunggulan tersebut menjadi semakin penting karena baterai merupakan komponen utama kendaraan listrik sekaligus teknologi yang dibutuhkan untuk penyimpanan energi. Riset RSIS pada September 2026 menyebut China telah mencapai posisi kuat dalam drone, kendaraan listrik, baterai, dan panel surya, sementara keberhasilan tersebut didorong oleh kombinasi transfer teknologi, skala industri, dan kebijakan industrial.
5. Semikonduktor Menjadi Pertarungan yang Belum Selesai
Semikonduktor mungkin merupakan senjata teknologi paling penting karena hampir seluruh revolusi digital bergantung padanya. AI, smartphone, kendaraan listrik, robot, pusat data, dan sistem pertahanan membutuhkan chip. Amerika memahami posisi strategis tersebut sehingga pembatasan ekspor teknologi chip canggih menjadi salah satu alat utama Washington untuk membatasi kemampuan China.
Namun China tidak tinggal diam. Perusahaan seperti Enflame, Moore Threads, MetaX, dan Biren mulai membangun alternatif lokal untuk chip AI dan ekosistem software yang selama ini didominasi Nvidia. Reuters melaporkan pangsa Nvidia di pasar chip AI China telah turun menjadi sekitar 55 persen dari posisi yang sebelumnya mendekati monopoli, sementara perusahaan lokal terus mendapatkan dukungan dan momentum.
China Tidak Menang di Semua Teknologi
Meski perkembangan tersebut mengesankan, mengatakan China telah mengalahkan Amerika di semua bidang teknologi juga terlalu sederhana. Amerika masih mempunyai keunggulan penting dalam sejumlah teknologi frontier, modal ventura, perusahaan AI terkemuka, dan ekosistem inovasi. Bahkan dalam semikonduktor tercanggih, China masih menghadapi hambatan besar akibat keterbatasan akses terhadap sejumlah peralatan dan teknologi manufaktur mutakhir.
Justru karena itulah persaingan menjadi semakin menarik. China tidak harus memenangkan seluruh perlombaan untuk mengubah keseimbangan teknologi dunia. Jika Beijing berhasil unggul dalam beberapa sektor seperti drone, baterai, robotika, kendaraan listrik, dan AI yang efisien, kekuatan tersebut sudah cukup untuk menciptakan pengaruh ekonomi dan strategis yang besar. Amerika pada akhirnya harus menghadapi pesaing yang memiliki kekuatan berbeda, bukan sekadar meniru Silicon Valley.
Pertarungan Sebenarnya Ada di Balik Produk
Lima teknologi tersebut memiliki satu kesamaan penting: China memiliki kemampuan untuk menghubungkan penelitian dengan manufaktur dalam skala sangat besar. Inilah salah satu alasan mengapa perusahaan asing kini semakin tertarik melihat langsung ekosistem teknologi China. Reuters melaporkan investor dan pengusaha global bahkan mulai melakukan kunjungan ke pusat teknologi seperti Shenzhen untuk memahami perkembangan AI, robotika, kendaraan listrik, dan manufaktur China.
Persaingan ini juga membuat dunia semakin terpecah ke dalam ekosistem teknologi yang berbeda. BCG memperingatkan bahwa Amerika dan China sedang membentuk dua tech stack yang semakin berbeda, sementara negara-negara lain harus menentukan bagaimana mereka akan berhubungan dengan kedua ekosistem tersebut. Bagi negara berkembang, situasi ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang karena mereka dapat memilih teknologi berdasarkan harga, kemampuan, keamanan, dan kepentingan nasional.
Penutup
China mungkin belum menguasai seluruh teknologi masa depan, tetapi lima sektor tersebut menunjukkan mengapa Amerika tidak bisa lagi menganggapnya hanya sebagai pesaing manufaktur. AI, drone, robotika, kendaraan listrik, baterai, dan semikonduktor kini menjadi bagian dari perlombaan teknologi yang menentukan arah ekonomi global.
Pertarungan berikutnya kemungkinan tidak akan dimenangkan hanya oleh negara yang mempunyai teknologi paling canggih. Pemenangnya adalah negara yang mampu menggabungkan riset, modal, manufaktur, talenta, energi, dan pasar menjadi satu ekosistem yang bergerak cepat. Dan jika China terus berhasil mengubah inovasi menjadi produksi massal, Amerika akan menghadapi lawan yang bukan hanya pintar menciptakan teknologi, tetapi juga sangat kuat dalam membuat teknologi tersebut menyebar ke seluruh dunia.
Sumber Referensi
- Reuters – China’s AI Chipmakers
https://www.reuters.com/commentary/breakingviews/chinas-ai-dragons-breathe-fire-nvidias-moat-2026-09-07/ - BCG – US and China AI Divide
https://www.bcg.com/publications/2026/us-and-china-ai-strategy-causing-global-ai-divide - RSIS – China’s Technology Catch-Up
https://rsis.edu.sg/rsis-publication/rsis/why-some-gaps-close-and-others-persist-chinas-selective-industrial-catch-up/ - US-China Economic and Security Review Commission – China Data and AI
https://www.uscc.gov/
